Sastra

LOKALITAS YANG BERJAYA DI TENGAH SAYEMBARA


Sebuah pertanyaan dari seorang peserta diskusi launching novel Jatisaba menggelitik penulis. Mengapa novel-novel pemenang sayembara novel DKJ selalu sarat dengan lokalitas? Sejak novel Saman karya Ayu Utami hingga keempat novel pemenang sayembara novel DKJ yang terakhir ini, lokalitas selalu muncul. Wacana tentang lokalitas novel-novel pemenang sayembara novel DKJ ini seolah mengalahkan satu kecenderungan lain tentang dominasi penulis wanita yang sempat menghangat di awal tahun 2000-an. Novel Saman misalnya, selain merupakan novel yang menjadi titik balik kebangkitan pengarang wanita di Indonesia, lokalitas dalam novel ini juga terasa kental. Saman mengambil setting perkebunan di daerah Sumatra Utara dengan segala kompleksitasnya. Novel pemenang sayembara novel DKJ 2009, Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf juga cenderung menjadi novel etnografis.

Lokalitas juga masih muncul dalam novel-novel pemenang sayembara menulis novel DKJ tahun ini. Keempat novel unggulan DKJ 2010 adalah Persiden karya Wisran Hadi, Lampuki karya Arafat Nur, Jatisaba karya Ramayda Akmal, dan Memoar Alang-alang karya Hendri Teja. Yang paling terasa lokalitasnya adalah novel Persiden karya Wisran Hadi, meskipun Lampuki dan Jatisaba juga sarat akan nilai-nilai lokalitas. Apabila Lampuki mengambil setting di daerah Aceh dan Jatisaba di daerah Jawa Barat bagian selatan, maka Persiden mengambil setting di daerah Minangkabau. Dalam rangkuman catatan dari dewan juri sayembara menulis novel 2010, dikatakan tentang novel ini. “Novel berlatar budaya Minangkabau yang mencoba mengangkat lokalitas dan persoalan-persoalan adat dengan cara pandang dan bentuk baru yang kritis. Tradisi dipertanyakan dan dibenturkan dengan kenyataan dan modernitas, bukan dimamah dan ditelan mentah-mentah. Alur bercabang di bagian akhir membuat novel ini lebih menarik dan tak konvensional.”

Namun, agaknya tak hanya dalam sayembara menulis novel DKJ, tetapi juga dalam sayembara-sayembara yang lain didapati hal yang sama. Bahkan, terkadang dari judulnya saja pembaca sudah dapat menebak betapa lokalnya pembicaraan di dalam novel tersebut. Lantas, pertanyaannya adalah mengapa? Mengapa seolah ada kecenderungan novel-novel pemenang Sayembara novel selalu novel-novel yang mengangkat lokalitas? Tapi sebelum menjawab pertanyaan mengapa, perlu juga diingat kembali tentang apa itu lokalitas. Dalam tulisannya yang berjudul Lokalitas dalam Sastra Indonesia, Maman S. Mahayana mengatakan lokalitas (locality) sebagai konsep umum berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Lokalitas mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang bersifat permanen, tegas, dan mutlak yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu.

Berpijak dari definisi Maman S. Mahayana di atas, seolah terjawab pertanyaan bahwa tampaknya lokalitas memang selalu menyiratkan satu latar tempat tertentu atau daerah tertentu. Lokalitas berkaitan dengan setting cerita dalam novel. Apabila settingnya berada di suatu daerah tertentu lantas pengarangnya berbicara tentang suatu permasalahan khusus terkait daerah tersebut, maka novel itu dapat dikatakan berbicara tentang lokalitas. Karena hal itu pula, tak mengherankan bila lokalitas dalam novel-novel juga ditunjukkan dengan sisipan kosakata dari bahasa daerah. Namun demikian, Maman juga menegaskan bahwa lokalitas dalam sastra mestinya diperlakukan bukan sekadar latar an sich, melainkan sebuah wilayah kultural yang membawa pembacanya pada medan tafsir tentang situasi sosio-kultural yang mendekam di belakang teks. Lokalitas bukanlah sekedar berada pada batasan tempat atau wilayah geografis tetapi mesti dimaknai dalam ranah budaya.

