Catatan

Ketika Didik Nini Thowok Bicara Nasionalisme: Sebuah Wawancara


Tanpa birokrasi yang terlalu rumit, kami berhasil menemui Didik Nini Thowok di kantornya Jalan Godean km 2,8 Ruko Green Plaza Kav. 7, Sleman. Sang seniman tari ini terlihat sangat sederhana dan santai di ruang kerjanya, menghadapi komputer dan buku-buku. Di ruang kerja kantornya itu pula kami mendapat kesempatan untuk mengadakan wawancara dengan beliau.

Q: Nasionalisme itu apa?
A: Nasionalisme itu terkait bagaimana kita menjadi warga negara yang baik, bangga sebagai warga negara Indonesia dan mencintai tanah airnya.
Q: Kalau melihat profesi anda sebagai seorang seniman, bagaimana cara anda mengapresiasi nasionalisme?
A: Saya itu bisa berbuat tapi kalau mendefinisikannya susah. Yang menilai orang punya nasionalisme atau tidak itu kan orang lain. Tapi, saya bangga sebagai orang Indonesia pada waktu saya memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri. Misalnya, di Jepang, di Amerika. Nasionalisme itu juga diwujudkan dengan memperbaiki penilaian atau image yang kurang bagus terhadap bangsa kita. Contohnya, bangsa kita itu dikenal sebagai bangsa yang tidak ontime. Jadi, kalau saya di luar negeri, saya selalu membuktikan bahwa kita itu bisa ontime. Saya kalau di luar negeri selalu memberi meskipun hanya barang-barang kecil seperti syal batik atau apa. Indonesia bukan negara yang tidak disiplin, suka ngemis, korupsinya tinggi, atau yang semacamnya. Saya rasa apa yang saya lakukan itu ada unsur nasionalismenya.
Q: Pada dasarnya, sepenting apakah rasa nasionalisme itu menurut anda ?
A: Penting. Kita ingat beberapa waktu yang lalu, saat Malaysia mengklaim reog, atau mengklaim batik. Orang-orang Indonesia langsung marah-marah, teriak-teriak. Tapi itu salah siapa? Jangan salahkan mereka. Malaysia itu ibaratnya cuma toko kecil, sedangkan Indonesia itu sebuah supermarket yang besar dan lengkap. Tapi, supermarket itu tidak terpelihara sehingga banyak barang yang tercecer. Jadi, jangan salahkan pemilik toko kalau dia melihat dan mengambil barang bagus terbuang-buang tidak terpelihara di supermarket besar itu.
Q: Menurut anda bagaimana kondisi nasionalisme rakyat Indonesia saat ini, terutama generasi muda?
A: Saya tidak mau menilai, silakan dipikir sendiri. Tapi, kalau kita lihat saja generasi muda sekarang lebih suka membawakan budaya luar daripada budaya kita sendiri. Generasi muda lebih bangga dengan budaya negara lain. Padahal, menurut saya, nasionalime itu mengekspos apa yang bisa kita unggulkan terhadap bangsa asing. Sekarang kalau kita berbicara tentang realita, banyak orang Indonesia itu yang di Indonesia mereka tidak dihargai tapi di luar negeri mereka mendapatkan fasilitas yang cukup. Lalu, mereka memilih untuk tinggal di luar negeri. Apakah mereka tidak mempunyai rasa nasionalisme? Nanti dulu. Kita lihat bagaimana dia hidup di luar negeri. Lebih baik berada di luar negeri untuk berkarya dan mengenalkan budaya Indonesia daripada yang tetap di Indonesia diam dan tidak mengenal budaya Indonesia.
Q: Sejak seorang warga negara masih duduk di bangku SD, kita sudah dijejali dengan berbagai ajaran tentang nasionalisme. Menurut anda, sejauh apakah pendidikan tersebut berperan dalam menanamkan rasa nasionalisme ?
A: Apakah orang yang mendapatkan pendidikan kewarganegaraan itu pasti jadi orang baik? Belum tentu. Sekarang itu kita memerlukan pendidikan budi pekerti. Budi pekerti berbeda dengan pendidikan agama, kalau pendidikan budi pekerti itu lebih luas cakupannya. Itu saya rasa penting.
Q: Seberapa besar pengaruh globalisasi itu terhadap kebudayaan Indonesia dan rasa nasionalisme?
A: Sangat kuat. Meski, akulturasi itu sejak dulu sudah ada. Wedang ronde itu dari mana? Wedang ronde itu dari Cina. Dalam kebudayaan Bali pengaruh Cina juga sangat kuat, misalnya terlihat dalam warna-warna merah emas yang digunakan. Generasi muda sekarang itu seperti melihat dengan kacamata kuda. Jadi yang dilihat itu depan terus sementara dia tidak bisa melihat apa yang indah-indah di samping kanan-kirinya. Kita terus-menerus berbicara tentang sesuatu yang tinggi, mengejar modernitas seperti Barat tapi melupakan akarnya. Kita lupa bagaimana kepribadian bangsa kita sendiri.
Q: Terakhir, bagaimanakah cara untuk menanamkan dan mempertahankan rasa nasionalisme ?
A: Kadang-kadang kita itu masih punya mental inlanders. Jadi kalau ada sesuatu yang berbau Barat selalu dianggap ‘wah’, selalu dianggap baik. Padahal kan tidak. Cara menanamkan nasionalisme, yaitu mulai dari mendidik anak-anak kecil yang belum terpengaruh hal-hal buruk karena kalau sudah dewasa itu sangat sulit diubah. Kita ajarkan mereka bagaimana mencintai bangsa kita, mengenal kebudayaan bangsa kita. Jangan sampai mereka meniru perilaku generasi tua yang kurang baik.

Data Narasumber
Nama : Didik Nini Thowok
Nama asli : Didik Hadiprayitno
Tempat/tanggal lahir: Temanggung, 13 November 1954
Orang tua : Kwee Yoe Tiang dan Suminah
Alamat Kantor: Jl. Godean km 2,8 Ruko Green Plaza Kav. 7 Sleman, Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s