Akademika

MENYOAL METAFORA



Metafora dalam Pandangan Linguistik Klasik dan Linguistik Kognitif

 

Apakah metafora itu ?

Dalam pelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar, saya ingat seringkali muncul teka-teki, “pitik walik sobo kebon” apakah itu ? Sangat menggelikan. Tapi, pertanyaan ini dapat dijawab dengan pemahaman kita tentang metafora. Pitik walik sobo kebon berarti buah nanas. Mengapa ? Pitik walik ‘ayam terbalik’ merujuk pada bentuk buah nanas yang seolah-olah memiliki bulu-bulu sayap tegak (daun) di bagian atas. Ayam bila terbalik, dengan tubuh di bawah, dalam persepsi orang Jawa juga terlihat seperti itu.. Lalu sobo kebon ‘berkeliaran di kebun’ adalah karena buah nanas umumnya berada di kebun. Dari sini, terlihat betapa metafora menjangkau seluruh bahasa dan kebudayaan manusia yang ada di dunia. Metafora hadir dalam berbagai bahasa dan aspek kebudayaan seperti Jawa, Indonesia, Inggris, hingga mitologi Yunani, Oedipus.

Kata ‘metafora’ sendiri berasal dari kata Yunani: meta dan phor. Meta adalah prefiks yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan, sedangkan kata phor berasal dari kata pherein yang berarti ‘membawa’. Dengan demikian, metafora bisa diartikan sebagai ‘membawa perubahan makna’. Berbagai bahasa juga menggunakan metafora sebagai salah satu modus berbahasa, khususnya untuk menciptakan makna baru. Ia merupakan bagian penting dalam pengalaman berbahasa. Namun, hal yang biasa ini tak mudah dijelaskan oleh para ahli linguistik, sulit untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, namun makna kiasan di dalam metafora sulit untuk dijelaskan. Dalam berbagai karya sastra metafora digunakan sebagai bahasa kiasan, yakni salah satu unsur untuk mendapatkan kepuitisan. Keberadaannya menyebabkan suatu karya sastra seperti sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan-angan.

 

Metafora dalam Pandangan Linguistik Kognitif

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Metafora juga menjadi bagian yang sangat penting dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Hampir di dalam semua teks ditemukan banyak metafora, misalnya dalam teks ekonomi ditemukan kata-kata seperti balance of trade, capital mobility, raw material, marginal utility, underground economy, international growth race.

George Lakoff, mengatakan bahwa metafora adalah bagian dari sistem kognisi kita sebagai manusia, ia adalah modus kita dalam berpikir dan bertindak. Manusia berpikir dengan melihat kemiripan satu pengalaman dengan yang lain. Fenomena metafora dalam bahasa dengan demikian adalah salah satu cara berpikir manusia. Bahkan, metafora bisa memberikan sumbangan balik kepada pengalaman, dengan menggunakan bantuan bahasa untuk menjelaskan sebuah pengalaman yang sulit untuk dijelaskan tanpa menggunakan metafora. Manusia dengan menggunakan pikirannya, mengatur pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman hidup, antara lain melalui proses metaforis. Metafora merupakan dasar mutlak dari pikiran manusia yang terungkap dalam berbahasa. Lakoff dan Johnson (2003:3) menyatakan bahwa metafora meresap di dalam kehidupan sehari-hari manusia, tidak hanya di dalam bahasa, tetapi juga dalam pikiran dan tingkah laku. Pada akhirnya, pikiran manusia tidak hanya berisi unsur intelegensi, tetapi juga berfungsi mengatur hidup manusia sampai ke hal yang sekecil-kecilnya.

Salah satu prinsip dasar metafora adalah adanya konvensi dalam asosiasi metaforis antara dua konsep, misalnya dalam masyarakat penutur bahasa Inggris, emotional un-responsiveness diasosiasikan dengan cold dalam hal suhu, tidak dengan warmth atau yang lain dari bidang yang berbeda, seperti width atau innateness. Hal tersebut tidak bersifat sembarang. Dalam sebuah penelitian, diketahui bahwa dari beberapa bahasa yang tidak serumpun, seringkali memiliki konsep metaforis yang sama. Big adalah important: bahasa Zulu -khulu big: important”; bahasa Hawai nui big: important”; bahasa Turki büyük big: important”; bahasa Melayu besar big: important”; bahasa Rusia krupnij big: important”.

