Cerpen

ASU DANDANG LAK



            Sejak aku masih kecil, Bapak sering bercerita padaku tentang banyak hal.  Duduk di teras rumah sembari menatap langit barat yang mulai kemerahan, dan aku duduk di pangkuan Bapak sambil menelusuri lekuk-lekuk mukanya yang makin bertambah. Bahkan hingga kini, hingga aku telah berumur 6 tahun; meski aku tak lagi duduk di pangkuannya. Bapak senang bercerita tentang pelbagai hal, tentang masa kecilnya, kehidupannya ketika merantau di Sumatra,  tentang kakek, juga tentang orang-orang hebat di sekitarnya.

Bapak akan begitu bersemangat ketika bercerita tentang Mbah Rama. Kyai besar yang sakti di daerah Purworejo, tempat kelahiran Bapak. Kata Bapak, Mbah Rama bisa kebal terhadap senjata apapun. Beliau juga bisa mengenali pencuri yang menggunakan bantuan mahkluk gaib, bisa berjalan secepat angin, dan ahli menyembuhkan orang yang kesurupan. Konon ketika Mbah Rama meninggal, ia selalu hidup lagi bila ditengok orang sebelum tiga hari kematiannya. Tapi untuk bisa sakti seperti itu, syaratnya sangat berat, kata Bapak. Ada yang harus tapa kungkum semalaman di sungai, dan kalau mau kebal terhadap senjata, harus tapa kungkum lalu dicacah-cacah tubuhnya. Mengerikan. Aku lalu berpikir, bagaimana caranya orang itu tidak akan mati lebih dulu sebelum sempat sakti.

“Kok dicacah-cacah tidak mati, Pak ?”

“Yang mencacah-cacah itu juga orang sakti.!” jawab Bapak. Oh, jadi demikian rupanya.

Bapak juga pernah bercerita tentang stambul. Kitab Al Qur’an kecil sebesar ibu jari pemberian Mbah Buyut Kakung dari Makkah. Biarpun cuma sebesar ibu jari, hebatnya Al Qur’an itu tetap bisa dibaca. Kata Bapak, kitab itu ada yang tulisannya dengan tinta emas. Kalau kitab yang bertuliskan tinta emas itu tidak pernah dibaca, tulisannya akan hilang sendiri. Tapi punya Bapak –yang sekarang juga hilang itu- tulisannya dengan tinta biasa. Lalu ada lagi kitab mujarobat yang bisa membuat orang yang membacanya itu gila kalau belum benar-benar kuat iman.

“Kamu tahu Lek Sardi yang rumahnya dekat sawah itu ?”

“Oh, orang gila yang kata Eyang Uti suka menanam pohon pisang itu ?”

“Nah, itu. Dia itu gila karena membaca kitab mujarobat  kakeknya.”

“Bapak pernah baca ?”

“Ya belum, kalau Bapak gila siapa nanti yang mau belikan jajan kamu ?”, jawab Bapak. Oh, kalau begitu berarti bapak juga belum kuat iman.

Tiga hari lalu, Bapak bercerita padaku tentang asu dandang lak. Atau kalau Eyang Uti menyebutnya asu ajab, kata Bapak. Bapak tidak bisa menjelaskan padaku waktu kutanya mengapa disebut asu dandang lak. Tapi setelah kupikir-pikir, kuangankan, dan kurenungkan, akhirnya aku beroleh kesimpulan. Begini mungkin… Asu itu kata bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia artinya anjing. Dandang itu alat yang digunakan oleh orang-orang desaku untuk menanak nasi di tempat orang hajatan. Bentuknya semacam kuali tinggi yang menyempit di bagian lehernya dan berasal dari tanah liat. Sementara itu, ibu-ibu di desaku sering menambal panci mereka yang bocor dengan selotip tebal berwarna hitam. Itu disebut lak ban. Jadi kesimpulanku, asu dandang lak adalah sebuah mahkluk yang bentuknya seperti anjing, tapi lehernya kecil menyempit seperti dandang, dan warnanya hitam pekat seperti lak ban. Logis bukan ? Tapi gila. Aku tak ingin ditertawakan, maka kusimpan saja kesimpulan itu di benakku.

Kata Bapak, asu dandang lak adalah sejenis anjing jadi-jadian yang berwarna hitam (Dengar, berwarna hitam. Tepat seperti kesimpulanku, bukan ?!). Anjingnya kecil (karena kecil, mungkin juga lehernya sempit) dan mempunyai gonggongan yang melengking panjang mengerikan. Hhaaauuuuukkkk…uuk…uk..uuk..!! Saat asu dandang lak menggonggong, moncongnya akan menempel di tanah. Makanya, tanah menjadi terasa ikut bergetar. Gonggongannya paling banyak tiga kali, dan ia muncul sekitar pukul satu malam.

