Akademika

ANALISIS STILISTIKA “PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI”


PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI

Sapardi Djoko Damono

 

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon

itu, “aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”

kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas. “jangan brisik, mengganggu hujan!”

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,

hardiknya, “lepaskan daun itu!”

(Perahu Kertas: Kumpulan Sajak, 1983)

 

KESEDERHANAAN MAKNA

Sajak di atas memiliki tipografi seperti cerpen. Ada dialog-dialog antar tokoh yang tertulis secara eksplisit. Sejumlah puisi Sapardi memang memiliki ciri tersebut, tidak hanya ditunjukkan dalam puisi ini tetapi juga dalam beberapa puisi lain, misalnya Perahu Kertas.

Perahu Kertas

 

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

 

Puisi di atas merupakan puisi yang judulnya dijadikan sebagai judul kumpulan puisi Sapardi pada tahun 1983, yang salah satunya juga memuat Puisi Cat Air Untuk Rizki. Dalam Puisi Cat Air Untuk Rizki, ada empat tokoh yang digambarkan secara eksplisit, yaitu daun, kabel telepon, angin, dan hujan. Tokoh-tokoh tersebut dapat berbicara seperti halnya manusia. Hujan bisa menghardik, kabel telepon bisa memperingatkan, dan angin bisa berkata ingin mempermainkan daun. Sebenarnya, bila diperhatikan puisi ini melukiskan sebuah peristiwa sederhana yang barangkali sering luput dari perhatian kita. Ada selembar daun jatuh, lalu tersangkut kabel telepon dan bergoyang-goyang terkena tiupan angin.

Dilihat dari sisi peristiwa yang dilukiskan, Puisi Cat Air Untuk Rizki ini seolah hidup dalam permainan kata-kata saja. Penyair tampak asyik dengan proses merangkai kata dan menyusunnya menjadi sebuah cerita tanpa memikirkan makna atau ajaran apa yang ingin disampaikan. Adakalanya, seorang penyair memang tidak bisa mengelak dari kecenderungan untuk menjadi seperti anak kecil. Terhadap puisinya ini Sapardi mengatakan,

Seperti anak kecil, saya asyik bermain-main dengan kata; dan sewaktu di dalamnya tersusun suatu peristiwa, saya pun begitu terpesona oleh peristiwa itu, sehingga tidak peduli apakah di dalamnya terkandung makna atau tidak. Jelas saya tidak berkehendak mengajarkan apapun; saya hanya merasa sangat akrab dengan dunia rekaan itu. Rangkaian citra yang tersusun menjadi peristiwa dalam sajak itu begitu menonjol, sehingga seolah-olah bisa menjadi penting tanpa makna. Sajak itu merupakan sebuah dunia yang dilihat oleh penyair sebagai anak kecil; saya hanyut dalam permainan, sehingga tidak merasa perlu mempertimbangkan lambang-lambang yang mungkin ada di dalamnya. (Eneste, 2009: 167-168)

 

Sapardi tidak ingin menjadi seorang nabi yang berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca. Tanpa pretensi untuk mengajarkan apapun, ia merasa tidak perlu untuk mempertimbangkan segala macam makna kata dan lambang-lambang dalam puisinya. Inilah salah satu ciri puisi di era modernisme, puisi tidak harus dibebani dengan berbagai gagasan. Namun, tidak berarti bahwa kesederhanaan lukisan peristiwa dalam puisi ini membuatnya kehilangan makna. Sebuah gambaran suasana yang sederhana di tangan penyair bisa menjadi bermakna. Di balik kesederhanaan tersebut, satu pelajaran yang bisa ditarik dari keseluruhan peristiwa yang dilukiskan, yaitu perlakukanlah segala sesuatu sebagaimana mestinya.

Daun yang seharusnya gugur lalu jatuh ke tanah, biarkanlah jatuh. Dalam puisi tersebut, ketika daun jatuh tersangkut di kabel telepon, angin ingin mempermainkannya. Ia lalu diperingatkan oleh kabel telepon dan dihardik oleh hujan agar melepaskan daun tersebut. Dalam kehidupan nyata, hal ini juga berlaku bagi setiap makhluk hidup. Perlakukanlah manusia, binatang, atau juga tumbuhan, sesuai dengan tempatnya. Makna di atas terlihat sangat sederhana, tapi berlaku universal dalam kehidupan umat manusia.