Metafora mengambil bagian di dalam sistem konseptual manusia dan dikaitkan dengan pengalaman hidup atau cara pandang, sehingga sistem konseptual metafora dalam bahasa yang berbeda bisa sama. Pada contoh di atas, dalam setiap bahasa, secara literal kata yang bermakna ‘big’ mengacu pada ukuran fisik dan secara metaforis, mengacu pada derajat kepentingan. Secara logis, hubungan antara konsep ukuran fisik dan derajat kepentingan bersifat bawaan dan tertanam baik di dalam struktur otak. Metafora seperti itu disebabkan oleh hal mendasar yang ada dalam benak manusia secara umum, bukan sekadar masalah budaya atau pengalaman yang kebetulan sama. Oleh karena itu, para ahli linguistik kognitif sepakat bahwa prinsip dasar dari konsep metaforis adalah experential motivation. “We feel that no metaphor can ever be comprehended or even adequately represented independently of its experential basis …”. Artinya, pada contoh di atas, penutur dari kelima bahasa tersebut mempunyai pengalaman yang sama sehingga cara pandang mereka pun sama.

Metafora didefinisikan sebagai satu pemahaman konseptual domain dalam syarat-syarat domain konseptual lain. Inilah mengapa kemudian disebut metafora konseptual. Metafora konseptual adalah ranah (domain) konseptual yang dapat dipahami dengan mengacu pada ranah (domain) konseptual yang dapat dipahami dengan mengacu pada ranah atau kelompok ide yang lain. Ada dua domain dalam metafora konseptual. Domain konseptual dimana kita bisa menggambarkan ekspresi metafora untuk memahami domain konseptual yang lain disebut domain sumber (source domain), sedangkan domain konseptual yang dapat dipahami dengan cara ini adalah domain target (target domain).

Contoh di bawah ini, merupakan pidato kenegaraan dalam acara pelantikan Presiden SBY untuk masa jabatan 2004-2009 tanggal 24 Oktober 2001. Dalam pidato tersebut, ditemukan adanya sejumlah metafora, di antaranya KEHIDUPAN BERBANGSA ADALAH PERJALANAN. Kehidupan berbangsa adalah domain target, dan perjalanan adalah domain sumber. Selain itu, dibedakan pula antara metafora konseptual dan metafora ekspresi linguistik. KEHIDUPAN BERBANGSA ADALAH PERJALANAN adalah metafora konseptual, sedangkan kelima point di bawahnya adalah metafora ekspresi linguistik.

 

KEHIDUPAN BERBANGSA ADALAH PERJALANAN.

1. Dengan pemilu legislatif tahun ini, kita juga telah maju selangkah dalam menempuh regenerasi politik Indonesia, …

  • Metafora ‘menempuh’ menunjang metafora utama: PERJALANAN

2. Segala persoalan bangsa yang rumit ini tidak mungkin diselesaikan hanya dalam 100 hari. Tetapi, saya yakin bahwa tekad dan itikad baik kita jauh lebih unggul dari permasalahan yang dihadapi. Di sinilah watak dan ketangguhan kita sebagai bangsa yang besar sedang diuji.

  • Metafora ‘diuji’ mengimplikasikan bahwa masalah bangsa dan negara merupakan soal ujian yang harus dijawab oleh anak yang sedang belajar dan merupakan salah satu tahap yang harus dilalui dalam KEHIDUPAN.

