Akademika / Sastra

BUDAYA LITERASI PADA ANAK



Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi anak-anak di Indonesia masih cukup memprihatinkan. Mulai dari fasilitas pendidikan, kesehatan, perlindungan dari kekerasan, kesejahteraan, hingga pemenuhan hak-hak mereka yang masih sering terabaikan. Banyaknya anak-anak yang terlantar di jalanan menjadi satu dari sekian banyak potret buram dunia anak-anak. Undang-undang perlindungan anak di Indonesia masih memiliki banyak celah. Menurut data tahun 2005, setidaknya masih ditemukan 736 kasus tindak kekerasan terhadap anak-anak, 1,6 juta pekerja usia 10-14 tahun, dan sekian juta kasus gizi buruk yang menyerang anak-anak di berbagai kawasan Indonesia khususnya Indonesia bagian timur. Data-data di atas mungkin menimbulkan perasaan iba yang mendalam. Namun, yang seringkali dilupakan adalah bahwa it’s never “a few percent” or “some” or “one milion” who have problems. It’s always somebody, it’s me…* Angka-angka tersebut bukanlah gambaran dari sebuah benda mati, melainkan gambaran masa depan anak-anak Indonesia.
Keadaan yang demikian secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya lost generation. Lost generation bukan berarti generasi itu betul-betul hilang atau mati, tapi anak-anak yang tetap hidup dengan berbagai kekurangan seperti rendahnya tingkat kecerdasan, rentan terhadap infeksi, berpotensi penyakit degeneratif, organ tubuh tidak berfungsi sempurna, dan tidak produktif. Pada intinya, lost generation akan berujung pada kualitas SDM yang kurang memadai. Lost generation juga tidak hanya terjadi pada satu generasi itu saja tetapi dapat terjadi pada 1-2 generasi di bawahnya. Hal itu dapat dipahami karena seorang anak yang berada dalam sebuah keluarga yang tidak produktif akan sulit untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
Satu di antara sekian banyak faktor sekunder yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi anak adalah buku atau bahan bacaan. Bahan bacaan tersebut dapat berupa majalah atau kumpulan cerita dan dongeng. Namun, sayangnya orang-orang yang mau mengabdikan dirinya di bidang kepenulisan cerita anak dapat dikatakan sangat sedikit. Beberapa penulis cerita anak yang masih kita kenal misalnya Benny Ramdhani, Bambang Joko Soesila, Yusuf Abdullah Puar, Ali Muakhir, dan Soekanto SA. Selebihnya, sebagian besar penulis lebih suka menggarap tema-tema untuk segmen remaja dan dewasa.
Para penulis dewasa yang menuliskan cerita anak tersebut harus menyesuaikan pola pikir mereka sebagai orang dewasa agar ceritanya dapat diterima oleh anak-anak. Dengan kata lain, diperlukan upaya transformasi gagasan ke dalam bentuk yang lebih sederhana untuk menjembatani kesenjangan pola berpikir. Namun, tidak akan demikian halnya apabila cerita itu ditulis langsung oleh anak-anak. Cerita yang ditulis langsung oleh anak-anak akan lebih polos dan jujur memotret kehidupan mereka. Tidak ada unsur didaktis yang berusaha diselipkan –atau bahkan kadang terlihat setengah dipaksakan- seperti dalam cerita anak karangan penulis dewasa. Lantas, bagaimana halnya dengan penulis anak ?

