Cerpen

GENOCIDE


“Paduka Tuan, bukan saya tidak mau melaksanakan pekerjaan yang berat ini, namun saya minta pertimbangan, karena pekerjaan saya ini lebih berat daripada yang lain. Karena pasti tidak akan mendapat pertimbangan, maka saya perlihatkan keberanian saya kepada Paduka Tuan, bahwa Regent Sumedang yang bernama Koesoemadinata lebih baik mati menjadi korban daripada rakyat yang tidak berdosa!”
Ndoro Pangeran mengucapkan kata-kata itu dengan tegas, matanya yang menyala-yala kian membara. Ia tidak menunduk, pun tidak memberi hormat. Matanya bersitatap dengan Daendels seolah Dandels bukan seorang Gubernur Jenderal, orang nomor satu di Tanah Hindia Belanda. Tangan kanannya mencengkeram erat hulu keris Nagasasra sementara tangan kirinya menjabat tangan Gubernur Jenderal itu.
Aku berdiri jauh di belakangnya, menatap dengan was-was. Suasana perlawanan yang kian menjalar bukan tak mungkin memicu perumpahan darah. Daendels pun tampak terheran-heran, menatap Ndoro Pangeran dengan tak percaya. Wajahnya yang tadi sumringah melihat keberadaan Ndoro Pangeran menyambut inspeksinya, kini memucat. Apalagi ketika melihat Ndoro Pangeran mencengkeram keris Nagasasra. Tapi, Daendels tampak memahami situasi. Perjalanan inspeksinya telah dinanti dengan rencana pemberontakan. Ia melunak dan mengendurkan raut mukanya. Ditemani Tuan Residen dan Asisten Residen, Gubernur Jenderal itu mencoba bermanis muka pada Ndoro Pangeran. Dalam banyak kesempatan, Daendels bukan orang yang pintar dalam pergaulannya dengan raja-raja Jawa. Ia kaku dan sering menyulut pertikaian dengan raja-raja Jawa.
“Tuan Adipati, saya pun tidak ingin menyusahkan rakyat Tuan. Mulai sekarang pembangunan Jalan Raya Pos akan dilakukan oleh pasukan Zeni Belanda. Biarlah rakyat Sumedang hanya membantu saja,” putusnya. Ndoro Pangeran hanya diam. Ia mengangguk-angguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Beberapa hari berlalu sejak perlawanan kami di Ciherang itu. Pembuatan jalan raya pos terhenti. Ndoro Pangeran sendiri yang menitahkannya. Rakyat ia pulangkan. Ia biarkan jalan raya pos yang katanya akan ditangani sendiri oleh pasukan Zeni Belanda itu terbengkalai. Namun, beberapa hari setelahnya, seorang mata-mata tampak tergopoh-gopoh memasuki halaman kadipaten. Ndoro Pangeran tengah bersiap hendak melakukan perjalanan berkuda. Melihat kedatangan seorang mata-mata, Ndoro Pangeran menambatkan kembali kudanya. Mata-mata itu mengatakan sesuatu pada Ndoro Pangeran, yang langsung membuat Ndoro Pangeran memancar amarahnya. Dipanggilnya Demang Kalodang, Demang Suranda, serta beberapa orang kepercayaan. Ia titahkan sesuatu pada mereka.
“Adakah sesuatu yang tidak mengenakkan hati Ndoro Pangeran?”, tanyaku ketika ia tergesa-gesa masuk ke kamar. Tanpa mempedulikan pertanyaanku, ia membuka peti penyimpanan pusaka. Ia mengelap keris Nagasasra dan menyarungkannya.
“Apakah ada pemberontakan, Ndoro Pangeran?”tanyaku lagi. Aku tak dapat menahan diri melihatnya menyarungkan keris Nagasasra. Mestinya, sesuatu yang buruk telah terjadi.
Ndoro Pangeran beralih padaku. Ia menatapku dengan sayu.
“Daendels keparat mengkhianati janjinya. Ia membawa hampir seribu bala pasukan dan telah sampai di Tanjungsari. Aku akan menyosongnya di Cadas Pangeran.”
