Catatan

MENTALITAS BUDAK PADA ANAK



Sebulan liburan semester telah membuat saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Secara tidak langsung, banyak hal di rumah yang dulunya hanya saya anggap sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang saya pandang sepintas lalu, kini lebih saya amati. Seperti dialog antara ibu dan adik saya dalam kejadian berikut ini.
Ibu menyuruh adik saya untuk mengantarkan pesanan satu karung gula pasir ke pondok pesantren tak jauh dari rumah saya. Tapi, adik saya menolak. Katanya, “Aku kan sudah mengantarkan gandum tadi, masa aku lagi?”
Lalu, terjadilah tawar menawar antara ibu dan adik saya. Mendengar perdebatan mereka, saya ikut berkomentar, “Perasaan kemarin kamu ngantar gula sama gandum dua kali juga gak papa kan ?”
“Kan kemarin ada komisinya!”, balas adik saya.
“Ya sudah, nanti Ibu kasih upah.”, ucap ibu saya memutuskan.
Adik saya pada akhirnya memang mau mengantarkan pesanan itu, tapi dalam hal ini saya merasa ada sesuatu yang salah. Bukankah dengan cara seperti itu seorang anak akan menjadi terbiasa, sehingga kalau tidak diberi upah dia tidak mau mengerjakannya ?
Mari kita memahami peristiwa tersebut… Pada awalnya, orang tua memberikan upah pada anaknya agar anak tersebut termotivasi untuk melakukan sesuatu. Anak tersebut kemudian memang mau melakukan apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Orang tua pun merasa senang melihat anaknya yang seolah begitu patuh dan rajin. Awalnya, hal itu memang tidak kentara.
Orang tua pun mungkin akan berpikiran bahwa sekali dua kali itu tidak masalah, tapi bukankah dari yang sekali dua kali itu dapat menjadi berkali-kali?
Secara tidak langsung, apabila terjadi secara terus menerus, hal itu akan membentuk mentalitas budak pada diri seorang anak. Seorang budak tidak akan melakukan pekerjaannya tanpa mendapatkan upah, ia juga tidak memiliki kesadaran untuk melakukan sesuatu apabila tidak diperintah. Demikian halnya dengan seorang anak yang memiliki mentalitas budak, ia akan enggan melakukan sesuatu hal apabila tidak mendapatkan upah. Dalam dirinya tidak terbentuk suatu kesadaran bahwa apa yang dia lakukan itu memang penting untuk ia lakukan. Ia melakukan sesuatu bukan dalam rangka pembelajaran untuk hidupnya yang akan datang ataupun untuk berbakti pada orang tua, melainkan untuk mendapatkan upah. Secara tidak sadar, ia telah memposisikan orang tua sebagai orang lain.
Seorang anak yang dibesarkan dalam iklim yang seperti itu, akan kehilangan daya proaktifnya. Kepekaannya pun menipis. Karena yang tertanam dalam otaknya hanyalah upah, ia akan menutup mata terhadap pekerjaan-pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh orangtuanya. Tidak ada kesadaran untuk membantu ataupun pemahaman bahwa yang ia lakukan adalah untuk berbakti pada orang tua.
Oleh karenanya, akan lebih baik apabila sebagai orang tua tidak membudayakan memberi upah kepada anak. Penerimaan anak yang satu dengan yang lain dalam hal ini tentu berbeda-beda. Apabila anak memiliki cukup kesadaran, itu tidak akan menimbulkan masalah, tapi ketika anak menjadi kecanduan ‘upah’, hal itulah yang perlu dikoreksi.
Akan lebih baik apabila orang tua menanamkan pemahaman kepada seorang anak bahwa apa yang dilakukannya itu memang penting untuk dia lakukan. Apa yang dia lakukan adalah sarana pembelajaran untuk kehidupannya yang akan datang. Ketika kita memandang hidup ini secara serius, terkadang kita melakukan sesuatu bukan karena hal itu menyenangkan tapi karena hal itu penting untuk dilakukan demi yang lainnya. Demikian pula dalam hal ini, seorang anak seringkali berfikir bahwa membantu orangtua bukanlah hal yang menyenangkan. Anak-anak sering merasa orangtuanya terlalu banyak menyuruh, mengganggunya bermain, dsb. Di sinilah komunikasi antara orangtua dan anak menjadi penting, akan lebih baik bila orang tua membuat kesepakatan waktu kapan ia harus membantu dan kapan ia bisa bebas bermain. Pendekatan orang tua pada seorang anak sangat mempengaruhi hal ini.
Mungkin orang tua akan menganggap bahwa ini sekedar teori belaka. Teori yang bahkan ditulis oleh seseorang yang belum memiliki pengalaman sama sekali sebagai orang tua, hanya berdasar pengamatan dan perenungan semata. Tak apa.
Tapi, suatu saat nanti, ketika tiba waktunya, semoga kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s