Namun, asu dandang lak tidak datang sembarang waktu. Tak main-main, kedatangannya adalah pertanda buruk. Ia akan muncul pada musim kemarau panjang dan kedatangannya berarti akan ada pageblug atau paceklik. Pageblug itu wabah penyakit yang menyebabkan banyak orang meninggal. Karena itu, siapa saja yang melihat anjing tersebut menggonggong disuruh untuk mengusirnya. Tapi, jangankan mengusir, orang yang mendengar gonggongannya saja sudah bergidik. Bapak mendengar cerita itu dari orang-orang juga, terutama Mbah Karyo, tukang timba air yang bungkuk itu.

Setiap kali aku datang ke Purworejo, belum pernah sekalipun aku menjumpai penampakan anjing jadi-jadian itu. Sekarang sudah tak pernah terdengar gonggongannya lagi, kata Bapak. Kenapa? Apa asu dandang lak takut pada keramaian, pada cahaya lampu, pada mobil-obil yang lewat, sehingga sekarang tak pernah kelihatan lagi?, tanyaku sore itu. Tapi Bapak cuma bilang, ‘huss.!’

Waktu aku mendengar cerita itu, malam harinya aku tak berani tidur sendiri. Jangan-jangan nanti tengah malam ada asu dandang lak! Hhaauuuuukkk…uuk..uukk..ukk…!! Aku takut. Lagipula ini kemarau panjang, saat dimana sumur-sumur di daerah perbukitan desa telah kering. Akhirnya, aku berlari ke kamar ibu dan bapak. Namun, pintunya di kunci dan ibu tak menyahut waktu berkali-kali kugedor-gedor pintunya. Lalu aku berlari lagi ke kamar, mengunci pintu dan meringkuk masuk di bawah selimut tebal. Kupaksakan memejamkan mata rapat-rapat, di bawah bayang-bayang ketakutan akan asu dandang lak.

Esok pagi, aku akan ke tempat Eyang Uti. Di tempat Eyang Uti sekarang adalah masa punggahan, saat dimana arwah-arwah leluhur naik ke atas, ke langit, kata Bapak. Punggahan terjadi pada bulan Sya’ban atau Ruwah. Dan kami, para sanak saudara yang masih hidup akan melakukan ziarah. Aku membayangkan, bagaimana arwah-arwah itu -termasuk arwah Eyang Kakung- naik ke langit menggunakan tangga cahaya. Atau pesawat luar angkasa ? Oh iya, pasti naik pesawat luar angkasa sseperti di film-film itu! Wow.!

Eyang Utiku tinggal di desa Cangkrep Kidul, di Purworejo. Ada sawah-sawah di samping kanan dan belakang rumah Eyang, ada pula sungai yang membelah persawahan. Dan Eyang Uti selalu menyambutku di depan rumahnya saat kami datang. Lalu aku berlari-lari mengejar bebek yang teramat banyak beranak pinak milik paman sementara ayah ibu bertanya kabar. Pun hari itu, ketika kami tiba. Eyang dengan kebaya dan kainnya yang kuno telah menunggu kami di depan pagar rumah. Lalu aku melihat Rofiq, anak paman, tengah mempersiapkan alat pancing di samping rumah. Paman, yang telanjang dada dan bercelana pendek hitam, keluar dari dapur membawa jala.

Orang-orang itu berhenti sejenak melihat kami datang. Bertanya kabar, dan berbasa-basi. Bertanya, apa di sana sudah hujan ? Di sana sedang panen apa ? Bagaimana kabar si ini, si itu, dan si anu ? Atau kadang-kadang aku ikut dibawa-bawa pula. Aduh, Arimbi sudah besar ? Bagaimana sekolahnya ? Tidak nakal lagi, kan ? Jujur, aku bosan.

Aku menarik tangan Rofiq menuju ke arah jala-jala dan alat pancing di samping rumah. “Mau menjala ikan ya ?” “Iya, di sungai sekarang sedang banyak ikan. Airnya juga tidak begitu tinggi. Kamu mau ikut tak ?” Pertanyaan basi. Jelas, aku ikut. Maka, seharian itu sampai hampir maghrib, aku ikut paman dan Rofiq menjala ikan di sungai. Banyak ikan, pun udang dan kepiting, kecil-kecil tapi. Ada tiga ekor ikan yang besar, dan aku menangis waktu tiga ekor itu akan ikut digoreng. Lalu Rofiq menaruhnya di bak mandi besar. Dan kami menjaganya sepanjang malam. Kami tidur di lantai, di samping bak mandi berisi ikan.

“Rimbi! Rimbii! Arimbii…bangun!”, Kurasakan tubuhku digoyang-goyangkan. Kuucek-ucek mata dengan malas. Aku menggeliat perlahan. Lalu bangun terduduk. Menatap nanar kesana-kemari. Di sampingku, Rofiq memandangku cemas seraya memegang pundakku. Sekilas kulihat jam dinding. 01.20.

