Cahaya

CATATAN UNTUK HATIKU


Ingatkah kau pada suatu masa,

ketika ia menjadi pelangi merah jambu

bagi hatimu yang pilu?

 

Dari balik dinding kudengar suaranya tertawa. Lalu kata-katanya yang bernada manis itu. Perlahan-lahan tanpa kusadari airmataku satu-satu menetes membasahi pipi. Remuk redam. Sejenak aku ingin hilang pendengaran dan berlari pergi. Baru kali ini aku rasa, dan aku tahu… Aku cemburu.

Aku menangis. Seraya menerobos pintu dan berlari ke luar, sejauh-jauhnya. Hingga tak dapat lagi kudengar suara itu. Menangis sepuas-puasnya, membiarkan sejauh mana airmataku akan terus mengalir hingga sesak. Sungguh aku tak ingin menangis, tapi semakin airmata ini kutahan, semakin banyak duri-duri luka yang mengeram di hatiku. Menusuk-nusuk hingga nyeri tak terperi. Betapa tidak, orang yang begitu ingin selalu bisa aku ajak bercerita, justru tengah bercerita dengan yang lain tanpa menghiraukanku.

Wahai hati yang hanya satu, apakah yang telah terjadi denganmu ? Apalah yang bisa kulakukan, sedang menangis pun aku belum berhak. Allah, ajari aku bagaimana cara meredam perasaan ini. Bukan menghapus, hanya meredam. Karena aku tak yakin apakah aku akan masih mampu hidup bila tanpa perasaan ini.

***

Dilihatnya lelaki itu berlari-lari kecil dari arah gerbang menghampirinya. Semakin mendekat terlihat olehnya rinai air hujan membasahi wajah dan sebagian baju lelaki itu, menimbulkan titik-titik air tak kentara.

“Kenapa hujan-hujanan, tidak bawa payung ?”, ucapnya seraya sibuk menyambut lelaki itu, membereskan buku-buku dan memberinya tempat yang cukup. Lelaki itu meletakkan tas dan mengibas-ibaskan jaketnya yang basah.

“Aku menyukai hujan. Hujan ini, begitu lembut dan jernih seperti bola matamu.”

Perempuan itu mengangkat kepala, tak selesai membereskan bukunya. Ia tatap lelaki itu lekat. Yang ditatap hanya tersenyum kecil seraya terus mengeringkan jaketnya. Menyebalkan, pikir perempuan itu.

Pertama, kedua, ketiga, kata-katanya seperti sampah yang tak usai dibuang. Penuh bunga-bunga memuakkan. Namun, ia tak mengerti mengapa seiring waktu ia mulai menerima bunga-bunga memuakkan itu. Perlahan-lahan, begitu lembut dan diam hingga ia tak sempat menyadarinya. Memenuhi tiap ruang hatinya, menelusup ke dalam tiap relung jiwanya. Ketika ia menyadarinya, semua sudah terlambat, ia sudah tidak bisa mengelaknya… Ia telah mencintainya. Sangat mencintainya.

***

Mau tak mau ingatanku kembali membuka satu memori yang telah tersimpan enam tahun lalu. Sore itu, ketika aku melihat wajah-wajah keruh dan suram, tangis yang terisak-isak tertahan, dan kemarahan-kemarahan yang terluapkan. Aku tak pernah tahu apa yang akan kudatangi ini, meski aku yang mengundang kedatangan mereka. Sebermula dari permintaan seorang mantan ketua Rohis untuk membuatkan undangan kepada seluruh anggota. Jam sekian di tempat biasa, tanpa berita acara yang jelas. Ketika aku bertanya acara apa, kakak tingkatku itu tak berkata sepatah apa. Pun ketua rohis kami, beliau bahkan tak mengerti. Baru kutahu apakah ini setelah kutatap wajah-wajah berurai airmata itu. Sidang kasus pacaran.

Apa ini ?, tanyaku dalam hati. Mengapa mesti seperti ini. Mungkin memang salah, tapi tidak bisakah berkata dengan cara yang lebih baik? Allah, anak-anak SMA yang bahkan mungkin belum benar-benar paham perasaan mereka. Sejumlah senior kami duduk sebagai kepala sidang. Dengan wajah menahan kemarahan, membeberkan sejumlah fakta dan pengamatan lapangan.

+ Orang-orang di luar bahkan telah menyampaikan kepada kami kalau ada di antara kalian yang pacaran. Apa jadinya bila kalian, anak-anak rohis, sudah tidak malu berboncengan di jalan, pegangan tangan, berduaan dengan lawan jenis. Tidak malukah kalian dengan diri kalian sendiri, dengan Allah yang maha melihat segala perbuatan kalian? Sekarang kami minta dengan jujur siapa yang masih punya pacar!

