Cerpen

Kali Progo



Malam mulai membayangi bumi. Seorang wanita berjalan cepat dari arah keremangan, menuju sebuah rumah gedhek di depan warung mie ayam. Sampai di emperan rumah, wanita itu membuka topi dan menyangkutkannya pada sebatang paku yang mencuat dari dinding gedhek. Ia berjalan masuk ke rumah, meneguk segelas air putih lalu berteriak- teriak memanggil.
“Meeet!…… Slamet! Mbok, Slamet kemana?”
Wanita itu bertanya pada seorang perempuan tua yang tengah duduk makan sirih di pinggir pintu dapur. Perempuan tua itu menggeleng tanpa berhenti mengunyah daun sirihnya.
Kelihatan kesal, wanita itu berjalan ke arah sumur, menimba seember air dan menjinjingnya ke dapur.
“Minggir Mbok!”, katanya singkat.
Perempuan tua itu beringsut ke pinggir. Ia tengah sibuk meniup api yang tak kunjung menyala ketika seorang anak lelaki muncul di depan pintu dapur. Anak lelaki itu bercelana hitam pendek dengan kaos biru yang pada lengan atasnya jahitannya telah robek. Kaos birunya pada bagian depan tampak kumuh. Wajahnya hitam kotor, kakinya yang telanjang tampak kotor berdaki. Ia menatap ibunya yang kempas-kempis meniup api, dengan tangan kiri memegang daun pintu yang juga dari gedhek. Tangan kanannya yang erat membawa ketapel berkacak pinggang.
“Cepat mandi sana! Bocah main terus, nggak tahu ngatur waktu!” kata wanita itu tanpa memandang anaknya. Anak itu malah masuk rumah. Denting piring dan pintu lemari yang dibanting mewarnai waktu sesaat itu.
“Belum masak! Cepat mandi dulu!” terdengar ibunya berteriak keras dari dapur.
Kali ini anak itu menuruti perintah ibunya. Tali timba berderat-derit ketika anak itu mulai menimba.
“Meet, padasannya diisi sekalian ya!”
Anak itu tak menjawab, tapi dilaksanakannya juga perintah ibunya.
Sementara itu azan maghrib mulai terdengar menggema di mana-mana. Senja telah berganti, alam mulai temaram. Satu dua bintang mulai muncul. Dapur wanita itu masih berasap, tanda ia belum selesai memasak. Sumur telah sunyi. Slamet telah masuk ke rumah menyalakan lampu-lampu. Tak lama sesudahnya wanita itu pun masuk menjinjing ketel. Lalu keluar lagi dan masuk membawa semangkuk sayur tempe dan daun melinjo. Wanita itu kemudian sibuk di dapur lagi, denting-denting sendok terdengar beradu dengan gelas. Waktu masuk lagi, 3 cangkir teh telah siap di atas nampan. Ia bawa teh itu ke ruang depan, mengambil satu cangkir dan duduk di atas kursi kayu di sebelah meja. Pelan dibukanya tutup cangkir, asap masih mengepul kecil tanda teh masih panas. Ditiup-tiupnya teh itu sambil duduk merasakan nikmatnya beristirahat. Seharian mencari pasir di Kali Progo membuat wanita itu merasa lelah, wajahnya pun hitam terbakar matahari. Juga kakinya yang tak beralas, jari-jarinya terlihat menerompet keluar. Ia menyeruput sedikit tehnya, teh ginastel ia menyebutnya, legi panas tur kentel. Di saat-saat seperti ini mau tak mau ia selalu teringat lagi pada suaminya. Suaminya yang kini ia tak tahu lagi tinggal di mana. Delapan tahun yang lalu, ketika ia masih perawan ia bertemu dengan lelaki yang akhirnya menjadi suaminya itu. Ketika tengah menjual pasir yang berhasil dikumpulkannya selama 3 hari itu, ia bertemu seorang lelaki yang menyetiri truk yang membeli pasirnya. Dan perkenalan singkat pun terjadi. Sejak itu, Suroso, lelaki supir truk itu sering mendatanginya. Entah karena memang suka atau entah karena apa, ketika Suroso melamarnya ia terima lamaran itu. Dan telah 2 tahun perkawinan mereka ketika suatu hari sesuatu terjadi pada diri suaminya. Sampai larut malam suaminya tak pulang ketika itu, dan ketika esoknya pulang suaminya itu tak berkata sepatah pun padanya. Dan wanita itu Cuma mendiamkannya, ia hanya mengira suaminya lelah bekerja sampai larut malam.
