Cahaya

Pemuda dan Peradaban dalam Sorotan Sirah


-I-Lecture bersama Ust. Salim A. Fillah

“Wajah-wajah Indonesia yang akan mewarnai bumi dengan kebaikan, yang di sana saya menemukan harapan ketika semua yang diberitakan tentang jelata dan penguasa menyesakkan dada. Betapa agungnya karena saya bisa bertemu dengan yang muda,” demikian salah satu kalimat pembuka yang diucapkan oleh Ust. Salim A. Fillah selaku pembicara malam itu. Malam itu, hingga pukul 20.00, hampir seribu aktvis dakwah kampus masih memenuhi gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH). Saresehan Nasional Aktivis Lembaga Dakwah Kampus yang merupakan perhelatan tahunan skala nasional itu tengah berlangsung dari tanggal 28-30 Oktober 2011. Jama’ah Shalahuddin, sebagai Lembaga Dakwah Kampus UGM, tahun ini mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah. Dengan mengangkat tema “Revitalisasi Peran Lembaga Dakwah Kampus dalam Membangun Karakter Pemuda Islam”, acara ini banyak membicarakan peran strategis pemuda dan lembaga dakwah kampus dalam usaha membangun kebangkitan Islam dan Indonesia.

Salah satu acara yang didesain untuk mendukung pembahasan mengenai isu strategis tersebut adalah I-Lecture bersama Ust. Salim A. Fillah dengan tema Pemuda dan Peradaban dalam Sotoran Sirah. Siapa dan bagaimanakah pemuda itu ? Lantas sebagai bahan refleksi, bagaimana peran pemuda pada masa perjuangan dakwah Rasulullah ? Dan apa yang dapat dilakukan oleh para pemuda dalam kondisi saat ini ? Tak lebih dari sekedar catatan lepas yang terserak-serak, inilah catatan tentang beberapa point yang disampaikan oleh Ust. Salim A. Fillah dalam I Lecture yang dimoderatori oleh Aqil Wilda Arif, Ketua Jama’ah Shalahuddin 1431 H, ini.

Dalam berbagai sejarah peradaban umat manusia, sudah terlalu sering kita menyaksikan bahwa pemuda adalah lokomotif penggerak perubahan zaman. Dalam sejarah Islam kita mengenal kisah pemuda Ashabul Kahfi, Ali bin Abi Thalib, Ilyas bin Auliyah pelopor reformasi hukum bani Umayyah, serta sederet nama-nama agung lainnya. Demikian pula dalam sejarah bangsa Indonesia, golongan pemuda jugalah yang mendorong Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia ketika status kekuasaan di Indonesia tengah mengalami kekosongan akibat menyerahnya Jepang pada sekutu. Pemuda, seolah demikian hebatnya kata itu. Siapakah pemuda atau seperti apakah masa muda ?

Pertama, muda itu hijau. Dan hijau adalah warna surga. Hijau berarti masih bisa berakar, bertumbuh, dan berkembang untuk Allah ta’ala.

Kedua, muda itu tidak berpengalaman. Tapi, sisi positifnya adalah justru dengan tidak berpengalaman itulah mereka menjadi kreatif dan inovatif dalam menghadapi setiap tantangan. Tidak seperti orang tua yang telah banyak makan asam garam, yang ketika menghadapi satu permasalahan mereka cenderung mengatakan agar belajar dari pengalaman. Hal itu seringkali mengukung orang dalam cara-cara lama tanpa berfikir untuk membuat pembaharuan. Seperti kata Enstein, pengalaman adalah menghadapi masalah baru dengan cara lama.

Ketiga, muda itu identik dengan kita bisa karena bersama-sama. Sama-sama prihatin, bahu-membahu, dan menyatu meski dalam keterbatasan.

Keempat, Muda itu kejelasan sikap. Ya atau tidak, hitam atau putih.

Kelima, Muda itu gejolak. Ada idealisme-idealisme yang hidup dalam benak mereka. Misalnya, para foundings father kita yang berjumpa ketika menuntut ilmu di negeri Belanda. Mereka berjumpa dengan gagasan-gagasan. Sebuah gagasan untuk mewujudkan Indonesia.

Keenam, Muda itu adalah pesona dan ketangguhan fisik. Hal itu berguna untuk membantu ide-ide yang digulirkan agar lebih segar. Rasulullah selalu memilih utusan-utusan penyampai risalah ke negara lain dari kalangan pemuda yang memiliki penampilan menawan. Misalnya, duta untuk Romawi, Persia, Yaman, dan berbagai negeri lainnya.

