Cerpen

Ayah, Aku Mencintainya…



Aku tak pernah ingat kapan terakhir kali aku jatuh cinta, bahkan aku tak ingat apakah aku pernah jatuh cinta. Tapi, sepasti datangnya musim semi setelah musim salju, cinta itu pun perlahan-lahan menghampiri. Menyapa dengan tenang, diam-diam, dan tanpa permisi. Hadirnya membawa gemuruh, gejolak hati yang tak terpadamkan.
Aku bertemu dengannya di suatu senja yang merah, tanpa camar, tanpa deburan ombak memecah pantai, pun tanpa gudang dan tali-temali*. Yang ada hanya bus kota yang tiada henti berlari. Lampu-lampu jalan yang mulai menyala dan warung angkringan yang terlihat berbenah di trotoar.
Gelap yang mulai meruap itu kian menggenapkan sosoknya. Garis wajahnya yang tegas, sorot matanya yang tenang tajam, serta keangkuhannya yang menggetarkan. Dengan gitar masih tersandang, ia duduk di bangku kosong sebelahku. Tanpa menoleh, tanpa permisi. Ia seolah tak pernah menyadari kehadiran siapapun, hidup dalam dunianya sendiri.
Di sebuah perempatan lampu merah, bus berhenti. Seorang lelaki bertopi naik ke atas. Ia menyandang ransel hitam, bersepatu Nike, dan berkemeja putih garis-garis horizontal. Pakaiannya necis, tapi tak senecis tingkahnya, andai orang tahu… Aku terus mengamatinya hingga ia duduk dua bangku di depanku. Melihatku terus menatap lelaki itu, dia menggumam dengan mata awas.
“Hati-hati, mbak. Dia pencopet.”
“Iya, saya tahu,” jawabku tak sadar sambil terus mengamati. Bagaimana mungkin aku tak tahu, sudah berapa ratus kali saja aku naik bus dan sudah berapa puluh kali saja aku melihat aksinya.
“Saya sudah sering melihatnya,” tambahku.
Demi mendengar jawaban itu, dia menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku balas menatapnya, dengan mata bertanya dan dahi berkerut.
“Oh,” katanya singkat seraya membuang pandang.
“Sudah sering naik bus ini, mbak?” tanyanya tanpa menatapku.
“Hampir setiap hari”.
“Oh, pantas sampai kenal sama copetnya, ya?” ucapnya ringan dengan nada bercanda. Matanya mengerling jenaka. Ia menoleh sekilas padaku dan melemparkan senyum yang tak kan kulupa.
Senyum itu seolah mencairkan batas tak kasat mata di antara kami. Meretas jarak, mengurai lepas. Lalu kami berbicara kesana kemari, tentang berupa-rupa hal, hingga aku harus turun untuk menutup cerita.
Tapi ketika aku turun, aku merasa ada seulas rasa yang turut menyertai. Rasa itu memaksaku untuk terus mengingatnya. Rasa itu memperkenalkan dirinya sebagai CINTA…
Sejak itu, yang kuingat, aku hampir selalu bertemu dengannya setiap hari. Apakah ia memang sengaja menantiku? Aku ingin tertawa memikirkannya. Bila kami bertemu ketika hari masih siang, aku akan mendengar ia bernyanyi. Ia tak pernah berkata apa-apa, kecuali matanya yang seolah mengatakan bahwa hanya kepadaku-lah lagunya dipersembahkan. Ia pun tak pernah mengedarkan kaleng uangnya padaku, ia hanya selalu tersenyum melihatku. Tapi hanya dengan pertemuan semacam itu, hatiku sudah bisa dibuat melayang-layang tak tentu rimba. Lalu, ketika kesadaranku kembali, aku jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin logikaku bisa dipermainkan hingga semacam ini? Tidak, tidak. Duniaku dunia jungkir balik sejak mengenalnya.