Namun setelah seminggu suaminya selalu pulang pagi, hatinya mulai curiga. Wanita itu akhirnya bertanya pada suaminya ketika esoknya suaminya pulang. Mendengar pertanyaan wanita itu, suaminya justru marah-marah, menendang pintu yang masih terbuat dari seng lalu pergi lagi tanpa pamit. Sejak itu, rumah gedhek itu bagaikan uang logam di tengah api. Tak ada tegur sapa antara mereka berdua. Suroso pun semakin jarang pulang. Setelah sebulan, Suroso benar-benar tak pulang lagi, ia kemasi pakaiannya dengan tas besar dan pergi tanpa pamit sehari sebelumnya. Wanita itu tak pernah mau tahu lagi kemana pergi suaminya. Yang di kemudian hari akhirnya ia tahu bahwa suaminya menikah lagi dengan janda dari seberang Kali Progo.
Tapi di saat seperti ini, di saat ia tengah terbelit berbagai masalah keuangan, ia sering berharap suaminya bisa kembali lagi. Membantu mengatasi semua masalahnya, membayarkan uang sekolah anaknya, mengurus dia dan Slamet dan kembali hidup bersamanya. Wanita itu mendesah, menyadari lamunannya.
“Mak, masakannya sudah matang?”, tiba-tiba Slamet muncul dari kamar. Masuk ke ruang depan dan menyeruput segelas teh.
“Sudah, sana kalau mau makan,” jawab wanita itu.
“Rono! Tehku bawa sini!”, seorang perempuan tua berteriak dari balik bilik bambu. Sementara itu Slamet hendak melangkah ke dapur.
“Tehnya Simbah bawa sekalian, Met!”, perintah wanita itu. Slamet berbalik lagi, membungkuk mengambil teh lalu pergi ke dapur.
“Mak, Slamet belum bayar uang sekolah, lho!”, suara Slamet mengingatkan ketika ia tengah makan. Mbok Rono memandangnya hampa.
“Mamak belum punya uang. Berasnya saja sudah habis, besok kalau Pak Susilo nagih utang saja, Mamak belum tahu mau mbayar pake apa? Besok Selasa Kliwon, toh?”, tanya Mbok Rono memastikan. Pak Susilo adalah “mendring” alias tukang jualan peralatan dan perabotan rumah tangga, apa saja. Ia berkeliling desa setiap hari Selasa Kliwon, baru dua bulan lalu Mbok Rono ngutang sebuah ember padanya.
“Salahnya sendiri, kalau nggak punya duit itu, nggak usah ngutang! Pokoknya seminggu ini harus bayar, aku sudah nunggak 3 bulan, Mak!”.
“Ya udah, besok kalau Mamak punya uang kita bayar!”
“Bayar-bayar, besok dibayar beneran lho Mak, dulu bilangnya juga mau dibayar tapi nyatanya nggak dibayar-bayar!”
“Diam! Nggak tahu orang tua lagi susah!”, bentak Mbok Rono.
Slamet pergi ke kamar sambil menggerutu. Mbok Rono kembali termenung. Pikirannya terus melayang ke mana-mana. Bagaimana aku bisa dapat duit? Sesaat ia masuk ke kamarnya, dicari-carinya sesuatu di dalam tas kulit usang yang digantungkannya pada dinding gedhek, di sebelah kiri ranjang. Sebuah bungkusan kain biru ditariknya. Ia buka, lalu melihat isinya sebentar. Masih utuh, pikirnya. Wanita itu membawa bungkusan kain biru ke ruang depan.
“Met! Slamet! Ke sini sebentar!” teriak wanita itu.
“Ngopo?!”, Slamet balas berteriak, suaranya ketus, masih bernada marah.
“Ke sini dulu, sebentar saja!” sahut Mbok Rono. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
Slamet masuk ke ruang depan. Wajahnya memberengut. Jelas ia marah pada maknya. Tanpa berkata apapun, ia duduk di seberang ibunya.
Mak Rono membuka bungkusan kain itu. Slamet terbelalak melihat isinya. Mak Rono memandangnya tenang-tenang.
“Mak punya cincin?” tanya Slamet gugup. Selama ini ia tak pernah tahu maknya punya cincin.
Mak Rono tersenyum, mengangguk.
“Ini cincin Mak dulu, ketika belum menikah sama Bapakmu. Besok Mak akan jual cincin ini, biar kamu bisa bayar sekolah!” ujarnya. Wajah Slamet berseri-seri. Besok ia bisa bayar uang sekolah, ia tak akan malu lagi.