 

DIKSI DAN BAHASA KIAS

Stylistic, simply defined as the (linguistic) study of style. Menurut Leech, secara sederhana stilistika mempelajari tentang gaya termasuk di dalamnya merujuk pada penggunaan bahasa sebagai kode estetik, sebagai hasil kreasi seni yang memiliki makna dan ciri semantis tertentu. Dalam menulis puisi ini, Sapardi begitu asyik dengan permainan kata-kata. Namun, pemilihan kosakata yang barangkali muncul secara spontan dalam benak penyair tersebut menarik untuk dianalisis, termasuk pemilihan kosakata pada judul puisi. //Puisi Cat Air untuk Rizki//. Dua pertanyaan yang paling mungkin terlontar setelah membaca judul di atas adalah, mengapa ‘puisi cat air’ ? Selain itu, mengapa dan siapa ‘Rizki’ ?

Puisi tersebut merupakan sebuah puisi yang berisi gambaran peristiwa, suatu lukisan kejadian alam. Pencitraan dalam puisi ini juga begitu kuat sehingga benda-benda mati yang ditampilkan terkesan hidup. Oleh karena itu, tak mengherankan bila penyair memberi judul //puisi cat air//. Cat air merupakan media yang sering digunakan untuk melukis. Lukisan dengan media berupa cat air biasanya terlihat sederhana dan natural. Jadi, dengan judul ini, barangkali penyair ingin mengatakan bahwa puisi ini merupakan gambaran/lukisan kehidupan yang sederhana. Ketika membaca puisi ini, pembaca seolah sedang menyaksikan sebuah lukisan peristiwa alam.

Seorang penyair tentu juga memiliki alasan mengapa ia memilih kosakata atau nama tertentu. Dalam judul puisi ini, Sapardi memunculkan sebuah nama, yaitu Rizki. Apakah penyair memiliki seorang anak bernama Rizki dan puisi ini ditujukan untuk anaknya tersebut? Ataukah barangkali Rizki hanya sebuah nama yang terlintas begitu saja dalam benak penyair ketika ia menulis puisi ini? Ada banyak kemungkinan untuk pertanyaan mengapa penyair memilih nama Rizki sebagai peruntukan puisi ini. Sejauh ini penulis belum menemukan siapakah kira-kira Rizki yang dimaksud oleh penyair dalam puisi ini.

Namun, jika melihat puisi-puisi Sapardi lainnya, nama Rizki ini tidak hanya muncul sekali dalam Puisi Cat Air Untuk Rizki. Nama Rizki juga menjadi peruntukan dalam puisi Gonggong Anjing untuk Rizki. Puisi Gonggong Anjing Untuk Rizki ini terdapat dalam satu kumpulan puisi yang sama dengan Puisi Cat Air Untuk Rizki, yaitu dalam kumpulan puisi Perahu Kertas (1983). Perhatikan puisi di bawah ini.

GONGGONG ANJING

untuk Rizki

 

gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur

lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah

menyusup lewat celah-celah genting

bergema dalam kamar demi kamar

tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki

siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?” tanya sunyi

 

Tampaknya nama Rizki ini begitu lekat dalam benak penyair, sampai-sampai ada dua puisinya yang menggunakan nama tersebut. Hal itu tentu saja bukan merupakan suatu hal yang bersifat kebetulan. Namun demikian, dalam proses pemaknaan kata-kata dalam teks sastra ada kemungkinan seseorang melakukan referensi tanpa referen, melakukan penggambaran tanpa harus menggambarkan dunia acuan. Misalnya, dalam kasus puisi Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Salam untuk Heidegger. Heidegger dalam puisi ini tidak serta merta merujuk pada seseorang yang bernama Heidegger, tetapi pada pemikiran yang dikembangkan oleh filsuf bernama Heidegger.

Demikian pula kaitannya dengan nama Rizki. Bisa jadi, penyair menggunakan nama Rizki untuk menggambarkan seorang anak kecil. Jadi, dalam benak penyair telah terpatri konsep bahwa seorang anak kecil cocok dengan nama Rizki. Nama Rizki apabila diucapkan terasa ringan dan mudah. Secara tidak sadar manusia kadang melakukan hal itu, mengaitkan suatu nama tertentu dengan ciri tertentu. Seperti halnya nama Kromo yang cocok untuk nama seorang lelaki tua, atau nama Paimin, Pariyem, Paino, dan Parman yang cocok untuk nama seorang rakyat kecil.