Mendengar jawabannya, sontak aku berdiri. Daendels! Semua hanya akal-akalan. “Kau tak perlu ikut,” cegahnya melihatku. “Mungkin ini akan menjadi pemberontakan yang hebat dan berbahaya. Jaga kadipaten, anak-anak, dan mbak ayu-mu,” lanjutnya.
Aku tahu siapa yang dimaksudkannya dengan mbak ayu-mu. Pasti tak lain dari maduku, istri sah Ndoro Pangeran, Raden Ayu Candranegara. Perempuan itu adalah putri bupati Tanubaya II, orang yang karena hasutan Demang Dongkol pernah berniat menangkap Ndoro Pangeran hidup atau mati. Pernikahan Ndoro Pangeran dengan perempuan itu pun kukira tak lebih dari sekedar perkawinan politis. Ia jauh lebih sering bersamaku daripada dengan istri sahnya. Aku menyertainya hampir dalam setiap perjalanan dan perlawanan.
Kupandangi Ndoro Pangeran hingga ia keluar dari kamar dan bergabung dengan prajurit yang telah disiapkan Demang Kalodang di halaman kadipaten. Ndoro Pangeran sendiri yang memimpin prajurit itu. Disertai hampir lima ratus prajurit, ia hela kudanya ke arah Cadas Pangeran.
Konon, perlawanan hebat terjadi di Cadas Pangeran. Daendels membawa serta seribu pasukan Kompeni. Perlawanan menjadi tidak seimbang. Sekian banyak prajurit berguguran. Ketika langit barat mulai memerah, beberapa prajurit yang masih selamat tampak berlari memasuki halaman kadipaten. Aku menyongsong mereka di pendopo.
“Bagaimana ? Bagaimana perlawanan di Cadas Pangeran?”
“Ndoro Pangeran, Raden Ayu… Ndoro Pangeran.” Prajurit itu berkata dengan tergagap. Mendadak aku merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Raden Ayu Candranegara keluar dari rumahnya yang berada di sisi kanan pendopo kadipaten.
“Mana Kanjeng Pangeran?” tanyanya. Tak ada yang menjawab pertanyaannya kecuali kedatangan serombongan prajurit. Mereka tampak kelelahan, sebagian terluka, dan ada pula yang ditandu. Firasatku mengatakan, kami mengalami kekalahan. Demang Kalodang mengiringkannya dari belakang dengan muka tertunduk.
Raden Ayu Candranegara setengah berlari menghampiri prajurit yang baru saja tiba di halaman kadipaten itu. Aku melihat Ndoro Pangeran di atas salah satu tandu. Kupanggil para dukun dan tabib kadipaten. Empat orang prajurit yang mengusungnya membawa Ndoro Pangeran ke kamarku diikuti pandangan tak rela Raden Ayu Candranegara. Tapi aku tak sempat dan tak ingin memikirkannya.
Sebuah luka tembakan menganga di dada sebelah kiri. Bahunya tampak tergores. Darah terus mengalir dari lukanya, merembes memerahkan bajunya. Aku tak yakin benar kalau Ndoro Pangeran masih baik-baik saja. Para tabib sibuk membalut luka dan menyiapkan berbagai ramuan. Hanya beberapa lama, dan Ndoro Pangeran dengan isyarat menghentikannya. Ia menatapku sebelum maut benar-benar mengajaknya bercengkerama.
“Aku tidak akan pernah membiarkan ketidakadilan ini terjadi di depan mataku, di bawah telapak tanganku, meski aku harus membayarnya dengan nyawaku sendiri.” Ia berkata dengan nada tegas yang lemah.
Ndoro Pangeran sedikit terlonjak sebelum akhirnya terpejam dan tak bergerak lagi. Para demang menghela napas dan menunduk. Raden Ayu Candranegara histeris memeluknya sedang aku hanya mematung diam tak bergeming sedikitpun. Tak ada yang perlu ditangisi atas kematiannya karena jalan kematian ini pun tak pernah disesalinya.
Titah itu telah turun. Terdengar kabar bahwa Gubernur Jenderal Herman Williams Daendels ingin membangun De Groote Postweg di sepanjang pantai utara Jawa untuk menahan serangan Inggris. Mulanya, Daendels hanya berniat memperbaiki jalan Cisarua-Karangsembung. Tapi kemudian, ia lanjutkan pembangunan dan pelebaran jalan itu hingga ke Panarukan di ujung Jawa bagian timur sana. Untuk itu, Daendels meminta pada tiap bupati di daerah-daerah yang dilalui untuk mengirimkan seribu orang rakyat setiap harinya.