“Bangun, Rim… Dengar itu.!”katanya cemas. Diam. Sunyi. Kupasang telinga.

“Kenapa, Fiq?”. Bengong.

“Ssstt!” Rofiq menempelkan telunjuknya di depan mulut.

Aku terkejut.Kudengar bunyi… Krusuk..krusuk..sreekk..srekk…srekk..ting..ting..pyar.! Pyaarr… Suara langkah-langkah yang diseret. Benda-benda yang berdenting saling berbenturan. Sesuatu pecah. Lalu tawa berderai memecah kesunyian.

“Apa itu, Fiq? Suara apa ?” Suaraku bergetar. Ku pegang lengan Rofiq erat-erat. Lengannya dingin berkeringat. Rofiq ketakutan. Jangan-jangan…itu asu dandang lak !

“Waaa…!!!” Aku menjerit tertahan. Rofiq memukul lenganku. “Jangan menjerit-jerit!”, bisiknya. Kusembunyikan mukaku dengan bantal. Tapi, kenapa ada orang tertawa? Apa asu dandang lak bisa tertawa seperti itu?

“Kamu pernah dengar ada asu dandang lak, Fiq?”

“Asu Dandang Lak ? Apa itu ?”

“Anjing jadi-jadian.”, jawabku setengah menakut-nakutinya. Berusaha menekan ketakutanku sendiri. Sepupuku yang dua tahun lebih tua dariku itu bergidik. Ia mencengkeram jariku begitu erat.

“Kamu nggak tahu?”, tanyaku lagi. Rofiq menggeleng keras-keras. Aku jadi ragu pada cerita Bapak tentang asu dandang lak. Rofiq yang orang sini saja tidak tahu, apa Bapak bohong. Tapi, tak mungkin. Bapak tak pernah bohong padaku, apalagi menakut-nakuti. Asu dandang lak pasti ada, cuma mungkin sekarang sudah hampir punah. Tapi, apa anjing jadi-jadian: hantu bisa punah ?

Mataku menatap nyalang. Tiba-tiba aku berdiri. Melangkah ke arah pintu.

“Kemana?”, tanya Rofiq takut.

“Lihat di luar yuk!” Aku meraih handle pintu. Rofiq berlari mencegah. Pintu telah sedikit kubuka saat Rofiq menarik tanganku keras.

“Jangan keluar!” larangnya tegas.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan keluar! Kamu tidak takut apa?!”

“Huu… Penakut!” Kuhempaskan tangannya. Aku berlari keluar menerobos pintu. Kulihat Rofiq mengejarku. Hendak berteriak memanggilku tapi tertahan.

Pyaarr… Prang.! Hahahaha… Tawa itu terdengar lagi. Aku terhenti sesaat. Tawa itu menciutkan nyali. Rofiq berhasil mengejarku.

“Aku cuma ingin tahu. Siapa tahu itu asu dandang lak? Aku akan mengusirnya biar tak ada pageblug”, kataku.

Aku berlari lagi. Di belakangku kudengar Rofiq terus-menerus menggerutu. Suara-suara itu menjadi makin keras. Gudang kosong, pikirku. Ya, suara itu dari gudang kosong!  Gudang kosong terletak di sebelah kebun singkong Eyang Uti. Milik tetangga simbah yang sekarang tinggal di Jayapura. Dulu gudang itu digunakan untuk memelihara marmut dan kini setelah pemiliknya pergi, digunakan para tetangga untuk menyimpan kayu. Jarang ada orang ke sana. Pengap, bau, dan yang ada cuma kayu-kayu yang kian melapuk saja.

Kutempelkan telinga di dinding bambu gudang. Mengintip pintu. Rofiq berjingkat-jingkat di belakangku. Memegang pundakku, ikut mengintip. Aku menolehnya sebentar. Ia kelihatan tak setuju dengan tindakanku.

Di balik naungan bayang-bayang tumpukan kayu, kulihat beberapa lelaki duduk bersila melingkar. Satu…dua…tiga…enam… Enam orang. Jantungku berdebar-debar. Kulihat botol-botol di hadapan mereka, juga kartu-kartu… Kartu-kartu yang juga sering kulihat di pos ronda. Dan itu…uang! Oh, Tuhan. Tak salah lagi, judi.

“Apa itu, Fiq?”, bisikku lirih. Kulirik botol-botol itu.

“Minuman keras, mereka mabuk. Mereka judi.”, jawab Rofiq begitu tenag. Aku sampai heran. Matanya menatap tajam ke arah orang-oarang itu. Tak ada yang kukenal. Kutempelkan kembali mataku pada sela-sela dinding bambu. Tiba-tiba,aku merasa begitu khawatir. Kalau mereka melihat kami berdua mengintip bagaimana? Tapi Rofiq malah terlihat tenang. Matanya tak lagi cemas, tapi tangannya masih tetap dingin gemetar.