3.  Hari ini kita telah berhasil melampaui ujian sejarah yang maha penting.

4. Bagi bangsa yang besar, semakin berat ujian yang membebaninya akan semakin tinggi ketangguhannya; semakin hebat cobaan yang dialaminya akan semakin kokoh imannya; …

5. Konsolidasi demokrasi terus berkembang dan memberikan landasan kokoh bagi perjalanan kehidupan berbangsa.

  • Metafora PERJALANAN didukung oleh metafora ‘landasan kokoh’ yang merupakan infrastruktur yang tidak mudah rusak.

 

Contoh lainnya, dalam buku Metaphors We Live by (Lakoff and Johnson, 2003), dapat ditemukan bahwa LIFE dikonseptualisasi sebagai JOURNEY. Struktur yang terbentuk secara sistematis adalah konsep metaforis tentang kelahiran, kematian, dan segala pengalaman yang dapat terjadi di antara dua kutub tersebut, misalnya babies arrive/on the way – departure – have gone – getting ahead – direction – reaching – passage – courses.

Selain itu, dalam konsep linguistik kognitif, dikenal adanya dua macam metafora, yaitu orientational metaphors (metafora yang berarah) dan ontological metaphors (metafora ontologi). Metafora yang berarah memberikan konsep tentang orientasi spasial atau konsep pemisahan, misalnya depan-belakang, hidup-mati, dalam-dangkal, inti-permukaan. Contohnya, HAPPY IS UP; SAD IS DOWN. Kenyataan bahwa konsep HAPPY berorientasi pada UP mengacu pada ekspresi dalam bahasa Inggris seperti, “I’m feeling up today.” Selanjutnya adalah metafora ontologi. Orientasi pemisah pengalaman-pengalaman dasar manusia memberikan bentuk pada metafora terarah sehingga pengalaman kita dengan objek fisik memberikan dasar untuk sebuah variasi yang luar biasa tentang metafora ontologi, seperti cara-cara dalam memandang suatu kejadian, kegiatan-kegiatan, emosi, ide, dan sebagainya sebagai kesungguhan dan substansi. Kita perlu menentukan batas-batas buatan untuk dapat memandang suatu kesungguhan fenomena secara fisik. Misalnya, INFLASI ADALAH SEBUAH KENYATAAN. INFLATION IS AN ENTITY.

 

Metafora dalam Pandangan Linguistik Klasik

Pengalaman literer telah menunjukkan bahwa makna puitis lebih kaya dari makna literal. Ia bisa menjangkau sebuah kebenaran mitologis yang tidak lekang oleh zaman. Oleh karena itulah, berbagai karya sastra besar memanfaatkan metafora sebagai penghias retorika dan pewujud imajinasi puitis. Selain itu, metafora berfungsi sebagai perluasan makna dari makna referensial. Metafora juga adalah sebuah modus utama dalam menciptakan kata baru. Seperti yang diungkapkan oleh Gorys Keraf, kebanyakan perubahan makna kata mula-mula karena metafora. Sebuah kata yang sungguh-sungguh baru, biasanya sulit untuk diterima oleh masyarakat. Metafora dengan demikian mempermudah kita untuk menggambarkan realitas yang baru tersebut. Bahasa Jerman misalnya, menjadikan metafora sebagai modus utama penciptaan kata baru. Misalnya kata “fernseher” dalam bahasa Jerman yang berarti televisi. Ia menggabungkan dua kata, yaitu fern yang berarti jauh, dan sehen yang berarti melihat.

Gorys Keraf menyebut metafora termasuk dalam gaya bahasa kiasan. Gaya ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut. Lebih lanjut menurut Keraf, metafora merupakan analogi kualitatif. Dalam pengertian kualitatif, analogi menyatakan kemiripan hubungan sifat antara dua perangkat istilah. Metafora sebagaimana yang disebutkan oleh Keraf merupakan semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.

Dalam ilmu sastra, sebagaimana juga dalam pandangan linguistik klasik, metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya saja tidak menggunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Metafora melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker, 1978:317 dalam Pradopo, 2007:66). Metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama. Kita dapat mengambil contoh dalam sajak Katekhisasi, karya Subagio Sastrowardoyo berikut ini.

