Sastra / Saya membaca...

LES MISÉRABLES


Banyak tindakan hebat telah dilakukan di dalam perjuangan-perjuangan kecil kehidupan. Ada keberanian yang kukuh meskipun tak terlihat, untuk mempertahankan diri dalam kegelapan melawan serbuan kemiskinan dan kebejatan moral. Inilah kemuliaan dan kemenangan batin yang tidak terlihat oleh siapapun, tidak berbalas kemasyhuran, tidak ada lambaian tangan penghormatan atas kemenangan. Kehidupan, kemalangan, keterasingan, penolakan, kemiskinan, adalah medan perang yang memiliki pahlawan-pahlawan tersendiri. Para pahlawan yang tak dikenal ini kadang justru lebih hebat daripada para pahlawan yang termasyhur.
-Les Miserables, hal. 290
Pada tahun 1996, Walt Disney memfilmkan sebuah buku termahsyur berjudul Notre Dame de Paris dengan judul The Hunchback of the Notre Dame. Film yang konon memakan waktu pembuatan selama 3 tahun ini memiliki tokoh-tokoh seperti Quasimodo si bungkuk yang baik hati, Esmeralda si gadis Gypsi, Kapten Phoebus yang pemberani, serta Frollo si hakim kejam. Pengarang Notre Dame de Paris tersebut tak lain adalah Victor Hugo, seorang pengarang Prancis yang karya-karyanya menjadi titik tolak terbesar bagi gerakan romantisme. Victor Hugo adalah salah satu sosok paling berpengaruh dalam kesusasteraan abad ke-19. Selain Notre Dame de Paris, salah satu karya terbesar yang pernah ditulisnya berjudul Les Miserables ‘para jembel’.
Banyak karya-karya besar justru lahir dalam situasi pembuangan, situasi keterasingan. Demikian halnya dengan Les Miserables, novel ini merupakan karya terbesar yang ditulisnya semasa pembuangan di Pulau Guernsey pada tahun 1851 karena ia dianggap beroposisi dengan Napoleon III.
Les Miserables mengisahkan tentang kehidupan seorang mantan narapidana bernama Jean Valjean. Jean Valjean dihukum kerja paksa di kapal Toulon selama 19 tahun karena sebuah kesalahan kecil, yaitu mencuri roti. Ketika itu Jean Valjean hanyalah seorang tukang kebun di sebuah kota kecil Faverolles yang harus ikut menghidupi keponakan-keponakannya. Suatu kali ia pulang tanpa membawa sepotong roti pun untuk keponakan-keponakannya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk mencuri sepotong roti, yang berakibat pada hukuman kerja paksa di kapal Toulon meski ia tak berhasil mendapatkan sepotong roti pun.
Kapal kerja paksa Toulon telah mengubah seorang Jean Valjean menjadi sosok yang keras. Ia memasuki kapal kerja paksa Toulon dengan kepala tertunduk, tapi keluar dengan dagu terangkat dan tanpa mau menoleh ke belakang. Tak pernah sekalipun air mata menetes selama 19 tahun hukumannya. Setelah bebas dari hukumannya, ternyata ia masih harus menghadapi kenyataan pahit di tengah masyarakat.
Berbekal KTP kuning, ia tidak diterima di kota D___ . Hanya Uskup kota itu yang masih mau berbaik hati padanya. Tapi, Jean Valjean justru kembali melakukan kesalahan dengan mencuri barang-barang perak sang uskup meski sang uskup merelakannya. Sang uskup itu pula yang membuatnya merasa dimanusiakan, membuatnya berfikir ulang atas dirinya dan fungsinya di tengah kehidupan. Singkat cerita, ia mengalami perjalanan yang panjang dalam hidupnya. Ia menjadi walikota di M___sur m__ dengan nama Monsieur Madelaine. Tapi, ia kembali menjadi tahanan seumur hidup di kapal kerja paksa Toulon karena menyelamatkan seorang tukang kebun, mengadopsi Cosette putri Fantine, dikejar-kejar oleh Inspektur polisi Javert, berjuang di barikade untuk Revolusi Perancis, hingga akhirnya ia meninggal setelah Cosette menikah dan kesendirian begitu menyergapnya.
