Cahaya

Pemuda dan Peradaban


-I Lecture bersama Dr. Adian Husaini

 

Setiap peradaban selalu ingin mempersepsikan dirinya sebagai peradaban yang besar. Ia membangun visinya dan akan berkata, “Kalau ingin menjadi bangsa besar, ikutilah peradaban saya”. Hal itu juga terlihat misalnya dalam peradaban Hindu. Majalah Media Hindu edisi bulan ini, Oktober 2011, terbit dengan judul “Kembali ke Hindu bila Indonesia ingin berjaya kembali ke Majapahit”. Judul tersebut memberikan optimisme. Jadilah Hindu, kembalilah Hindu kalau ingin kembali berjaya. Bangsa Indonesia sudah diramalkan akan menjadi negara besar oleh berbagai ramalan, misalnya ramalan Jayabaya. Oleh karena itu, umat Hindu memiliki cita-cita, bangsa ini hanya dengan kembali ke Hindu.

Dalam majalah ini, secara ironis, Islam diibaratkan seperti pohon kurma. Sementara itu, pohon yang kuat adalah pohon yang tumbuh asli di habitatnya, bukan pohon hasil cangkokan. Hindu, sejak dahulu bangsa ini beragama Hindu, sehingga menghasilkan budaya yang adiluhung. Maka, semangat untuk kembali ke Hindu pun mereka sebarkan. Namun, sayangnya bangsa ini sudah terlanjur Islam. Kalau Hindu yang umatnya tidak sampai 2% saja, memiliki optimisme dan cita-cita, bagaimana dengan kita?

Bangsa Indonesia, sebenarnya sejak dulu juga telah memikirkan tentang hal ini. Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan para tokoh lain yang terlibat dalam Polemik Kebudayaan, mereka telah mempertanyakan “Kita mau jadi bangsa besar ikut siapa?” Sementara itu, Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man telah menyebutkan bahwa Barat sudah menang dan tidak akan ada lagi sistem yang mengggantikan barat. Setelah komunis runtuh, bangsa-bangsa sudah di ujung sejarah. Dan orang sedunia sudah sepakat, sistem liberal demokrasi adalah sistem yang final, yang ada hanyalah varian-variannya. Sistem liberal demokrasi bentuk terakhir pemerintahan manusia.

Sekalipun demikian, tentu saja bukan maksud kita untuk membangun Indonesia dengan peradaban Barat yang penuh dengan sekuler, plural, liberal, dan kapitalis tersebut. Maka, bagaimana kita membangun peradaban Islam ? Menurut Muhammad Asad, peradaban itu akan sirna ketika orangnya sudah tidak bangga lagi dengan peradabannya. Apakah Jama’ah Shalahuddin memperingati Sumpah Pemuda? Kita merasa bahwa Sumpah Pemuda tidak berkaitan dengan Islam. Nasib yang sama juga terjadi dengan bahasa Indonesia yang makin hilang karena kita tidak bangga menggunakannya. Elit bangsa kita pada zaman dulu pun lebih bangga dengan bahasa Belanda. Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional salah satunya karena peran Jepang yang melarang penggunaan bahasa Belanda. Oleh karena itu, yang paling awal adalah kita harus menumbuhkan kebanggaan kita terhadap peradaban yang akan kita bangun. Atau setidaknya yang pertama, kita harus bangga menjadi muslim.

Masih dalam suasana Saresehan Nasional Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, serangkai goresan catatan lepas antah berantah…

  • Tidak mengakui Allah sebagai tuhan atau mengangkat makhluk ciptaan Allah sebagai Tuhan disebut sebagai biadab (dari bahasa Persia bi+adab). Contohnya, Abu Jahal. Ia adalah tokoh yang terkenal pandai, namun diberi julukan ‘jahal’ karena sikapnya yang ingkar tehadap Allah.

  • Masuknya kata Allah dalam dalam UUD atau dalam undang-undang merupakan bukti kekalahan Hindu di Indonesia. Islam merupakan satu-satunya agama yang menyebut nama tuhannya secara jelas yaitu Allah, maka Allah merupakan nama mutlak dari tuhan agama Islam. Berbeda dengan yahudi yang hanya menyebut tuhannya sebatas dengan nama “Tuhan”, agama Islam sengaja memakai nama Allah (dari agama Islam) sebagai nama tuhannya .

  • Dalam Islam terdapat beberapa aliran seperti Salafy, HTI, Tarbiyah, dll. Adanya berbagai aliran tersebut hendaknya tidak menambah kerenggangan antara antara aliran Islam. Tapi, seharusnya kita semakin berlomba-lomba secara objektif, bekerja sama, kompak dalam membentuk dan menumbuhkan generasi Islam yang berkualitas dan bermanfaat .

  • Kita sebagai generasi Islam yang unggul, mau tidak mau harus berlomba-lomba/bersaing dalam hal kebaikan dengan orang non muslim. Kalau mereka lebih unggul dalam bidang tertentu, kenapa kita tidak. Mereka sama manusia seperti kita, bahkan agama kita lebih sempurna.

  • Dalam buku pelajaran di sekolah disebutkan bahwa dulu Indonesia sempat jaya di bawah kepemimpinan kerajaan Sriwijaya, kemudian berganti di bawah kepemimpinan Kerajaan Majapahit. Tetapi, dalam buku tersebut disebutkan bahwa kejayaan tersebut dihancurkan/runtuh karena datangnya kerajaan Islam yang datang menyerang. Hal tersebut menunjukkan bahwa, Indonesia bisa menang, jaya dan memiliki kekuasaan luas. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan ketidakbanggaan terhadap agama Islam karena Islam seolah-olah digambarkan datang sebagai penghancur sehingga kurang memberikan suatu yang kesan baik bagi sejarah bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s