Dalam stilistika, penggunaan nama untuk menyampaikan konsep atau ciri tertentu disebut eponim. Hal ini merupakan suatu kemungkinan, karena apabila kita kembali pada dua puisi yang sama-sama menggunakan kata Rizki di atas, kita melihat bahwa penggambaran puisi tersebut sederhana dan sesuai dengan apa yang dapat dicerna oleh seorang anak kecil. Daun, angin, dan hujan dapat berbicara seperti dalam fabel. Seorang anak kecil akan mudah memahami cerita yang diceritakan dalam bentuk fabel. Demikian pula dalam puisi kedua, kita menjumpai frasa //tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki//.

Selain kosakata, untuk mendapatkan kepuitisan seorang penyair memanfaatkan bahasa kiasan (figurative language) dalam puisinya. Kajian retorik memilah figurative language ke dalam dua jenis, yaitu figure of thought yang terkait dengan cara pengolahan dan pembayangan gagasan, serta rhetorical figure yang terkait dengan cara penataan kata-kata dalamkonstruksi kalimat. Dalam pembahasan ini, bahasa kias yang dimaksud adalah yang pertama, yaitu bahasa kias yang berkaitan dengan cara pengolahan atau pembayangan gagasan dalam puisi.

Bahasa kiasan yang paling jelas terlihat dalam puisi di atas adalah personifikasi. Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir, dan sebagainya seperti manusia. Angin, kabel telepon, dan hujan digambarkan dapat berbicara dan bertindak seperti manusia. Hampir seluruh lukisan peristiwa dalam puisi ini terjalin menggunakan bahasa kias personifikasi.

Berikut ini merupakan bahasa kias personifikasi yang terdapat dalam puisi di atas, yaitu angin berbisik, kabel telepon memperingatkan, angin memungut daun dan memiliki jari-jari, hujan meludah, serta hujan menatap angin dengan tajam. Selain itu, benda-benda di atas juga digambarkan dapat memiliki perasaan karena angin dapat rindu kepada daun dan hujan dapat marah kepada angin. Gejala ini disebut juga gejala antroposentris. Hal ini membuat penggambaran situasi menjadi lebih hidup, memberi kekuatan deskripsi, dan memberikan bayangan angan yang konkret kepada pembaca.

Bahasa kias lainnya adalah bahasa kias sinestesia. Hal ini tampak dalam bait terakhir puisi ini.

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,

hardiknya, “lepaskan daun itu!”

 

Sinestesia merupakan bahasa kias yang ditandai dengan pergeseran rangsang indera. Misalnya, manis yang seharusnya dirasakan oleh indera pengecap, berubah menjadi dirasakan oleh indera pendengaran. Dalam puisi tersebut, dijumpai kata /dengan tajam/. Tajam seharusnya merupakan rangsangan yang diterima oleh indera peraba, namun dalam puisi ini tajam dirasakan oleh indera penglihatan, yaitu berbunyi /menatap angin dengan tajam/.

Bahasa kias metafora juga tampak dalam puisi ini. //hujan meludah di ujung gang// Baris ini memuat sebuah metafora. Hujan turun digambarkan dengan hujan meludah. Adanya metafora ini berfungsi untuk semakin menguatkan gejala antroposentris yang terjadi. Kehadiran satu bahasa kias mendukung bahasa kias yang lain. Apabila dikatakan hujan turun, hal itu sudah lazim sebagaimana adanya. Namun, ketika dinyatakan hujan meludah, personifikasi dalam puisi ini menjadi semakin dominan.

Puisi ini juga kaya akan berbagai jenis pencitraan, khususnya citra penglihatan, pendengaran, dan gerak (kinaesthetic imagery). Citra penglihatan adalah pencitraan yang paling dominan. Hal itu sesuai dengan puisi ini yang merupakan deskripsi lukisan peristiwa. Keseluruhan puisi tampaknya dibentuk oleh pencitraan ini. Pembaca diibaratkan sebagai orang yang menyaksikan terjadinya peristiwa. Kita tidak bisa memisahkan kata apa yang menandakan secara langsung citraan penglihatan, tapi dari puisi ini kita seolah disuguhkan untuk melihat satu lukisan peristiwa.

