Saya membaca...

SUTAN SJAHRIR : SEBUAH KEKECUALIAN ZAMAN



 

DATA BUKU

Judul              : Sjahrir Peran Besar Bung Kecil

Penulis           : Tim Tempo

Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta

Tahun Terbit : 2010

Tebal             : xx+222 hlm

Judul di atas merupakan sebuah judul artikel yang ditulis oleh ekonom Muhammad Chatib Basri. Dalam artikelnya tersebut, Chatib mengatakan bahwa Sutan Sjahrir terlalu depan bagi massanya. Sutan Sjahrir seperti sebuah kekecualian bagi zamannya. Ketika nasionalisme begitu berapi-api, ketika kemerdekaan menjadi obsesi dan tujuan akhir bangsa, Sjahrir justru berbicara tentang sesuatu yang lebih jauh dari itu. Tujuan final perjuangan politiknya bukanlah kemerdekaan, melainkan terbukanya ruang bagi rakyat untuk merealisasikan dirinya dalam kebebasan tanpa halangan. Untuk itu, nasionalisme harus tunduk pada kepentingan demokrasi, karena masionalisme tanpa demokrasi sejalan dengan feodalisme.

Namun, justru karena Sjahrir adalah sebuah kekecualian sejarah itulah, perjuangan politik yang dilakoninya menjadi tak mudah. Ia dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) hadir sebelum waktunya, mereka bergerak tanpa mengandalkan kekuatan massa. Partai itu juga sering dianggap sebagai partai intelektual yang elitis. Itulah sebabnya mengapa partai Sosialis mengalami kekalahan telak pada Pemilu tahun 1955 dengan perolehan 753 ribu suara dari total 38 juta suara dan hanya mampu mengantar lima kadernya menuju Jakarta. Suatu hal yang sedikit mengherankan mengingat pemimpin partainya adalah orang yang dua kali berturut-turut menjadi Perdana Menteri. Sebuah fakta menarik yang tampaknya perlu dikaji lebih dalam, dan buku ini merupakan salah satu usaha untuk mengkajinya.

Sutan Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil adalah kumpulan laporan khusus yang ditulis para wartawan Tempo untuk mengenang seratus tahun para tokoh. Soekarno 2001, Hatta 2002, dan Sjahrir 2009. Buku ini dimaksudkan sebagai salah satu seri buku empat serangkai pendiri bangsa, yaitu Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Demi menghadirkan edisi khusus ini, sejumlah film dokumeter mengenai perjuangan Sutan Sjahrir diputar di kantor majalah Tempo. Serangkaian diskusi diadakan dengan melibatkan orang-orang yang mengenal Sjahrir maupun mereka yang mendalami pemikiran Sjahrir, seperti Rosihan Anwar, Des Alwi, Minarsih Soedarpo, Siti Rabyah Parvati, Rushdy Hoesein, Rahman Tolleng, dan Koeswari. Dari serangkaian diskusi itulah, diperoleh berbagai pandangan mengenai Sutan Sjahrir.

Buku ini disusun secara sistematis, menampilkan sejarah kehidupan Sutan Sjahrir sejak masa kanak-kanak di medan hingga pembuangannya di Zurich, Swiss. Masa kecil Sjahrir ditelusuri hinga ke tanah Minang, tempat kelahirannya. Pendidikannya di Belanda yang tak urung memberikan pengaruh besar terhadap perjuangan politiknya juga menjadi pembahasan tersendiri dalam buku ini. Bagian terpenting dari buku ini tak lain adalah perjuangan politik Sjahrir di Indonesia sejak ia berkolaborasi dengan Hatta meneruskan PNI-Soekarno hingga usahanya mendirikan partai Sosialis Indonesia yang mengalami kekalahan pada pemilu tahun 1955. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan pembahasan mengenai beberapa buku karangan Sjahrir, yaitu Perjuangan Kita dan Renungan dan Perjuangan serta kolom-kolom para akademisi seperti Vedi R. Hadiz, Daniel Dhakidae, Ignas Kleden, dan Harry Poeze.