Victor Hugo melukiskan setiap konflik psikologis dengan sangat detail dan menawan. Misalnya ketika Cosette diminta oleh Thernadier untuk mengambil air di sebuah mata air yang jauhnya 15 menit perjalanan dari Montfermeil pada malam hari. Peristiwa itu menjadi sebuah peristiwa yang penting dalam cerita ini karena pada saat mengambil air itulah Cosette memulai titik balik hidupnya. Les Miserables mengisahkan dengan sangat detail bagaimana ketakutan Cosette sehingga pembaca seolah dapat ikut merasakan ketakutan itu. Ia takut berjalan sendirian di malam hari, tapi ia pun lebih takut lagi bila dimarahi oleh istri Thernadier. Kegelapan makin menambah ketakutannya. Ada suara-suara di kesunyian dan keheningan total yang mencekam. Ketakutan dan kesedihan membaur menjadi satu setiap kali dalam langkahnya ia mengenangkan Eponine dan Azelma, boneka “Sang Putri” seharga 30 pound, dan perilaku istri Thernadier yang kejam. Setiap ia berlari, ketakutan makin berlipat dan berlipat. Ada keheningan, kesendirian, kenestapaan, ketakutan, dan kesedihan. Seember air terasa begitu berat di tangannya. Hingga Jean Valjean menjadi malaikat penolong yang membawakan seember air dari tangannya dalam kegelapan itu.
Kiasan-kiasan yang digunakan oleh pengarang ini juga terasa segar. Sebagai seorang mantan narapidana yang tidak diterima di manapun ia berada, Jean Valjean nyaris memiliki kebencian terhadap masyarakat dan tatanan hukum. Victor Hugo melukiskan keadaan itu dengan kalimat: Jika sebutir benih gandum di bawah mesin giling bisa berfikir, ia tentu juga akan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Jean Valjean. Demikian katanya di halaman 29. Jean Valjean diibaratkan sebagai benih gandum dan masyarakat adalah mesin gilingnya. Kebenciannya pada hukum manusia berkembang menjadi pada masyarakat umat manusia dalam bentuk hasrat untuk melukai sesama.
Tidak sekedar bercerita, dalam novel ini dapat ditemukan buah perenungan pengarang terkait situasi kehidupan yang terjadi pada masanya. Lewat novel ini, Victor Hugo membicarakan konsep-konsep revolusi Prancis, yaitu freternite, liberte, dan egalite. Kedaulatan atas diri sendiri itulah yang disebut kebebasan. Kesetaraan adalah keadaan ketika semua orang memiliki kesempatan yang sama secara politis maupun religius. Kesetaraan politis yaitu ketika semua orang memiliki hak suara yang sama, dan terkait kebebasan yaitu hak suara yang bebas dari intervensi pihak lain. Secara religius, kesetaraan diwujudkan ketika semua keyakinan memiliki hak yang sama untuk menjalankan peribadatannya, ritualnya, dan kehidupannya. Lebih lanjut, kesetaraan memiliki sebuah alat, yaitu pendidikan.
Novel ini merupakan salah satu novel yang tepat bila kita ingin melihat situasi kehidupan Prancis abad ke-19. Abad ke-19 dapat dikatakan sebagai sebuah periode yang sangat penting bagi bangsa Perancis. Pada abad itu, revolusi Perancis bergulir dan mengubah segalanya. Dengan melihat peristiwa yang terjadi pada saat itu, kita akan melihat Perancis dalam masa transisi, masa pergolakan. Secara tidak langsung, ada cerita tentang kenangan Perancis sebelum Revolusi dan perkiraan-perkiraan seperti apa Perancis setelah Revolusi.
Tentunya, ini hanyalah sekedar hasil pembacaan saya. Novel ini begitu kaya untuk dieksplorasi, jadi jangan berhenti pada pembacaan saya. Tapi, bacalah sendiri.! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s