Selain itu, citra pendengaran terlihat dalam setiap percakapan antar tokoh pada puisi ini. Citraan pendengaran dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara. Misalnya, //“aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”//, //“jangan brisik, mengganggu hujan!”//, //“lepaskan daun itu!”//. Tidak hanya yang berupa dialog secara langsung, kata-kata seperti berbisik, hardiknya, dan memperingatkan juga menandai citraan penglihatan. Antara citraan penglihatan dan pendengaran tidak digunakan secara terpisah, tetapi saling menguatkan untuk membuat gambaran dalam puisi ini menjadi lebih hidup.

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon

itu, “aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”

kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas. “jangan brisik, mengganggu hujan!”

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,

hardiknya, “lepaskan daun itu!”

 

Citraan yang terakhir adalah citraan gerak, yang menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak, ataupun gambaran gerak pada umumnya (Pradopo, 2007:87). Kata-kata seperti tersangkut, memungut dengan jari-jarinya gemas, meludah, lepaskan, merupakan sejumlah kosakata yang menunjukkan citraan gerak. Citraan gerak dalam puisi ini menyebabkan gambaran peristiwa menjadi lebih dinamis. Selain itu, citraan ini juga semakin menguatkan kehadiran bahasa kias personifikasi.

 

HUBUNGAN ANTAR SATUAN BAHASA

Dalam sebuah teks, rangkaian kalimat-kalimat tidak berdiri secara otonom. Masing-masing satuan bahasa tersebut saling mendukung untuk membentuk keseluruhan makna atau pesan. Demikian juga dalam teks yang berupa puisi. Sebuah puisi yang padu disusun oleh serangkaian kata yang saling mendukung untuk menciptakan makna dan unsur estetika.

  1. a.      Kohesi

Teks, termasuk puisi, adalah salah satu medium untuk berkomunikasi. Teks yang baik selayaknya merupakan suatu bentuk komunikasi yang bermakna (sensible communication). Oleh karena itu, diperlukan teks yang bersifat koheren, teguh dalam topik, dan tidak meloncat dari satu masalah ke masalah yang lain, yang oleh Halliday disebut kohesi (cohesion).

Teks-teks yang tertata secara baik menandai adanya kohesi karena berfokus pada topik yang terintegrasi dengan transisi (perpindahan) internal yang jelas. Prinsipnya, setiap kalimat sesudah kalimat pertama dihubungkan pada isi satu atau beberapa kalimat yang mendahuluinya setidaknya melalui satu ikatan. Ikatan tesebut dapat dibuat dengan beberapa unsur yang meringkas, mengulang, atau mengingat kembali sesuatu yang ditandai oleh predikat atau subjek pada kalimat sebelumnya.

Dalam sajak “Puisi Cat Air untuk Rizki” ini, kalimat-kalimat yang dibangun dihubungkan melalui beberapa jenis kohesi, yaitu sebagai berikut.

1)   Referensi (Acuan)

Referensi atau acuan adalah sebuah kata dalam kalimat sesudahnya, yang biasanya berwujud kata ganti (she, he, it) atau kata tunjuk (this, that), mengacu pada suatu tindakan atau entitas yang digambarkan dengan istilah lain pada kalimat sebelumnya. Berikut ini merupakan sejumlah referen yang tampak dalam puisi tersebut.

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon

itu, “aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”

kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas. “jangan brisik, mengganggu hujan!”

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,

hardiknya, “lepaskan daun itu!”

 

Dua buah kata aku dalam baris kedua bait pertama merujuk pada kata angin, sedangkan kata –mu merujuk pada daun jatuh. Pada bait kedua, kata –nya merujuk pada angin. Selanjutnya pada bait ketiga, kata ganti –nya merujuk pada hujan. Jadi, ada tiga referen dalam puisi ini, yaitu angin, daun, dan hujan. Kehadiran referen ini berefek pada kepadatan dan kelangsungan puisi. Dengan adanya referen, puisi menjadi lebih singkat dan padat, namun tetap tidak kehilangan makna yang ingin disampaikan. Adanya referen juga merupakan variasi penyair dalam bermain kata-kata.