Anak-anak kreatif kini tidak hanya ditengarai dengan menjadi penyanyi cilik, pemain sinetron, model cilik, atau yang semacamnya. Di tengah dinamika kehidupan budaya yang semakin ‘cair’ ini, anak-anak kreatif juga diwujudkan melalui sosok seorang penulis anak. Sejak pertengahan tahun 2000-an, karya para penulis anak mulai banyak bermunculan. Sebut saja Abdurrahman Faiz dengan Untuk Bunda dan Dunia, Sri Izzati dengan Powerful Girls, Gigi Kelinci Arifia Sekar Seroja, My Piano My Best Friend Ramya, Beautiful Days Bella dan sebagainya. Perhatian terhadap karya penulis anak ini semakin besar tatkala penerbit Mizan mulai serius mewadahi karangan-karangan mereka dalam seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKCB).
Di luar negeri, budaya literasi pada anak mungkin sudah jauh lebih baik. Banyak anak usia belasan tahun telah menerbitkan novel dan menjadi best seller. Novel berjudul Eragon yang mengisahkan petualangan seorang anak laki-laki, Eragon, bersama naga besarnya, Saphira, adalah salah satunya. Eragon ditulis oleh seorang anak berusia 15 tahun bernama Christopher Paolini. Christopher Paolini bahkan telah menerbitkan Eragon seri kedua dan ketiga yang juga menjadi best seller. Novel karangan penulis Amerika Serikat ini pun telah diadaptasi dalam bentuk film.
Kecerdasan bahasa dan kemampuan para penulis anak dalam menangkap realitas sekitarnya ini patut mendapat apresiasi. Pertanyaannya, bagaimanakah mengembangkan budaya literasi pada anak-anak? Budaya literasi di lingkungan anak-anak didukung oleh berbagai faktor. Yang pertama tentu saja adalah faktor lingkungan keluarga. Seorang anak yang terbiasa melihat orangtuanya menulis cenderung memiliki pola yang serupa. Sebagian besar penulis cilik di Indonesia terlahir dari keluarga yang memiliki budaya literasi tinggi. Abdurahman Faiz, misalnya. Pengarang Untuk Bunda dan Dunia ini memang terlahir di sebuah keluarga yang memiliki aktivitas membaca-menulis tinggi. Oleh karenanya, tak mengherankan bila putra penulis Helvy Tiana Rosa ini sudah produktif menghasilkan karyanya di usia belia. Demikian juga dengan Bella, putri Gola Gong yang telah menerbitkan novel Beautiful Days ini juga mulai menulis lantaran sering melihat ayah ibunya menulis.
Pendidikan formal sebagai tempat yang mengenalkan anak-anak pada aktivitas membaca-menulis seharusnya juga bisa menjadi pilar untuk mendukung budaya literasi pada anak-anak. Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan budaya literasi rendah dapat memperoleh kebiasaan itu dari pendidikan formal. Namun sayangnya, jalur pendidikan formal di Indonesia kurang terbuka ke arah sana. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, seorang anak akan diajari untuk menyanyi, menggambar, membaca, menulis dan berhitung. Namun, dalam pelajaran membaca dan menulis, seorang anak cenderung hanya diajarkan untuk sekedar ‘bisa’ membaca dan menulis, tidak diarahkan kepada aktivitas berpikir kritis, menyarikan pikiran, mengembangkan kreativitas, berimajinasi, dan mengkonkretkannya dalam bentuk tulisan.
Namun, menurut Seto Mulyadi, televisi menjadi ancaman terbesar bagi pengembangan budaya literer anak-anak. Budaya membaca dan menulis dapat tergerus oleh dahsyatnya gelombang televisi. Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak ini pula, salah satu upaya untuk menyiasatinya adalah dengan menyisipkan acara-acara televisi yang dapat mendorong anak untuk menyukai aktivitas literasi. Selain itu, orang tua juga perlu melakukan pengenalan dan pembiasaan secara terus menerus terhadap aktivitas membaca-menulis sehingga iklim yang tercipta adalah iklim yang mendukung perkembangan budaya literasi.
Akhirnya, kembali lagi, tingkat kesejahteraan, pendidikan, dan kualitas kesehatan rata-rata penduduk Indonesia masih menentukan peranan penting dalam mendukung budaya literasi. Seorang anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan rendah barangkali tidak sempat terpikir untuk menyempatkan waktu membaca atau menulis, meski juga tidak menutup kemungkinan untuk itu. Oleh karena itu, pada dasarnya upaya untuk membudayakan aktivitas literasi pada anak-anak harus didukung oleh berbagai lini kehidupan. Sudah saatnya anak-anak mencatatkan diri dalam sejarah literasi Indonesia.

*Kutipan puisi berjudul It’s Me karangan Jasper Helle, seorang remaja Swedia, dibacakan dalam sebuah konferensi Hak-Hak Anak PBB di Swedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s