“Dik, lihat itu!” bisik Rofiq. Matanya menunjuk pojok ruangan. Aku mengikuti arah matanya.

Ada sebuah kursi di pojok kiri gudang itu. Satu-satunya kursi tampaknya. Kursi sofa yang joknya sobek sana-sini. Busanya mencuat keluar serawutan. Kakinya juga keropos penuh debu. Duduk di kursi itu, kulihat sebuah bayang-bayang. Terhalang di balik tumpukan kayu-kayu. Hanya terlihat bayang-bayangnya di bawah lampu lima watt dan sandal yang ia kenakan.

Bayang-bayang itu berdiri. Dan… Oh, Tuhan! Kurasakan Rofiq juga terkejut. Tangannya mencengkeram pundakku makin erat.

“Mas Aziz! Itu Mas…”, teriakanku terputus. Rofiq membungkam mulutku dengan tangan kanannya. Orang-orang di ruangan gudang itu memandang ke arah pintu. Terkejut. Mas Aziz terpaku kaget. Tangannya memegang botol yang isinya tinggal setengah. Mas Aziz mabuk! Tak mungkin! Tapi itu benar-benar Mas Aziz!

Yang kutahu, yang kukenal, Mas Aziz adalah anak pak Haji Asnawi, ketua KUA kecamatan. Ia sering mengajariku mengaji kalau aku ikut Rofiq ke musholla. Ia juga yang sering menjadi imam sholat maghrib setelah kami seleasi mengaji. Tapi, bagaimana Mas Aziz bisa ada di sini ? Ikut mabuk ?

Pikirku terputus. Orang-orang itu berjalan ke arah pintu. Mas Aziz sempoyongan. Rofiq menarikku berlari. Jantungku berdegup kencang, seolah ada mobil balap salip menyalip. Nafas menderu tak beraturan. Di balik pagar hidup kebun singkong, Rofiq menarik tanganku. Aku kaget, hampir jatuh terjerembab di atasnya. Aku mengikutinya berjongkok di bawah rumpun pagar. Rofiq bergetar ketakutan, matanya kembali cemas. Kudengar jantungnya berdegup begitu kencang. Darah kurasakan seperti berhenti mengalir. Membeku. Mukaku pucat pasi. Aku mulai berkaca-kaca ketakutan.

Srek..sreekk..srekk. Bunyi langkah diseret. Lalu pintu berderit. Gumaman tak jelas orang-orang. Beberapa keluar berkeliling gudang, menyorotkan senter-senter kesana-kemari sesaat lamanya. Seorang yang bersarung mendekat pagar kebun singkong. Menyorotkan senternya. Aku menahan nafas ketakutan. Rofiq makin menunduk setengah tiarap. Aku mengikutinya. Langkah itu kian mendekat. Oh, Tuhan… Bapak, aku takut! Srekk..sreekk… Bayang-bayangnya jatuh menimpaku. Nafasku tertahan.

“Tidak ada kan, Din?! Sudah, balik saja sini!” suara Mas Aziz. Orang itu berbalik ke arah gudang. Kuhembuskan nafas panjang. Rofiq memandangku lega. Terdengar pintu berderit ditutup. Lalu makian keras.

“Assuu!! Buajiingaan! Monyet-monyet kunyuk mana itu tadi ?!”

Itu suara Mas Aziz. Bukan asu dandang lak. Tak ada asu dandang lak disini.

2 thoughts on “ASU DANDANG LAK

  1. hmm…baca awalnya aku tertarik banget pengen segera melahap habis cerpenmu ini. dua tiga paragraf, semangatku masih tinggi.. empat lima tujuh sembilan.. aku pengen melompat ke paragraf trakhir. tapi tertolong waktu sampe bagian tentang suara dan bayangan.. di sini mulai menaikkan lagi rasa penasaranku.. tp sampe satu dua paragraf sblm akhir, aku jadi biasa lagi. pengen segera ke kalimat terakhir. dan akhirnya aku sampai di kalimat terakhir, bayangan tentang kisah yang menarik, menghanyutkan, seru, menantang, tidak aku dapatkan. menurutku, cerita ini cenderung datar. konfliknya masih belum terlalu kentara. tetapi, gaya penceritaan dan pemilihan diksimu cukup menarik, bisa menggambarkan suasana seperti kejadian yg sebenarnya..

    mungkin itu saja.. ini cuma subjektifitasku lho.. jgn terlalu diambil hati atau jadi pertimbangan mendalam utk men-delete habis cerpenmu ini.. hehe..
    semangat tuti..

    ardian justo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s