Akademika / Cahaya / Saya membaca...

SIRAH NABAWIYAH DARI KACAMATA ASMA PUTRI ABU BAKR



Data Buku
Judul : Pengikat Surga
Pengarang : Hisani Bent Soe
Penerbit : Ten-Q, Cimahi
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : 1, Mei 2010
Tebal : xii + 400 halaman

Kemuliaan dan perjuangan Rasulullah memang tak akan pernah habis untuk dikaji. Hingga saat ini telah ada puluhan buku sirah yang meriwayatkan kisah Nabi Muhammad, tak terkecuali dalam bentuk novel. Pada tahun 2010, muncul sebuah novel sirah karangan Tasaro GK berjudul Muhammad. Novel ini cukup meledak di pasaran. Masih pada tahun yang sama, muncul pula sebuah novel berjudul Pengikat Surga karangan Hisani Bent Soe yang semakin memperkaya khazanah novel Indonesia, khususnya yang bergenre sirah.
Judul novel ini, Pengikat Surga, terinspirasi dari gelar Asma binti Abu Bakr. Asma binti Abu Bakr adalah salah satu putri Abu Bakr yang dijamin masuk surga oleh Allah dengan gelar ‘wanita bersabuk dari surga’. Asma mendapatkan gelar ini dari sebuah tugas mulia. Ketika Rasulullah dalam perjalanan untuk hijrah ke Madinah, Asma yang mendapatkan tugas untuk mengantar makanan bagi beliau selama di perjalanan. Ketika itu ia tengah hamil putra pertamanya. Sampai di bukit batu terjal menuju gua Tsur, keterjalan bukit itu memaksanya untuk mendaki sehingga tidak mungkin menenteng makanan. Oleh karena itu, ia kemudian membagi dua kain penyangga bayinya untuk mengikatkan makanan ke badan agar bisa mendaki bukit Tsur dengan mudah.
Novel dengan cover dominan warna coklat pastel ini mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad beserta sahabat-sahabat terdekatnya dari kacamata Asma binti Abu Bakr. Tokoh-tokoh dalam novel ini merupakan tokoh historis. Settingnya, baik setting tempat maupun waktu, juga didasarkan pada hasil rekonstruksi sejarah. Setting yang diambil dalam novel ini meliputi masa awal turunnya wahyu hingga masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Novel ini dibuka dengan kisah tentang persahabatan Asma dengan Ruqayyah binti Muhammad. Ketika Muhammad mendapat wahyu pertamanya di gua Hira, Asma tak membutuhkan waktu lama untuk mengikuti jejak sang ayah Abu Bakr masuk Islam. Dalam perjuangan dakwah kala itu, ia mendapat tugas untuk mengawasi orang-orang Islam yang lemah dan membutuhkan perlindungan dari kekejaman masyarakat Jahiliah.
Asma kemudian menikah dengan Az Zubair ibn ‘Awwam. Dari pernikahannya tersebut, ia mendapatkan seorang putra yang lahir di tanah Yastrib bernama Abdullah. Putranya ini merupakan bayi pertama yang lahir di Madinah setelah Rasulullah hijrah. Namun, kebahagiaan Asma bersama Az Zubair ibn Awwam tidak berlangsung lama. Sejak lama, Az Zubair memendam perasaan pada Atikah binti Zaid. Setelah wafatnya khalifah Umar dan Atikah menjadi janda, Az Zubair pun menceraikan Asma demi janda sang khalifah itu. Perceraian antara Asma dengan Az Zubair ini sekaligus menjadi akhir cerita. Bersama dengan perjalanan hidup Asma ini, dikisahkan pula tentang kejadian-kejadian pada masa Rasulullah seperti peristiwa hijrah, Isra’ Mi’raj, perang Badar, dan perang Uhud. Secara sekilas, novel ini juga mengisahkan tentang Aisyah binti Abu Bakr, adik Asma yang kemudian menjadi istri Rasulullah.
Awalnya, novel ini dipublikasikan dalam bentuk catatan di jejaring sosial facebook. Catatan di facebook tersebut ternyata mendapatkan sambutan positif dari banyak pihak. Banyaknya sambutan positif dari para pembaca catatannya tersebut membuat Hisani Bent Soe yang juga seorang pengajar di STIU Al-Hikmah Jakarta ini berani membukukan catatan-catatannya dalam bentuk novel. Novel ini sekaligus juga merupakan debut pertama dari Penerbit Ten-Q, sebuah penerbit yang juga dirintis oleh pengarang.
Salah satu hal yang patut diapresiasi dari novel ini adalah gaya penceritaannya. Novel ini tidak diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga sebagaimana halnya dalam sirah-sirah lain. Dalam novel ini, pengarang mencoba mengisahkan dengan sudut pandang orang pertama, Asma binti Abu Bakr. Sudut pandang orang pertama yang digunakan dalam novel ini membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian-kejadian yang dialami oleh para tokohnya. Sejarah Islam terasa dekat dan aktual meski sebenarnya telah terjadi ribuan tahun yang lalu.
