Sastra

TENTANG NOVEL-NOVEL ANTAR PERIODE


😛 Persambungan dan pemisahan novel-novel antar periode dalam Sejarah Sastra Indonesia

Sejarah sastra Indonesia secara umum dapat dibagi menjadi beberapa periode, yaitu periode Balai Pustaka (tahun ’20), periode Pujangga Baru, periode tahun 1945, periode tahun ’66, dan periode tahun 1970 hingga sekarang. Masing-masing periode dalam sejarah sastra Indonesia tidak lantas benar-benar terpisah satu sama lain, melainkan masih saling berkaitan. Tidak pernah ada satu garis tegas yang memisahkan antara satu angkatan dengan angkatan berikutnya, termasuk dalam hal ciri karya sastra yang dihasilkan. Hal itulah yang dimaksud dengan persambungan-pemisahan antar periode.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas persambungan-pemisahan novel-novel Indonesia mulai dari angkatan Balai Pustaka dengan angkatan-angkatan setelahnya, serta sedikit menyinggung keterkaitannya dengan sastra klasik. Salah satu novel puncak pada masa Balai Pustaka adalah Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli. Di satu sisi, novel ini berbeda dengan hasil sastra lama karena tidak lagi mengandung pretensi kesejarahan dan memiliki pengingkaran terhadap tradisi hikayat. Namun, ternyata pengaruh dari tradisi-tradisi klasik juga tak terelakkan. Novel Sitti Nurbaya memiliki kesamaan dengan cerita-cerita panji dalam hal penggambaran tokoh secara hitam putih dan penggunaan ayat yang panjang-panjang untuk mendeskripsikan sesuatu, struktur cerita, dan pemakaian pantun. Hal yang sama juga terjadi pada novel Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar yang memiliki kesamaan struktur dengan cerita Lembing Awang Pulang ke Dayang.

Berangkat dari kenyataan di atas, terlihat bahwa dalam SSI pada dasarnya sejak awal memang tidak pernah ada batas yang tegas antara satu periode dengan periode selanjutnya, antara satu angkatan dengan angkatan berikutnya. Persambungan dan pemisahan novel-novel dalam SSI salah satunya terlihat dalam penyelesaian jalan cerita. Dalam novel Salah Asuhan (periode Balai Pustaka), penyelesaian bersifat ambiguous atau mengambang. Kita tidak dapat menggolongkan dengan jelas apakah penyelesaian dalam Salah Asuhan, yaitu kematian Hanafi, termasuk ke dalam skala penyelesaian bahagia atau tak bahagia. Kematian mungkin identik dengan penyelesaian tidak bahagia, tapi bisa jadi kematian Hanafi justru penyelesaian yang bahagia bagi keadaan dirinya yang sudah tidak diterima lagi oleh kaum adat maupun orang-orang Barat.

Hal serupa juga masih terlihat dalam Belenggu (periode Pujangga Baru), bahkan di sini sifat ambiguitasnya lebih jelas terlihat. Dalam Belenggu, penyelesaiannya bukan lagi diakhiri dengan persoalan kematian atau hidup bahagia, tetapi dengan persoalan lain. Armijn Pane mengakhiri novelnya tersebut dengan kalimat ‘Pintu kemanakah itu?!’, kalimat yang secara jelas menunjukkan keraguan dan ambiguitas. Meski demikian, unsur pembaharuan juga tetap ada. Perbedaan antara Belenggu dan Salah Asuhan ialah dalam Belenggu bukan lagi mengisahkan tentang kisah cinta dua orang atau kisah satu orang tokoh utama. Bila dalam Salah Asuhan tokoh Corrie dan Rapiah hanya berfungsi untuk melengkapi kehadiran tokoh Hanafi, dalam Belenggu terdapat tiga tokoh yang sama-sama memainkan peranan penting, yang masing-masing mewakili dunianya sendiri.