Ketujuh, Muda itu identik dengan ketergesaan.

Kedelapan, Muda itu masa ketika banyak sekali gelimang yang memperosokkan. Oleh karena itu, kita harus menjaga diri dari syahwat, hasrat, dll. Pemuda yang baik bukan yang tidak memiliki hasrat, nafsu, dan sebagainya, tapi pemuda yang baik adalah yang mampu menjaganya. Seperti kisah Yusuf a.s. yang mendapatkan godaan untuk berbuat zina hingga bajunya robek di bagian belakang.

Terakhir, Muda itu identik dengan sedikitnya beban sejarah. Dalam hal ini, ada kaitannya dengan modal dakwah Nabi Muhammad. Allah sering menggunakan Nabi Musa digunakan untuk melecut Rasul-Nya, bagaimana besarnya beban sejarah Nabi Musa ketika ia berseberangan dengan Fir’aun sementara Fir’aun adalah orang yang telah membesarkannya.

Nabi Muhammad jauh lebih besar modalnya daripada Nabi Musa, setidaknya dalam 4 perkara.

  • Sempurna fisiknya. Musa lidahnya kelu, sementara Muhammad pandai berbicara, paling fasih bacaannya, dan bisa menirukan logat dari berbagai suku di Arab.

  • Muhammad memiliki track record yang begitu lurus, hingga ia dijuluki Al Amin. Sementara itu, Musa yang meninggalkan Mesir setelah membunuh orang dan datang lagi ke Mesir sebagai seorang mantan pembunuh. Orang tua cenderung terbebani dengan sejarahnya.

  • Muhammad tidak punya hutang budi kepada musuh dakwahnya. Ia tidak seperti Musa, yang harus memusuhi ayah angkatnya sendiri, Fir’aun.

  • Muhammad punya orang-orang yang rela mati untuk beliau.

Pemuda adalah pemegang estafet masa depan. Oleh karena itu, pemuda juga harus mempersiapkan dirinya untuk mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Memunculkan seorang sosok pemimpin dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara evolusioner dan revolusioner. Maka, apa yang perlu dipersiapkan oleh seorang pemuda ?

  • Integritas. Pemuda harus memiliki kejujuran dan integritas. Amanah ini ditanamkan sejak dalam diri karena akan menjadi cermin masa depan. Memiliki keteguhan sikap dalam pilihan perjuangan yang kita lakukan.

  • Akhlak yang mulia dan kemampuan kita mengkomunikasikan gagasan baik kepada lawan maupun kawan. Termasuk ketika kita memberikan nasehat untuk orang lain. Dalam banyak situasi, tak jarang pula kemampuan kita untukmengkomunikasikan gagasan menjadi point penting keberhasilan dari suatu tujuan. Sebuah kisah misalnya -mungkin ini hanya anekdot atau apalah namanya-, suatu hari ketika Hidayat Nur Wahid pergi ke USA sempat ditahan di bagian imigrasi karena berjenggot. Maka ia pun ditanya oleh petugas imigrasi mengapa ia berjenggot. Apa jawabnya ? Ia tidak menjawab dengan dalil-dalil atau hadits tertentu, tapi mengatakan bahwa ia ngefans dengan Abraham Lincoln dan Kolonel Sanders, dan kedua-duanya berjenggot. Maka ia pun dapat melewati bagian imigrasi dengan lancar.

  • Daya dukung fisik, mental dan finansial. Apa daya dukung pertama Rasul? Adalah seorang wanita bernama Khadijah. (mendadak sekian banyak peserta tertawa; krik-krik)

  • Penguatan keahlian pada bidang tertentu. Pemuda harus memiliki satu bidang keahlian tertentu yang ditekuni. Pada zaman Rasulullah, ada Amru bin al Ash dalam bidang diplomasi. Khalid bin Walid dalam pertempuran. Ibnu Abbas. Ibnu Jauzi, jika umurnya dibagi dengan tulisannya, maka setiap hari ia menulis 40 halaman. Imam as Suyuti. Imam Nawawi, dll. Namun, itu juga tidak berarti kita hanya mempelajari ini satu hal atau satu ilmu saja. Dikotomi ilmu, sebagaimana yang telah terlihat dalam sejarah, adalah penyebab kemunduran Dinasti Abbasiyah. Padahal sungguh, semua ilmu adalah ilmu Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s