“Sudah sana, kamu tidur dulu! Besok kesiangan!”
Dengan semangat baru Slamet berjalan masuk ke kamarnya. Senyum masih menghias wajahnya ketika ia berangkat tidur.
Sementara itu, Mak Rono masih terbaring di ranjangnya. Ia tergolek tak bisa tidur malam itu. Matanya terus menatap langit-langit yang penuh dengan sarang laba-laba. Besok aku harus pergi ke sungai lebih pagi, mungkin sampai siang aku sudah bisa dapat 1 kubik, pikirnya. Aku harus jual cincin itu, tak ada gunanya kusimpan sementara aku hidup kekurangan seperti ini, tekad wanita itu semakin mantap.
Malam semakin larut. Nyanyian jangkrik menguasai alam. Wanita itu hanyut dalam tidur bersama pikirannya yang masih terus melayang. Ingat hidupnya, anaknya dan hari esoknya.
Subuh, udara terasa dingin menusuk tulang. Terasa semakin enggan saja baranjak dari ranjang. Slamet membenahi kembali selimutnya, meringkuk kedinginan di bawahnya. Antara bangun dan tidurnya, ia mendengar derit pintu ditutup. Namun, kantuk lebih menguasainya, membuat Slamet tak mengacuhkan semua yang terjadi di sekitarnya. Hingga esok, ketika matahari mulai benderang Slamet baru terbangun dari tidurnya. Ketika keluar dari dalam rumah, tiba-tiba saja ia terhenyak. Lalu berlari ke sumur menimba air. Matahari benar-benar telah tinggi. Alam kembali terang. Slamet berlari lagi ke dalam dengan handuk dari pusar sampai ke lututnya. Tak lebih dari 10 menit ia telah berlari ke luar lagi. Rambutnya belum disisir, baju seragamnya pun kusut tak disetrika, sepatunya yang telah aus di bagian tumit itu semakin terlihat ketika dipakainya berlari. Slamet berangkat begitu tergesa-gesa, tanpa pamit pada siapapun juga tanpa sarapan karena ia memang tak pernah sarapan. Ia tak ingat lagi pada keinginannya untuk membayar uang sekolahnya, juga pada ibunya!
Siang tengah terik-teriknya ketika Slamet melangkahkan kakinya di jalanan berbatu tak jauh dari rumahnya. Sambil menunduk, ia menendang-nendang kerikil yang menghalangi jalannya. Ia meneleng sedikit memperhatikan sepatunya, sepatunya robek! Slamet nyengir sendirian, kalau saja jalan ini diaspal pasti nggak bakalan bikin sepatuku robek, pikirnya. Tak terlintas di benaknya kalau justru karena menendangi kerikil-kerikil tak berdosa itulah yang membuat sepatunya robek. Tanpa terasa ia telah sampai di halaman rumahnya. Langsung ditujunya dapur tempat ia mungkin bisa melihat makan siangnya. Tapi, dapur kosong. Slamet masuk ke dalam rumah, berganti pakaian. Sekali lagi ia masuk ke dapur, membuka tutup-tutup perkakas yang ada. Segelas air putih diteguknya sampai kosong. Wajahnya kesal.
“Mak! Mamak!”, teriak Slamet. Rasa lapar semakin menyerangnya. Perutnya keroncongan, berbunyi, bernyanyi tanpa irama.
“Teriak-teriak! Mamakmu itu pergi! Nggak ada di rumah! Pulang-pulang “krompyongan” mau makan, terdengar sahutan dari dalam.
“Simbah itu! Bisanya marah-marah!” gumamnya dengan wajah memberengut.
Slamet pergi dari rumah setelah kesal tak mendapat makan siang. Ia susuri sepanjang pematang sawah dengan ketapel. Dua ekor burung mati terkena tembakan ketapelnya. Slamet tertawa riang menjinjing hasil perburuannya. Hingga dua orang temannya memanggilnya dari rumah seberang sawah. Slamet berlari-lari kecil sepanjang pematang ke arah mereka. Lalu dengan bangga memamerkan hasil perburuannya. Mereka masih takjub membelai-belai burung yang telah mati itu, sambil menerka-nerka burung jenis apa, ketika seorang temannya datang membawa kelereng di saku. Maka, bermainlah Slamet sepanjang sore harinya.