Lewat novel ini, secara tidak langsung pembaca juga dapat belajar mengenai ayat-ayat al-Qur’an lengkap dengan asal mula turunnya ayat atau asbabun nuzulnya. Pengikat Surga mengisahkan secara berurutan sejak turunnya ayat pertama Al-Alaq ayat 1-5 hingga ayat terakhir yang turun menjelang wafatnya Rasulullah. Untuk setiap ayat yang dikutip, pengarang menyediakan indeksnya pada halaman akhir novel. Indeks ini memudahkan pembaca untuk mengecek ulang ayat-ayat yang bersangkutan.
Pembaca yang kurang akrab dengan istilah-istilah dalam bahasa Arab juga tidak perlu khawatir. Di bagian akhir novel ini, terdapat sebuah glosarium sederhana untuk setiap istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan dalam novel seperti ashir ‘jus’, haimanah ‘lembaran’, fathur ‘sarapan’, dan sebagainya. Mengingat novel ini pada dasarnya merupakan novel sejarah Islam, pembaca juga akan menjumpai peta-peta seperti peta rute hijrah Rasulullah ke Madinah dan peta ekspedisi penaklukan Islam. Ketika bercerita tentang perjanjian tertentu, novel ini juga dilengkapi dengan naskah perjanjian yang bersangkutan seperti naskah perjanjian Hudaybiyah dan piagam Madinah.
Dari segi fisik, novel ini menggunakan kertas yellow nature yang relatif ramah dengan indera penglihatan dan tidak silau. Jenis dan ukuran huruf yang digunakan dalam buku setebal 400 halaman ini tidak terlalu kecil sehingga tidak melelahkan mata. Warna covernya yang teduh juga semakin terlihat serasi dengan komposisi gambar sampul seekor kupu-kupu menghisap nektar bunga berwarna merah muda.
Namun, sayangnya ada beberapa teknik penulisan yang kurang diperhatikan dalam novel ini, seperti kurangnya tanda titik, penggunaan tanda koma yang kurang sesuai, kesalahan penggunaan huruf kapital, dan pemisahan kata depan dengan kata kerja yang menyalahi ejaan. Penulisan kata-katanya juga kurang teliti sehingga mengganggu pembacaan. Hampir tiap dua halaman dapat ditemukan kesalahan penulisan. Sebagai contoh, pada halaman 127 kata kemuliaan menjadi kemulian, datang menjadi dating pada halaman 218, mengatahui pada halaman 248, mutualisma pada halaman 250, dan hokum pada halaman 252, dan Rasululla pada halaman 279.
Selain itu, ada beberapa detail cerita yang tidak diceritakan dengan lengkap dalam novel ini. Hal ini mungkin akan membuat pembaca merasa telah melewatkan satu atau beberapa bagian cerita padahal sebenarnya tidak. Pembaca awam mungkin juga akan sedikit bingung dengan beberapa kutipan atau jalan cerita. Misalnya, ketika menceritakan tentang fitmah yang dialami oleh Aisyah r.a., pengarang tiba-tiba menyebutkan nama Misthah yang ikut dihukum atas peristiwa fitnah itu. Namun, sebelumnya pengarang tidak menceritakan apa yang dilakukan oleh Misthah sehingga ia pantas dihukum. Pengarang hanya menceritakan bahwa orang yang menyebarkan kabar bohong itu adalah adik Zainab istri Rasulullah, tidak menyinggung nama Misthah. Oleh karena itu, dituntut sebuah pemahaman yang baik mengenai sirah nabawiyah untuk dapat memahami novel ini sepenuhnya.
Terlepas dari beberapa kekurangannya, novel ini dapat dijadikan sebagai bacaan pendamping bila pembaca ingin mempelajari tentang sirah Nabawiyah. Gaya penceritaannya yang mengalir lancar dan penggunaan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan novel sirah lainnya membuat novel ini pantas untuk direkomendasikan. Sebuah novel sejarah Islam yang kaya akan nilai dan ditulis dengan sebuah pendekatan yang berbeda.
Sebagai penutup, tak ada salahnya untuk merenungkan sebuah puisi yang dituliskan oleh pengarang di akhir novel ini. Puisi ini secara tidak langsung juga ingin mengisahkan tentang ketabahan seorang Asma binti Abu Bakr setelah diceraikan oleh Az Zubair karena seorang perempuan lain. //Kesedihan bukanlah penghalang untuk berkarya/apalagi penyebab berputus asa/Kesedihan bukan penyebab berburuk sangka/apalagi menghakimi ia yang menoreh luka.//

One thought on “SIRAH NABAWIYAH DARI KACAMATA ASMA PUTRI ABU BAKR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s