Tak ada yang berani berkata-kata hingga pertanyaan-pertanyaan serupa diulang. Isak tangis makin menjalar. Tak hanya satu dua. Setiap orang diminta pengakuan. Iya tidak, dengan siapa, dan sejak kapan. Sekali waktu satu dua memiliki keberanian berkilah.

– Ini urusan pribadi kami. Kami hanya sekedar suka, tidak melakukan apapun.

+ Ini untuk kebaikan kalian. Kalau memang kalian masih mau melanjutkan seperti itu, itu memang hak kalian. Tapi selagi status kalian masih sebagai anak rohis, tidak ada pilihan lain. Tak ada solusi lain, hentikan semua hubungan terlarang kalian.

Para senior kami telah mendidih. Gertakan itu memang membikin jera, tak pernah lagi kutemui kisah serupa setelah itu. Tapi hingga berhari-hari, satu dua minggu awal, atmosfer terasa begitu panas. Mushola sepi. Ketua rohis kami blingsatan memikirkan bagaimana bila keadaan berlarut seperti ini.

Sementara aku, hanya kutatap setiap adegan demi adegan yang terjadi di depan mataku dengan rekaman sempurna. Aku tak kan melakukan hal seperti ini, menyidang ataupun disidang, menjadi pendakwa ataupun terdakwa. Betapa kejamnya manusia, mendakwa dan menghakimi perasaan ini tanpa pernah bertanya betapa sakit hati-hati yang tercerabut secara paksa darinya.

Tapi kini kau telah cukup dewasa. Kini, tak akan ada lagi sidang-sidang semacam itu. Kaulah sendiri yang harus lakukan, memberi sidang dan hukuman bagi hatimu yang nakal, hati hanya satu itu.

***

“Aku mencintai seseorang, yang menguras aimataku setiap malam,” ucapku pada perempuan itu. Ia tersenyum.

“Aku pun pernah mencintai seseorang, yang tak pernah aku pikir sebelumnya bahwa aku akan mencintainya.”

“Ia tak pernah tahu betapa sering hatiku jatuh rimis tiap kali mengingatnya. Tanpa kenal waktu.”

“Kalau begitu, jangan ingat dia. Belajarlah untuk melupakan.”

“Aku tidak pernah bisa. Ia hadir di hatiku seperti bayang-bayangku sendiri.”

“Kau hanya tak benar-benar berusaha. Kau tak bisa melupakan, karena kau masih selalu melihatnya sepanjang hari-harimu, bercanda dengannya ketika ada waktu, dan….”

“Dia yang memulai!”

“Stimulus itu netral.”

Aku menangis putus asa.

“Jangan hanya salahkan aku. Salahkan ia, yang memberi celah pada hatiku untuk menyemai rasa. Salahkan waktu, yang mengijinkan kami bertemu. Dan salahkan pula semesta, hingga semua ini bisa menjadi nyata.”

“Kau merasa sakit karena perasaanmu?”

Aku menghela napas. Menunduk mempermainkan jemariku. “Hatiku sudah seperti pualam kaca yang pecah berkeping-keping. Terserak hingga kupikir aku tak akan sanggup menyatukannya lagi.”

“Kau merasa salah?”

“Jika mencintainya adalah sebuah kesalahan, selamanya aku tak ingin menjadi benar,” ucapku lirih entah ia dengar atau tidak.

Perempuan itu tersenyum.

“Sejatinya cinta tak pernah meghadirkan rasa sakit atau salah. Cinta selalu membawa ketenangan dan kedamaian bagi hati-hati yang memilikinya. Cinta seperti itu hanya akan menyakitimu sendiri. Lupakan dia, tak ada lain. Selagi kau masih terus menangis seperti ini ketika mengingatnya, lupakan dia.”

“Aku membutuhkannya, aku mencintainya.” Sekali ini aku telah benar-benar terisak.

“Ia akan datang ketika Dia tahu kau memang telah siap untuk menerima. Suatu waktu nanti bila kelopak bunga hatimu telah benar-benar mekar dengan sempurna. Bisa jadi, saat ini ia baru kuncup atau mencoba untuk merekah. Begitu indah memang bunga yang kuncup, begitu menawan dan penuh harapan akan datangnya keindahan yang terjelang. Tapi, siapa yang tahu, barangkali lebah yang akan datang itu justru akan melukai kelopakmu yang belum lagi mekar sempurna.”

-terselesaikan pada suatu petang,

di penghujung tahun 2011-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s