 

2)   Elipsis

Elipsis merupakan sarana kohesif yang sangat penting dalam dialog, agar penulis berfokus pada topik tunggal dan latar belakang yang berhubungan dengan topik itu. Elipsis menyarankan kedekatan dan intensitas. Salah satu bagian kalimat yang mengulang frase atau gagasan yang secara eksplisit dinyatakan pada kalimat sebelumnya sengaja dihilangkan untuk membuat kalimat kedua bergantung pada kalimat pertama.

Elipsis tidak terlalu tampak dalam puisi singkat ini, kecuali pada bait kedua.

kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun […] itu dengan jari-jarinya […] gemas. “jangan brisik, […] mengganggu hujan!”

Ada beberapa kata yang dielipsis, yaitu kata jatuh yang seharusnya ada di tengah-tengah kata daun itu, kata yang pada pergantian baris pertama dan kedua, serta kata kamu pada dialog jangan berisik, mengganggu hujan. Apabila tidak dilakukan elipsis, kata-kata tersebut menjadi daun jatuh itu, karena pada bait sebelumnya, daun yang diacu adalah daun jatuh. Kalimat selanjutnya juga berbunyi jangan berisik, kamu mengganggu hujan, dengan kata kamu mengacu pada angin.

Selain itu, pada pergantian baris dalam bait kedua ini, ditemukan kata gemas yang seolah berdiri begitu saja. Persambungan kata ini dengan kata sebelumnya, yaitu jari-jarinya terasa cukup janggal, meskipun barangkali maksud penyair adalah untuk menegaskan efek dari rasa gemas. //…dengan jari-jarinya/gemas…// Banyak penyair yang menggunakan cara seperti ini untuk menegaskan maksudnya. Namun, apabila tidak dikenai elipsis seutuhnya kalimat tersebut berbunyi //…dengan jari-jarinya/yang gemas…//. Adanya elipsis, selain berfungsi agar terjadi adanya kerekatan hubungan antar kalimat, juga dapat menambah kepadatan dan kepuitisan sebuah puisi.

3)   Kohesi Leksikal

Berbagai kosakata yang ada dalam sebuah puisi, berimplikasi pada adanya dua macam kohesi tekstual, yaitu pengulangan leksikal dan kata-kata berkolokasi.

  1. Pengulangan Leksikal

Pengulangan leksikal cenderung hanya menggunakan kata penuh daripada kata ganti atau bentuk penggantian lainnya. Kata yang sama diulang pada kalimat berikutnya, baik untuk mengacu pada objek yang sama atau untuk mengacu pada contoh lain dari objek yang sejenis. Dalam puisi ini, terlihat adanya beberapa pengulangan leksikal, yaitu sebagai berikut.

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon

itu, “aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”

kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas. “jangan brisik, mengganggu hujan!”

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,

hardiknya, “lepaskan daun itu!”

 

Semua pengulangan leksikal yang terjadi merupakan pengulangan kata penuh. Dalam puisi ini, pengulangan leksikal menimbulkan satu harmonisasi karena diulang-ulang secara tepat. Penyair menyebut satu nama tertentu di akhir baris, kemudian mengulangnya di awal baris selanjutnya. Hal itu menyebabkan pertautan antar baris menjadi semakin padu dan terbentuknya persajakan.

  1. Kolokasi

Kata-kata yang berkolokasi adalah sejumlah anggota dari seperangkat leksikal yang sama muncul berdekatan karena teks cenderung bersifat kohesif untuk mempertahankan topik yang sama. Kata-kata tersebut muncul bersama-sama karena adanya kesamaan gagasan. Dalam puisi ini, gagasan yang ingin disampaikan adalah tentang penggambaran peristiwa daun jatuh lalu tersangkut di kabel telepon dan bergoyang-goyang ditiup angin. Pada saat itu cuaca sedang hujan.

Untuk mempertahankan gagasan tersebut, penyair memanfaatkan sejumlah kata berkolokasi yaitu angin, daun jatuh, tersangkut, kabel telepon, dan hujan. Kata-kata tersebut saling berhubungan dalam menjelaskan peristiwa yang digambarkan. Angin berkaitan dengan daun jatuh dan tersangkut. Sebuah daun menjadi gugur biasanya karena ditiup angin. Namun, apabila terhalang sesuatu, daun tersebut kemudian tersangkut, tidak gugur ke tanah. Hal itu juga bisa jadi berkaitan dengan kabel telepon, apabila tersangkutnya daun tersebut di kabel telepon. Kemudian muncul kata hujan, yang memberikan latar belakang cuaca bagi keseluruhan peristiwa yang dilukiskan.