Ketika maghrib hampir menjelang barulah Slamet pulang. Beberapa butir kelereng bersarang di sakunya, hasil taruhan menang ketika main kelereng tadi. Ia langsung masuk ke kamarnya menyimpan butiran-butiran kelereng dan pergi ke sumur untuk mandi. Barulah selesai mandi, ia rasakan kembali perutnya yang semakin keroncongan. Seharian penuh Slamet belum makan. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa ditemukannya di dapur sore itu.
“Mamak itu gimana sich?! Seharian nggak masak!”, umpat Slamet lirih.
“Mbah, Mamak belum pulang?” tanya Slamet.
“Kalau belum ada, ya berarti belum pulang sahut Simbahnya. Jawaban wanita tua itu membuat Slamet kesal.
Ia duduk termenung di depan pintu dapur. Mamak ke mana sih? Nggak biasanya seharian nggak pulang, hati kecil Slamet mulai was-was. Ia bangkit, tertegun sejenak.
“Mamak! Mamak!”. Slamet berteriak-teriak di sekitar rumah.
Terengah-engah ia berlari ke warung mie ayam di depan rumahnya.
“Mbak, lihat Mamak nggak?” tayanya pada Mbak Anis penjual mie ayam depan rumahnya.
“Belum pulang? Aku juga nggak lihat mamakmu seharian ini,” katanya. Slamet berlari lagi ke rumahnya. Beberapa pembeli memperhatikannya. Saling berbisik-bisik dengan para pembeli lainnya.
Slamet duduk termenung di emperan rumah. Rasa laparnya telah hilang entah ke mana. Perasaan was-was dan gelisah menguasai hatinya. Slamet mulai menangis tersedu-sedu. Kegelisahan menguasainya. Sambil terus terisak-isak, Slamet berlari ke jalan. Terus lari ke perempatan.
“Mamaak!” teriaknya keras-keras. Suaranya menggema di keheningan senja.
“Kenapa, Met? Kok teriak-teriak, mamakmu ke mana?” sebuah suara terdengar di belakangnya.
Slamet berbalik menatapnya.
“Mamak nggak ada……..! Huuuuu……..huuuuu! Mamak nggak ada Mbah!”, kata Slamet di tengah-tengah isak tangisnya.
“Ya, sudah-sudah! Nanti dicari bareng-bareng. Sekarang ke masjid dulu ya, Simbah mau sholat,” kata lelaki tua berkopiah itu menenangkan. Slamet mengangguk dan mengikutinya. Setelah maghrib, hari mulai gelap, pohon-pohon tampak gelap berdiri kokoh.
Dari masjid, Slamet mencari lagi mamaknya bersama Simbah tua dan beberapa lelaki yang tadinya sholat berjamaah. Simbah itu telah menceritakan apa yang terjadi pada teman-temannya. Lama mereka mencari, semakin lama mencari semakin banyak orang yang ikut membantu. Namun hingga malam semakin larut, mereka belum juga menemukan. Slamet kembali terisak-isak. Di sisi lain mereka pun bingung akan mencari ke mana, tak ada yang tahu ke mana Mbok Rono pergi, Slamet tak tahu.
Tiba-tiba, Slamet berdiri dan spontan berlari. Beberapa orang sampai kaget melihat tingkahnya. Mereka saling berpandang-pandangan dengan raut wajah bingung sesaat lamanya. Namun menyadari Slamet terus berlari, mereka mengejarnya juga. Beberapa berteriak-teriak menghentikan lari Slamet. Slamet justru semakin cepat berlari, keheranan mereka semakin menjadi-jadi tatkala melihat Slamet berlari ke arah Kali Progo! Berbagai pikiran melintas di benak meraka, apa Slamet sudah edan, mau bunuh diri di kali?
Sampai di kali, Slamet berteriak melolong-lolong. Orang-orang itu tahu Mbok Rono mencari pasir di kali setiap harinya, tapi untuk seharian ini mereka pun sama sekali tak melihatnya. Bersama malam yang semakin larut, semakin banyak pula orang berdatangan. Lelah berteriak-teriak, Slamet berdiri terpaku. Air matanya masih terus mengalir. Ia masih tersedu-sedu.
“Sabar, Met! Mamakmu pasti ketemu!” kata Simbah tua yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Ditepuk-tepuknya bahu Slamet, sambil terus menghiburnya.
“Simbah…..! Simbah…..! Slamet, ke sini!” terdengar teriakan melengking keras seorang wanita. Kekagetan tampak dalam suarany.