Adanya kecenderungan novel-novel pemenang sayembara menulis adalah novel-novel yang mengangkat lokalitas berhubungan dengan kejenuhan pembaca terhadap tema-tema global. Tema-tema global sudah dipandang membosankan dan tidak khas. Permasalahan yang diangkat dalam novel-novel tersebut sudah umum dijumpai dan karenanya tidak menarik lagi. Masalah percintaan, perkawinan, perceraian, rutinitas dunia kerja, atau hubungan seks bebas yang dibingkai dalam ranah global sudah terasa menjenuhkan bagi manusia modern yang sepanjang hari juga menghadapi permasalahan serupa. Pembaca memerlukan suatu alternatif baru yang lebih menyegarkan. Berangkat dari fakta itulah kemudian timbul kecenderungan untuk mengangkat lokalitas.

Dalam novel-novel yang mengangkat lokalitas, tema-tema seperti percintaan, perkawinan, seks, atau hal-hal serupa itu sebenarnya juga ada. Namun, dalam novel-novel tersebut permasalahan itu ditarik ke dalam ranah daerah sehingga menjadi khas. Selain itu, karena berada dalam ranah daerah maka banyak kemungkinan munculnya detail-detail kedaerahan yang semakin memperkaya dimensi permasalahan tersebut. Bahkan, bisa jadi detail-detail kedaerahan tersebut membuat suatu permasalahan umum seolah menjadi suatu permasalahan baru yang belum pernah dijumpai dalam kehidupan dunia modern.

Selain itu, ada kemungkinan bahwa kecenderungan munculnya lokalitas dalam novel-novel pemenang sayembara berkaitan dengan depolitisasi sastra pada masa Orde Baru. Pada masa Orde Baru, pembicaraan mengenai masalah politik penguasa seolah diharamkan. Oleh karena itu, banyak sastrawan yang menyiasatinya dengan cara menarik permasalahan pusat tersebut ke ranah daerah. Mereka sebenarnya berbicara tentang suatu permasalahan pusat tetapi dengan cara menganalogikannya pada permasalahan daerah sehingga kesan membicarakan penguasa pusat tersebut dapat tersamarkan. Misalnya saja dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Secara tidak langsung, cara itu membuat para sastrawan menonjolkan lokalitas dalam novelnya. Kecenderungan itulah yang mungkin berlanjut hingga saat ini meskipun dengan visi pengarang yang berbeda.

Yang harus diingat, lokalitas dalam novel-novel pemenang sayembara ini juga dapat menimbulkan sebuah kecenderungan penilaian baru dalam dunia sastra. Secara otomatis, novel-novel pemenang sayembara menulis novel dapat dikategorikan sebagai novel yang berkualitas. Apalagi bila sayembara menulis novel tersebut merupakan sayembara bergengsi seperti yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Hal itu dapat memunculkan anggapan bahwa novel-novel yang dianggap berkualitas hanya novel-novel yang sarat dengan lokalitas. Dalam kaitannya dengan hal itu, akhir-akhir ini memang sering ditemukan novel-novel etnografis yang bukan tak mungkin suatu saat akan menjadi trend baru dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Namun, yang harus dimengerti adalah bahwa penulis novel bukanlah orang dari suatu tempat terisolir yang terlepas sama sekali dari permasalahan sosiokultural daerahnya. Pengarang novel adalah anggota masyarakat yang mau tidak mau pasti terpengaruh dengan berbagai kebudayaan dan permasalahan sosial yang melingkupinya. Maka, tak mengherankan pula bila seorang pengarang ingin mengangkat masalah-masalah di sekelilingnya dalam bingkai lokalitas. Terlebih, biasanya dengan menonjolkan lokalitas itulah, pengarang akan merasa lebih menemukan ruh dari kegelisahan-kegelisahan sosial yang ingin diungkapkan. Meski, bukan tak mungkin bahwa lokalitas dalam novel juga berkaitan dengan kampanye pemerintah untuk semakin giat menggali kearifan lokal. Pengarang sebagai orang yang tidak bisa lepas dari propaganda politik penguasa menjadikan lokalitas dalam novel adalah salah satu bentuk apresiasi atas kampanye pemerintah yang kian gencar itu.

*Hanya sebuah artikel dari Kelas Menulis Kreatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s