4)   Konjungsi

Sekuen-sekuen kalimat berkoherensi – dan berkembang (progress) – melalui berbagai hubungan semantis antara sekuen-sekuen itu. Kutipan berikut ini, yang menggambarkan urutan temporal menunjukkan bahwa hubungan itu ditandai melalui klausa-klausa di dalam sebuah kalimat dan juga antar kalimat dalam sebuah teks. Secara implisit, puisi di atas memuat hubungan konjungsi sebab akibat. Hanya saja, tidak ada kata-kata penghubung yang secara langsung menunjukkan hubungan tersebut.

Perhatikan lukisan peristiwa yang terjadi berikut ini. Pertama, ada lukisan peristiwa angin ingin mempermainkan daun jatuh. Angin memungut daun jatuh tersebut dengan jari-jarinya. Hal itu membuat kabel telepon memperingatkan, ia memperingatkan angin agar tidak berisik dan mengganggu hujan. Namun, barangkali karena angin tidak mempedulikan peringatan kabel telepon, maka hujan menghardik dan menyuruh angin untuk melepaskan daun tersebut. Hujan marah dan menghardik karena angin ingin mempermainkan daun jatuh. Demikianlah, lukisan peristiwa di atas menunjukkan adanya hubungan kausalitas antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

  1. b.      Progresi

Selain diperlukan adanya kohesi, sebuah teks juga menuntut adanya progresi. Dalam arti, teks tidak mengulang masalah yang sama, tetapi menyajikan argumen yang dikembangkan atau naratif, terus maju atau menuju ke bagian selanjutnya. Kita mengharapkan bahwa proposisi-proposisi dalam teks yang kohesif tersusun ke dalam sekuen gagasan-gagasan yang progresif. Progresi ini biasa ditafsirkan sebagai pasangan kalimat-kalimat yang dihubungkan secara logis dan kronologis, sekalipun hubungan tersebut bersifat implisit. Progresi dapat dibagi menjadi dua, yaitu progresi temporal dan progresi spasial.

Progresi temporal biasanya ditandai dengan kata-kata seperti akhirnya, sejak itu, kini, dan kata lainnya yang menunjukkan hubungan waktu. Dalam puisi ini, tidak banyak kata-kata yang secara langsung menunjukkan progresi temporal. Progresi temporal hanya tampak pada bait terakhir yang berbunyi //hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam//. Kata lalu menunjukkan adanya urutan kejadian, setelah hujan turun lalu ia menatap angin dan menghardiknya.

Meskipun demikian, tidak berarti puisi ini tidak mengandung progresi temporal yang berarti. Pergerakan yang paling terlihat dalam lukisan peristiwa pada puisi ini justru pergerakan waktu dari satu adegan menuju adegan selanjutnya. Pasangan kalimat-kalimat dihubungkan secara logis dan kronologis. Bait pertama menggambarkan kejadian angin yang mempermainkan daun jatuh. Setelah itu, bait kedua menggambarkan kabel telepon yang memperingatkan angin agar tidak mempermainkan daun itu karena itu akan mengganggu hujan. Terakhir, pada bait ketiga menggambarkan hujan yang menghardik angin agar melepaskan daun tersebut. Keseluruhan peristiwa yang dibentuk oleh progresi temporal tersebut menunjukkan bahwa puisi ini memiliki alur maju dan narasi yang berkembang.

Selain progresi temporal, progresi spasial juga tampak dalam puisi ini, meskipun tidak terlalu dominan. Progresi spasial ditunjukkan oleh adanya sejumlah penamaan tempat atau benda yang menjadi latar tempat. Berikut ini merupakan progresi spasial yang terdapat dalam Puisi Cat Air Untuk Rizki, yaitu

//angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon//…//

//kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya//…//hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,//…//

 

Kabel telepon menunjukkan progresi spasial karena pada kabel telepon itulah daun jatuh tersangkut. Hal itu semakin diperkuat dengan bait kedua yang berbunyi //angin yang sedang memungut daun itu//. Mengacu pada bait pertama, secara tidak langsung maksud bait kedua tersebut adalah angin memungut daun di kabel telepon. Selain itu, progresi selanjutnya ada pada bait ketiga yang ditunjukkan dengan kata di ujung gang. Hujan turun di ujung gang. Akhirnya, secara keseluruhan, puisi ini memiliki progresi temporal maupun spasial yang mendukung alur penceritaan sehingga lebih dinamis. Peristiwa terus maju ke depan dan tersusun secara kronologis.