Bung Kecil adalah sebutan yang biasa diberikan orang-orang kepada mantan Perdana Menteri pertama Indonesia itu mengingat perawakannya yang kecil, kurang dari 150 cm. Ia merupakan satu dari tujuh “Bapak Revolusi Indonesia”. Jalan perjuangan yang dipilihnya adalah jalan diplomasi yang elegan. Ia adalah orang Indonesia pertama yang berbicara di depan Dewan Keamanan PBB. Pada tanggal 14 Agustus 1947, Sjahrir berbicara tentang sebuah bangsa muda dengan sejarah peradaban yang panjang bernama Indonesia, di depan Sidang Dewan Keamanan Lake Success, Amerika Serikat. Ia juga yang meletakkan dasar-dasar politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Untuk menembus blokade Belanda dan menaikkan pamor Indonesia di mata internasional, ia dengan cerdik menawarkan bantuan beras kepada India yang sedang dilanda gagal panen.

Meski demikian, beberapa kebijakannya juga seringkali bersifat kontroversial. Misalnya saja Perjanjian Linggarjati yang oleh kaum Republik dinilai merugikan Indonesia. Namun, perjanjian ini sebenarnya merupakan batu loncatan untuk menuju kemerdekaan penuh, dengan jalan internasionalisasi persoalan Indonesia yang tadinya hanya dianggap sebagai urusan bangsa penjajah dengan bangsa terjajah. Hubungan Sjahrir juga tidak selalu mesra dengan para founding father lain. Dengan Soekarno dan Tan Malaka, hubungan mereka hanya berlangsung singkat karena adanya perbedaan ideologi. Hari-hari kejayaan Sjahrir memang terbilang cukup pendek hingga akhirnya ia terhukum untuk berada di pinggir, sebagai pemimpin partai sosial demokratik yang kecil. Sosialis Belanda, Sal Tas menyebut Sjahrir sebagai simbol tragedi Indonesia. Ia adalah orang yang “gugur dan gagal”.

Buku ini melengkapi pengetahuan kita akan keempat sosok founding father bangsa ini. Di antara sekian banyak buku sejenis yang bertebaran, buku-buku Tempo selalu memiliki warna tersendiri. Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil memang tidak ditulis dengan kompetensi seorang sejarawan dan tidak berpretensi untuk menguji masa lalu dengan metode yang ketat. Namun, buku ini disajikan dalam pendekatan jurnalistik yang humanis. Penelusuran dengan melibatkan tokoh-tokoh di sekitar Sjahrir memberikan kedekatan emosional tersendiri terhadap penulisan buku ini. Buku ini tidak hanya menyajikan sosok Sjahrir sebagai seorang revolusioner, melainkan juga sebagai seorang manusia lengkap dengan kekuatan dan kelemahannya. Selain itu, buku ini juga menyajikan berbagai detail menarik baik tentang Sjahrir maupun tentang peristiwa yang terjadi pada masa kehidupan Bung Kecil ini. Misalnya saja, siapa yang tahu bahwa ternyata proklamasi kemerdekaan dibacakan sebelum tanggal 17 Agustus di Cirebon?

Namun, beberapa kritik juga bermunculan menyusul edisi khusus empat pendiri bangsa yang disusun oleh Tempo ini. Seperti yang dikatakan oleh Goenawan Mohamad, buku ini seolah menandakan adanya glorifikasi terhadap tokoh masa lalu. Masa silam merupakan era gilang gemilang sedangkan masa kini adalah dekade yang suram. Buku ini mungkin juga tidak bisa dianggap sebagai sebuah buku sejarah. Namun, sebagai sebuah memoar atau catatan, buku ini mampu berbicara dengan pendekatan yang humanis untuk menguraikan perjalanan hidup, pemikiran-pemikirannya, serta kedekatannya dengan ideologi sosialis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s