//Tuhan adalah warganegara yang paling modern//

Dalam sajak Subagio tersebut, Tuhan dipersamakan dengan warganegara yang paling modern. Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang term kedua atau vehicle adalah hal yang untuk membandingkan. Misalnya, dalam contoh di atas “Tuhan adalah warganegara yang paling modern”; Tuhan adalah term pokok (tenor) sedangkan warganegara yang paling modern adalah term kedua (vehicle). Seringkali penyair langsung menyebutkan term kedua tanpa menyebutkan term pokok, sehingga disebut metafora implisit (implied metaphor). Di samping itu ada metafora mati (dead metaphor), yaitu metafora yang sudah klise sehingga orang sudah lupa bahwa itu metafora, seperti kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya.

Dalam istilah yang lain, metafora dalam pandangan linguistik klasik terdiri atas tiga bagian, yaitu (a) topik, yaitu benda atau hal yang dibicarakan; (b) citra, yaitu bagian metaforis dari majas tersebut yang digunakan untuk mendeskripsikan topik dalam rangka perbandingan; (c) titik kemiripan, yaitu bagian yang memperlihatkan persamaan antara topik dan citra. Ketiga bagian yang menyusun metafora tersebut tidak selalu disebutkan secara eksplisit. Adakalanya, salah satu dari ketiga bagian itu, yaitu topik, sebagian dari citra, atau titik kemiripannya implisit, seperti yang terlihat dalam contoh.

He is also Baldwin’s legal eagle.

Topik metafora pada contoh di atas adalah he ‘dia’, sedangkan citranya adalah eagle ‘elang’. Akan tetapi, titik kemiripan yang menunjukkan dalam hal apa he ‘dia’ dan eagle ‘elang’ tidak disebutkan secara eksplisit. Untuk mengetahui titik kemiripan ini diperlukan pengetahuan tentang konteks tempat metafora tersebut terdapat, pemahaman terhadap makna simbol ‘elang’ dalam masyarakat dan unsur implisit lainnya. Hubungan antara topik atau citra dapat bersifat objektif dan emotif. Berdasarkan pilihan citra yang dipakai oleh pemakai bahasa dan para penulis di pelbagai bahasa, metafora dibedakan atas empat kelompok, yakni metafora bercitra antropomorfik, metafora bercitra hewan, metafora bercitra abstrak ke konkret, metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra.

Perbedaan Pandangan antara Linguistik Klasik dan Linguistik Kognitif

Metafora merupakan persoalan konsep yang terdapat di dalam pikiran. Metafora berada dalam kerangka pengalaman hidup (experientialist). Pikiran manusia bekerja sesuai dengan cara tubuh berinteraksi dengan dunia. Inilah yang dimaksudkannya dengan experience (pengalaman). Pengalaman ini bukan pengalaman perorangan, tetapi pengalaman yang berkaitan dengan pengalaman sosiokultural dan historis dari suatu komunitas. Inilah salah satu cara pikir linguistik kognitif tentang metafora.

Pada hakikatnya, perbedaan yang paling mendasar dari kedua pandangan ini adalah bahwa dalam pandangan linguistik kognitif, metafora lebih dari sekedar gaya bahasa, sarana retorika, atau puisi, tetapi merupakan bagian dari pikiran dan tingkah laku. Linguistik kognitif memandang metafora sebagai sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang lebih dalam dan berpengaruh. Metafora meresap di dalam kehidupan sehari-hari manusia, tidak hanya di dalam bahasa, tetapi juga dalam pikiran dan tingkah laku, dimana pikiran manusia tidak hanya berisi unsur intelegensi, tetapi juga berfungsi mengatur hidup manusia sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Metafora adalah bagian dari sistem kognisi kita sebagai manusia, ia adalah modus kita dalam berpikir dan bertindak. Manusia berpikir dengan melihat kemiripan satu pengalaman dengan yang lain. Fenomena metafora dalam bahasa adalah salah satu cara berpikir manusia.