  1. c.       Tematisasi

Terakhir, selain adanya kohesi dan progresi juga diperlukan adanya pengorganisasian teks agar perhatian kita tertuju pada bagian-bagian penting isinya. Hal inilah yang disebut tematisasi. Tematisasi dalam sebuah puisi dikonkretkan dalam bentuk ekspresi penyair. Ketika seseorang membaca sebuah puisi, ia akan menemukan berbagai sistem tanda dan lambang yang menimbulkan berbagai lintasan gagasan. Namun, setelah ia melakukan proses pembacaan ulang dan membayangkan berbagai lintasan gagasan tersebut, maka ia akan menemukan satu konfigurasi gagasan tertentu.

Konfigurasi gagasan yang membentuk isi tertentu dan terkonkretisasi dalam lambang kebahasaan itulah yang dimaksud dengan bentuk ekspresi. Bentuk ekspresi dapat dijadikan sarana untuk merumuskan tematisasi. Puisi ini menceritakan tentang pelukisan peristiwa daun jatuh dimainkan angin ketika hari hujan. Lukisan peristiwa tersebut terlihat sangat sederhana dan sering terlupakan. Terkait puisi ini, penyair hanya asyik bermain dengan kata-kata tanpa memikirkan peristiwa apa yang akan terlukis maupun makna apa yang ingin disampaikan. Oleh karena itulah, puisi ini menjadi terasa sangat natural.

Hal itu juga berkaitan dengan ciri puisi era modernisme yang tidak dibebani oleh gagasan terdalam. Penyair tidak berpretensi untuk menjadi nabi atau mengajarkan sesuatu. Penyair tidak memikirkan makna terlebih dahulu, tetapi sebaliknya, ia merangkai kata terlebih dahulu tanpa memikirkan makna.

Meskipun, hal itu juga tidak berarti bahwa Sapardi menomorduakan pesan. Melalui permainan citraan dan bahasa yang sederhana dapat ditampilkan nuansa pengertian lain yang lebih banyak berhubungan langsung dengan penjernihan hasil meraba serta memahami pengalaman batiniah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, lewat gaya yang bersahaja, puisi-puisi Sapardi masih tetap digumuli permasalahan hakikat aku, kehidupan, dan subjek di luar aku yang berusaha dipahaminya (Aminudin, 1995:18).

Barangkali ketika menulis puisi, seorang penyair memang tidak disibukkan dengan simbolisasi atau lambang-lambang. Namun, pengkaji sastra kadangkala gemar menyibak apa yang tersembunyi di balik lukisan satu cerita sederhana. Demikian pula dalam puisi ini, justru dengan kesederhanaan lukisan peristiwa tersebut, tema yang disampaikan pun terasa ringan dan sederhana. Ada selembar daun yang seharusnya jatuh ke bumi, tapi justru tersangkut di kabel telepon. Angin ingin mempermainkan daun tersebut, padahal seharusnya angin itulah yang meniupnya agar jatuh ke bumi. Oleh karena itu, ia diperingatkan oleh kabel telepon dan dihardik oleh hujan agar memperlakukan daun tersebut sebagaimana mestinya.

Apabila dikaitkan dengan kehidupan manusia, lukisan peristiwa di atas seolah ingin menggambarkan bahwa manusia harus memperlakukan segala sesuatu seperti yang seharusnya. Ketika seseorang mendapat tugas tertentu, ia harus menjalankan kewajibannya seperti yang seharusnya, tidak menyulitkan orang lain yang berhubungan dengannya. Jangan bersikap seperti angin yang memperturutkan kehendaknya untuk mempermainkan daun jatuh tersebut. Kemudian seperti kabel telepon dan hujan, kita harus saling mengingatkan ketika ada orang yang mendzolimi makhluk lainnya. Pada intinya, tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, lakukan segala sesuatu seperti yang seharusnya. Tema ini merupakan ajaran hidup sehari-hari yang berlaku secara universal bagi seluruh makhluk hidup.