Secara umum, novel-novel Balai Pustaka dan Pujangga Baru masih memiliki beberapa persamaan, terutama dalam hal tendens cerita dan unsur didaktis yang terdapat di dalamnya. Unsur tendens tersebut dalam novel-novel Pujangga Baru sangat jelas terlihat pada karangan STA, yaitu Layar Terkembang. Novel Layar Terkembang yang sering dianggap modern ini juga masih ada kesamaan struktur dengan cerita-cerita Panji. Meski di sini, kisah cinta bukan lagi unsur yang terpenting seperti dalam novel-novel sebelumnya. Sementara Sitti Nurbaya, novel ini mengandung unsur didaktis, yaitu usaha membentuk budi pekerti yang baik pada pembacanya.

Terkait tema, novel Balai Pustaka umumnya mengambil tema kawin paksa, dengan berbagai macam motifnya. Sementara dalam novel Pujangga Baru, masalahnya bukan lagi tentang kawin paksa melainkan masalah kehidupan kota atau kehidupan masyarakat modern seperti masalah kedudukan wanita (Layar Terkembang), atau masalah kedudukan suami istri dalam rumah tangga (Belenggu). Karakteristik tersebut juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi masyarakat pada masa yang bersangkutan.

Kembali kepada persambungan dan pemisahan, pada angkatan 45, salah satu novel terpenting periode ini adalah Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Namun, Atheis yang terbit tahun 1949 ini juga tidak lebih maju dari Belenggu. Bahkan, Atheis sebenarnya lebih dekat kepada Salah Asuhan, baik dalam hal hubungan penyelesaiannya, maupun karena ia bercerita tentang seorang tokoh, yaitu Hasan. Yang secara jelas membedakannya dari Salah Asuhan hanyalah penggunaan unsur flash back.

Novel-novel Iwan Simatupang (angkatan ’66) disebut-sebut sebagai puncak perkembangan novel-novel Indonesia. Beberapa novel yang terpenting adalah Ziarah dan Merahnya Merah. Semua tokoh dalam novel-novel ini nyaris tanpa nama. Penyelesaian yang diberikan pada dasarnya juga bukan merupakan sebuah penyelesaian, tetapi sebuah infiniti. Suatu pembaharuan lain yang dibawa oleh novel-novel ini adalah fungsi flashback yang berbeda daripada novel-novel terdahulu.

Namun, hal itu tidak berarti Iwan terlepas sama sekali dari novel-novel yang telah ada sebelumnya. Dalam Merahnya Merah. Iwan melihat masa sekarang sebagai perpanjangan dari masa lampau, yang keduanya bercampur aduk dan tak terpisahkan. Seorang tokoh bukan hanya dibentuk oleh keadaannya di masa sekarang, tetapi juga keadaannyadi masa lampau. ‘Tokoh kita’ dihormati oleh Pangdam dan Doktor Tentara bukan karena keadaannya saat ini tetapi karena kedudukannya di masa lampau. Keadaan semacam ini sebenarnya juga telah dikemukakan Armijn Pane dalam Belenggu, tetapi masih samar dan tidak terlalu ditonjolkan seperti dalam Merahnya Merah. Tono, Tini, dan Yah, adalah individu-individu yang terbelenggu dengan masa lalunya. Hal itu pada akhirnya berpengaruh terhadap kehidupan mereka pada masa selanjutnya, ketika Tono dan Tini telah menikah serta Yah menjadi pelacur.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa ada banyak kesamaan karakterikstik antara novel-novel suatu periode dengan periode berikutnya, meski unsur pembaharuan juga banyak dilakukan. Persambungan dan pemisahan tersebut barangkali juga disebabkan oleh adanya intertekstualitas. Novel-novel pada periode sebelumnya yang telah dibaca oleh para pengarang tersebut secara tidak sadar mempengaruhi proses kreatif mereka sehingga terjadilah adanya persambungan dan pemisahan.

Daftar Pustaka

Sarwadi. 2004. Sejarah Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Sumardjo, Jakob. 1982. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik. Yogyakarta: C.V. Nur Cahaya.

Sumardjo, Jakob. 1983. Pengantar Novel Indonesia. Jakarta: P.T. Karya Unipress

Junus, Umar. 1974. Perkembangan Novel-Novel Indonesia. Kuala Lumpur: Penerbit Univesiti Malaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s