Dalam pandangan linguistik klasik, sebuah lirik lagu yang berbunyi “WANITA ADALAH RACUN DUNIA”, hanya akan dimaknai sebagai sebuah bentuk perbandingan yang berfungsi untuk mendukung unsur kepuitisan atau memberikan sensasi tersendiri bagi pendengarnya. Tetapi, dalam pandangan kognitif linguistik, “WANITA ADALAH RACUN DUNIA” tidak hanya sekedar dimaknai secara tekstual atau ‘di permukaan’ seperti dalam linguistik klasik. Apabila ada metafora yang berbunyi “WANITA ADALAH RACUN DUNIA”, hal itu  juga harus didukung oleh sejumlah pernyataan-pernyataan yang mendukung metafora tersebut atau yang diwujudkan dalam bentuk metafora ekspresi linguistik.

Lebih lanjut, ada set pemetaan antara target dan sumber yang digunakan untuk menggambarkan analogi dan kesimpulan. Dalam lirik lagu tersebut, wanita dikonseptualisasikan dengan racun karena kedua ranah tersebut memiliki sejumlah persamaan; mati laju darahku – takluk sudah hebatku – dia butakan semua – hilang akal sehatku. Artinya, dalam linguistik kognitif, “WANITA ADALAH RACUN DUNIA” ini tidak sekedar sarana retorika melainkan juga merupakan bagian dari sistem berfikir, yang kemudian mempengaruhi tingkah laku sehari-hari dalam memandang seorang wanita misalnya.

Namun, dari kedua pandangan tersebut sekilas juga memiliki persamaan, sekalipun mungkin dikonseptualisasikan dengan istilah yang berbeda. Misalnya, dalam pandangan linguistik klasik ada konsep mengenai term pokok (tenor) dan term kedua (vehicle). Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang term kedua atau vehicle adalah hal yang untuk membandingkan. Dalam linguistik kognitif, juga terdapat istilah source domain dan target domain yang pada dasarnya juga mengacu pada hal yang sama dengan istilah tenor dan vehicle. Contohnya, LIFE IS A JOURNEY. Linguistik kognitif akan menyebut LIFE sebagai target domain dan JOURNEY sebagai source domain. Sementara itu, linguistik klasik akan menyebut LIFE sebagai tenor (term pokok) dan  JOURNEY sebagai vehicle atau (term kedua).

Namun demikian, pada intinya, konsep pokok tentang metafora antara linguistik kognitif dengan linguistik klasik tersebut memang jauh berbeda. Metafora dalam linguistik klasik hanya berupa penghias karya sastra atau sarana retorika, sedangkan metafora dalam linguistik kognitif benar-benar merupakan bagian dari sistem berfikir manusia yang terrealisasikan dalam bentuk tingkah laku hidupnya. Bahkan dalam persamaan yang saya sebut di atas pun, kalau mau ditelusuri juga memiliki konsep awal yang berbeda. Source domain dan target domain didasarkan pada ranah/kelompok ide, sedangkan term pokok dan term kedua sesuai dengan namanya didasarkan pada ‘term’ istilah/hal apa yang yang dibandingkan. Demikianlah, sekalipun kedua pandangan teori tersebut berbeda, tapi seperti halnya agama -meskipun tentu saja agama bukan teori-, setiap teori memiliki tempat dan mimbarnya masing-masing di hati tiap-tiap penganutnya.

 

Referensi :

Keraf, Gorys.1994. Diksi dan Gaya Bahasa.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kövecses, Zoltán. 2010. Metaphor: A Practical Introduction. Second Edition. New York: Oxford University Press.

Lakoff, George and Johnson, Mark. 2003. Metaphors We Live by. London: University of Chicago Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/hakikat-hakiki-kemerdekaan/makna-figuratif-metafora-dan-metonimi/ diunduh pada tanggal 5 November 2011 pukul 12.36.

http://onisur.wordpress.com/2010/07/08/metafora/ diunduh pada tanggal tanggal 5 November 2011 pukul 12. 41.

One thought on “MENYOAL METAFORA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s