PENUTUP

Dalam teks, kalimat saling berhubungan melalui jaringan ikatan yang kompleks yang melibatkan banyak unsur struktur bahasa. Dimulai dari pemaknaannya secara umum, sajak “Puisi Cat Air Untuk Rizki” ini merupakan pelukisan sebuah peristiwa sederhana. Selembar daun jatuh yang tersangkut di kabel telepon ketika hari hujan. Daun jatuh tersebut dipermainkan oleh angin sebelum kemudian diperingatkan oleh kabel telepon dan hujan. Tampaknya merupakan peristiwa sehari-hari yang sepele, namun ternyata memiliki makna yang universal. Perlakukanlah segala sesuatu sebagaimana mestinya.

Selanjutnya adalah tentang pemilihan diksi dan bahasa kias pada Puisi Cat Air Untuk Rizki. Pemilihan diksi pada puisi ini cukup menimbulkan beberapa pertanyaan, khususnya terkait judul puisi. Puisi Cat Air karena puisi tersebut memiliki ciri yang sama dengan sebuah lukisan, yaitu menggambarkan suatu peristiwa. Terkait pemilihan nama Rizki, ada banyak spekulasi terkait hal ini. Namun, kemungkinannya adalah nama Rizki ini merupakan sebuah gejala eponim, penggunaan nama untuk menyampaikan konsep atau ciri tertentu. Nama Rizki erat kaitannya konsep nama seorang seorang anak kecil. Oleh karena itu, puisi tersebut merupakan sebuah puisi yang ditujukan bagi seorang anak kecil.

Hal ini ada kaitannya dengan proses penciptaan puisi tersebut, dimana penyair menyatakan bahwa ketika ia menciptakan puisi ini, ia tidak bisa lepas dari kecenderungan untuk menjadi seperti anak kecil. Penyair asyik bermain dengan kata-kata seperti anak kecil yang asyik memainkan sesuatu, lantas ketika ia meyadari bahwa ia berhasil menemukan sesuatu ia merasa takjub dengan penemuannya tersebut.

Terkait bahasa kias, puisi ini dominan menggunakan bahasa kias personifikasi. Benda-benda seperti angin, kabel telepon, dan hujan diberi ciri insani sehingga dapat melakukan tindakan dan memiliki perasaan seperti manusia. Bahasa kias personifikasi inilah yang membentuk gambaran peristiwa dalam puisi ini sehingga tampak nyata. Selain bahasa kias personifikasi, bahasa kias lainnya adalah bahasa kias sinesesia dan metafora. Puisi ini juga mempergunakan citraan penglihatan, pendengaran, dan gerak. Citraan tersebut berfungsi untuk memperkuat penggambaran adegan dalam puisi agar terasa lebih hidup dan dinamis.

Kohesi yang tampak berupa referensi, elipsis, kohesi leksikal yang meliputi pengulangan leksikal dan kolokasi, serta konjungsi. Adanya kohesi dalam puisi tersebut membuat puisi tersebut menjadi lebih padu. Kepaduan puisi tersebut juga didukung oleh adanya progresi. Secara keseluruhan, puisi ini memiliki progresi temporal maupun spasial yang mendukung alur penceritaan sehingga lebih dinamis. Peristiwa terus maju ke depan dan tersusun secara kronologis. Kohesi dan progresi tersebut menjadi sangat penting peranannya karena inti dari puisi ini merupakan penggambaran situasi atau adegan.

Terakhir, tentang tematisasi. Pada dasarnya tentang tematisasi ini sudah sedikit diulas ketika membicarakan kesederhanaan makna. Apabila dikaitkan dengan kehidupan manusia, lukisan peristiwa dalam puisi ini mengajarkan bahwa manusia harus memperlakukan segala sesuatu seperti yang seharusnya. Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, lakukan segala sesuatu seperti yang seharusnya. Tema ini merupakan ajaran hidup sehari-hari yang berlaku secara universal bagi seluruh makhluk hidup.

Daftar Pustaka

Aminudin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.

Eneste, Pamusuk. 2009. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid 1). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

http://remmysilado.blogspot.com/2008/01/analisis-stilistika.html diunduh pada tanggal 30 Desember 2011 pukul 17.43.

http://pasca.uns.ac.id/?p=715 diunduh pada tanggal 30 Desember 2011 pukul 17.48.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s