Atau tak jarang aku bertemu dengannya di kala senja. Bila aku bertemu dengannya di kala senja, ia takkan menyanyi. Ia akan duduk di sampingku, atau di seberangku bila di sampingku telah terisi, atau di belakangku bila di samping dan di seberangku telah terisi, ia akan berada sedekat mungkin denganku. Dan aku bahagia. Tak jarang kami hanya sekedar bertemu, tersenyum, dan diam, tak berucap walau sepatah kata. Menikmati kesunyian yang terciptakan. Bagaikan bintang-bintang di langit malam yang hidup hanya dengan saling menatap satu sama lain, kami memaknai keheningan dalam kebersamaan.
Suatu kali dia berkata, “Kadang, cinta itu seperti meteor, melintas sekejap membawa gemerlap untuk kemudian hilang dan tiada. Kadang pula cinta itu seperti bulan dan bintang, yang meski terlihat dekat, tapi sebenarnya jauh sekali. Aku tak pernah ingin mencintai orang dengan cinta yang semacam itu. Aku ingin cinta kita seperti angin dan udara, yang meski tak terlihat, tapi terasa ada.”
Aku terkesima seraya dalam hati bertanya-tanya darimana kiranya ia dapatkan kata-kata seindah itu.
“Cinta kita?”, tanyaku bermain-main.
“Ada yang salah?” Ia terlihat tak mengerti.
Pandangan mata kami bertemu, lalu seolah terkejut kami cepat-cepat membuangnya. Aku merasakan, setiap tatapan mata kami seperti awan-awan yang menyatu dalam kilatan petir. Ya, Allah…
Kadangpun aku merasa salah. Kami memang hanya sekedar bercerita, lebih sering hanya diam, sesekali saling memandang, dan tak pernah sekalipun bersentuhan. Tapi dengan gejolak hati semacam ini, aku tak bisa menjamin setan-setan tidak tengah mempermainkanku. Di sisi lain, kenyataan bahwa aku mencintainya, aku takkan pernah mengingkari.
Ayah, aku mencintainya….
Bolehkah, Ayah? Ataukah kau berharap aku akan mencintai seorang yang kaya raya, yang membuatmu tentram karena kau tahu aku tak kan kekurangan materi suatu apa? Ataukah seorang ikhwan, seorang yang akan menuntunku meniti tangga cahaya menuju surga, seperti yang seringkali menjadi anganku juga? Ataukah seorang cendekia, yang dengannya membuatku bermimpi bisa seperti dua ilmuwan Piere Curie dan Marie Curie? Ataukah yang seperti apa?
Sejak dulu, aku selalu ingin menjadi perempuan, seorang istri, seperti yang diidamkan R.M. T.A.S. dalam Busono (1912). Seorang istri terpelajar yang bisa membantu pekerjaan suaminya, bisa memperbincangkan berita-berita di koran bersama-sama, bebas berbicara, dan tidak main ‘ya’ atau ‘amin’ belaka. Aku membayangkan bagaimana aku akan duduk bersamanya di teras rumah menatap cakrawala, dilatari warna lembayung merona, dan kami akan membicarakan tulisan-tulisan tentang sastra, membaca novel bersama-sama, atau saling mengomentari karya masing-masing. Seseorang yang dengannya aku bisa menjadi diriku sendiri, bebas berbicara dan berimajinasi tentang apa saja. Betapa aku menantikan saat untuk bisa mendengarkan ‘seseorang’ ku itu berbicara tentang sastra, jurnalistik, linguistik, filsafat, atau bahkan juga tentang politik… Betapa aku memimpikan saat itu.
Meski aku tahu, bila aku bersamanya, apa yang kuangankan mungkin tinggal angan belaka.
Tapi itu semua menjadi tak penting lagi, Ayah… Sebab aku telah mencintainya.
Tidak akan pernah ada yang salah dengan cinta.

*Ketika menuliskan kalimat itu, saya teringat pada puisi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil karangan Chairil Anwar.

2 thoughts on “Ayah, Aku Mencintainya…

  1. Rasa-rasanya, ini adalah untuk pertama kalinya saya membuat sebuah cerpen dengan tema utama cinta -lebih lagi cinta kekasih-..dan subhanallah, jadi.! Meski, maksa banget sih…:D
    Dikritisi ya, apakah saya cukup bisa bicara tentang cinta??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s