Jalan raya pos itu berawal dari Anyer, terus ke arah barat hingga Cilegon, Banten, Serang, Tanggeran, Batavia, Meester Cornelis, Depok, Buitenzorg, Priangan, Cianjur, Cimahi, dan Bandung. Sekitar empat puluh kilometer ke timur, sedikit serong ke timur laut, jalan raya itu sampai pula ke kadipaten kami, Sumedang, setelah melewati lembah dan bukit pertemuan kaki Gunung Burangrang dan Tunggul di bagian Utara dengan gunung Calancang di bagian selatan.
Ndoro Pangeran pun mengirimkan seribu rakyatnya untuk tahap pertama pembangunan jalan itu, mengikuti perintah Gubernur Jenderal yang disampaikan oleh Tuan Asisten Residen. Namun, sudah beberapa minggu ini Ndoro Pangeran selalu gelisah. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Pikirannya selalu mengembara ke Cadas Pangeran, tempat rakyatnya membelah bukit terjal yang keras dengan peralatan yang sangat sederhana. Cadas Pangeran adalah sebuah bukit batu terjal. Untuk membangun jalan raya pos, rakyat harus membelah bukit sementara peralatan yang mereka miliki tak lebih dari kapak, dan palu.
Sebagai seorang selir, kadang aku lebih tahu daripada siapapun termasuk istri sahnya ataupun para Demang. Ndoro Pangeran tak pernah sungkan menceritakan apapun padaku, entah tentang masalah-masalah di kadipaten, hubungan dengan pemerintah Hindia Belanda, atau pun tentang pikiran-pikiran yang tengah meruwet dalam benaknya. Yang kudengar, Gubernur Jenderal Daendels pun bukan utusan Kerajaan Belanda secara langsung. Ia adalah utusan Raja Louis Napoleon, seorang Perancis. Kerajaan Belanda nun jauh di sana tengah diduduki oleh Kekaisaran Napoleon dari Perancis. Jadi, dengan kata lain, mereka pun sebenarnya bangsa terjajah. Yang tidak aku mengerti, mengapa mereka menjajah tanah kami sementara mereka sendiri melawan penjajahan Perancis atas negaranya.
Hampir setiap hari Ndoro Pangeran mendapatkan laporan adanya korban berjatuhan di daerah Cadas Pangeran. Pembangunan itu memang tidak berimbang. Bagaimana mungkin rakyat kami membelah gunung hanya dengan kapak, cangkul, dan palu? Setiap hari rakyat dikerahkan demi pembangunan jalan itu, tapi setiap hari pula rakyat mati dalam jumlah puluhan bahkan ratusan. Kematian mereka hingga tak terhitung, terkubur begitu saja di bawah pembangunan jalan raya pos. Banyak yang kelaparan, kelelahan, diterkam binatang buas, dan akhirnya mati. Rakyat yang mati itu hanya tinggal menyisakan janda dan anak-anak yang kemudian menjadi beban kadipaten. Pembangunan jalan raya pos di Cadas Pangeran ini kukira adalah sebuah pembunuhan massal dengan tangan bersih hingga korban nyaris 5000 rakyat tanpa nama. Sebuah kejahatan kemanusiaan yang tak tersentuh perundang-undangan.
Mendengar laporan mata-mata dari Cadas Pangeran yang selalu menyedihkan hatinya itu, Ndoro Pangeran bertekad mengadakan perlawanan. Sungguh, tak dapat ia biarkan rakyatnya mati di bawah kesewenang-wenangan sistem Kompeni, sementara ia menyaksikannya sendiri. Ribuan rakyatnya terkubur di bawah jalan raya pos, menjadi tumbal pembangunan pemerintah Kompeni tanpa suatu penghormatan. Maka, ia kumpulkan para demang kepercayaan untuk membicarakan rencana perlawanan. Hingga suatu hari ketika Daendels mengadakan inspeksi, kami hadang rombongan Kompeni itu di Ciherang. Kami catatkan perlawanan atas kesewenang-wenangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s