Serentak orang-orang berlari ke arahnya. Slametpun berlari ke arahnya, diikuti Simbah yang berkali-kali terserimpat kain sarungnya.. Slamet menerobos kerumunan itu, wanita yang menjerit-jerit tadi masih menunjuk-nunjuk sesuatu di tanah pasir. Tangan kanannya membungkam mulutnya sendiri. Ia tampak gugup gemetar. Tangan! Slamet menyeruak semakin mendekat. Seekor anjing hitam mengais-ais tanah pasir itu. Sebuah pergelangan tangan tersembul dari tanah pasir.
“Mamaaaak!”
Tiba-tiba Slamet berteriak. Jangan-jangan mamak! Berusaha ditepisnya segala perasaan buruk yang menyelimuti hatinya. Ia berjalan mendekati anjing hitam yang terus mengais-ais tak mempedulikan sekelilingnya. Simbah tua itu mengikutinya dari belakang. Slamet mengikuti tingkah anjing itu, sambil kembali melolong-lolong memanggil mamaknya. Anjing itu lari ketakutan ke pinggir melihat seorang anak ikut mengais-ais di pasir dekat mangsanya. Dua ruas jari telunjuknya telah hilang dimakan anjing hitam itu. Simbah ikut mendekat membantunya, menggali tanpa suatu alat pun. Tangannya yang keriput mengeruk-eruk tanah pasir.
Melihat hal itu beberapa orang berlarian pergi mencari cangkul dan sekop. Slamet berhenti menggali ketika melihat orang-orang mulai berdatangan membawa cangkul. Beberapa orang langsung menggali, Slamet berjalan mundur ke tepi. Makin lama, lama….. makin jelas itu sosok seseorang. Tak salah lagi seorang penambang pasir telah mati keruntuhan pasir galiannya sendiri! Sebuah lengan mulai nampak hingga ke siku. Jelas orang itu menggapai-gapai keluar sebelum ajal menjemputnya. Hari semakin larut. Azan Isya mulai berkumandang. Namun tetap tak menghentikan orang-orang yang terus menggali itu.
Bagian atas sebuah kepala nampak. Mereka semakin cepat menggali. Dalam hati mereka semakin gelisah. Benarkah itu Mbok Rono? Crass……! Sebuah benturan mengenai batok kepala mayat itu. Namun tak sampai melukainya. Tiba-tiba para penggali itu berdiri terpaku menatap mayat di depan mereka. Tak seorang pun bisa angkat bicara. Semua tampak kaget, beberapa sampai melepas sekop yang dipegangnya. Slamet mendekat melihatnya. Ia menyeruak diantara para penggali. Tak ada yang berani menahan langkahnya. Semua masih terpaku.
Jantung Slamet berdetak kencang. Darahnya berdesir menatap apa yang ada di depannya. Tubuhnya kaku tak mampu bergerak. Mulutnya terbuka lebar, namun tak mampu mengeluarkan suara. Para penggali itu menatap Slamet sendu, beberapa pergi tak mampu menahan luapan perasaan hatinya. Orang-orang yang tadinya berkerumun mendekat mengelilingi Slamet.
“Mbok Rono……….!” Beberapa wanita menjerit begitu melihatnya.
“Mamaak! Mamaaaaaaaak….!!”
Slamet berteriak melolong-lolong. Ia menerobos diantara orang-orang yang berdiri mengelilingi. Ia berlari dan terus berlari hingga mencapai bibir Kali Progo. Orang-orang hanya memandang melihat tingkahnya. Tak ada yang bertindak mengejar Slamet. Dan Slamet terus melolong-lolong. Ia terus memanggil Mbok Rono, terengah-engah menahan tangisnya. Suaranya menggema di keheningan malam Kali Progo.
“Mamaaaaaaak……….!”

Lima tahun berlalu cepat, dengan segala peristiwa yang menyertainya…….
Siang terik, di Kali Progo. Seorang pemuda berkulit hitam dengan celana kain gandum berdiri di bawah kerindangan pohon mahoni. Tangan kirinya memegang sekop sementara tangan kanannya memegang sebotol aqua. Satu gundukan pasir menjulang di hadapannya. Topi hitamnya yang bertuliskan RUSTY sudah terlihat lusuh, warna hitamnya mulai memudar. Itulah Slamet, yang kini menjadi penambang pasir di Kali Progo. Dari Kali Progo inilah dia ada, dari Kali Progo ini pula ia hidup dulunya, di Kali Progo ini ibunya kehilangan nyawanya dan kini dari Kali Progo ini pula ia mencari rizki dari Tuhan yang diberikan untuknya.

*Sebuah cerpen nominasi sepuluh besar Lomba Cerpen Balai Bahasa Yogyakarta 2007, telah diterbitkan dalam bentuk antologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s