Saya membaca...

MAX HAVELAAR



Setiap pembacaan ulang selalu menghasilkan temuan-temuan baru. Temuan-temuan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti tingkat pendidikan, referensi buku yang telah dibaca, dan pengetahuan pembaca secara umum. Ketika untuk pertama kalinya membaca Max Havelaar kelas empat SD, yang saya dapatkan tidak sebanyak sekarang. Ketika kelas 4 SD, saya menemukan buku bersampul gelap itu di perpustakaan, di antara buku-buku tebal, tak terawat dan berdebu. Tertarik dengan nama besar buku itu, saya pun mencoba membacanya. Dulu, setiap kali ada pembicaraan mengenai politik etis, trilogi van Deventer, Baron van Hoevel, atau Douwes Dekker selalu diiringi dengan pembicaraan mengenai Multatuli dan Max Havelaar-nya. Multatuli dengan Max Havelaar selalu menjadi contoh orang Belanda –penjajah- yang baik, yang memperhatikan penderitaan rakyat Indonesia.
Max Havelaar ditulis oleh E.F.E Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli –aku telah banyak menderita-. Pada tahun 1972, buku ini kemudian diterjemahkan oleh H.B. Jassin dan diterbitkan oleh Penerbit Djambatan. Max Havelaar mengandung gugatan yang tajam terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang menimpa penduduk bumiputera di wilayah yang bernama Hindia Belanda waktu itu, berdasarkan pengalaman pribadi pengarang di Lebak, Banten, dimana ia bekerja sebagai asisten residen bulan-bulan pertama tahun 1856.
Tak dapat diingkari bahwa tokoh Havelaar yang dilukiskan di sini adalah Multatuli atau Douwes Dekker itu sendiri. Havelaar menjadi asisten residen dalam kurun waktu yang sangat singkat, hanya 3 bulan sejak 21 Januari hingga 4 April 1856. Asisten residen yang digantikannya adalah seorang Belanda bernama Slotering yang juga memiliki niat untuk memberantas ketidakadilan terhadap rakyat Hindia. Kematian Slotering masih meninggalkan misteri, meski konon ia meninggal setelah keracunan (atau diracun?). Sehari setelah pelantikannya sebagai asisten residen, Havelaar mengadakan pertemuan dengan para kepala-kepala; bupati,kepala distrik, jaksa, dan lain-lain. Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari pidatonya tersebut adalah seyogyanya manusia tidak menjadikan beban sebuah pekerjaan berat, tetapi jadikanlah itu kesempatan untuk melakukan amal kebajikan.
Ya, saya amat gembira terpanggil ke Banten Kidul.
Bukankah Dia mencurahkan hujan dimana batang layu mengering dan mencurahkan embun dalam kelopak bunga kehausan? Tidakkah hati saya akan menggejolak karena terpilih antara yang banyak untuk merubah keluhan menjadi doa dan ratapan menjadi tasyakkur?

Ia juga menekankan untuk membuang jauh-jauh sifat setengah-setengah. Sikap setengah-setengah tidak akan menghasilkan apa-apa. Separoh baik sama dengan tidak baik, separoh benar sama dengan tidak benar. Dengan gaji yang penuh, dengan pangkat yang penuh, haruslah seseorang juga melakukan kewajiban secara penuh. Jikalau dibutuhkan keberanian untuk melakukan kewajibannya itu, haruslah orang memiliki keberanian itu. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah sifat setengah-setengah dalam memerangi ketidakadilan yang terjadi terhadap penduduk Hindia. Seorang pejabat Eropa seringkali memiliki niat itu, tapi kenyataan tidak memungkinkan untuk melakukan bisikan hati nuraninya sehingga niat pun hanya sekedar niat. Mulai sekarang katakanlah terus terang apa yang harus dikatakan…advienne que pourra -apapun yang terjadi (pen)-…lemparkan sifat setengah-setengah itu jauh-jauh…
Selama kurun waktu bertugas yang singkat itu, Havelaar telah mendapati kenyataan yang sangat memedihkan. Sebuah komedi tragedi. Setiap hari pengaduan-pengaduan muncul dari orang-orang yang teraniaya, mereka melintasi daerahnya dari tempat-tempat yang jauh untuk mengadu padanya. Ia membuat catatan dan membicarakannya dengan residen. Bupati dipanggil, tapi mengelak dari tuduhan. Pengadu dipanggil, lantas mereka menarik kembali pengaduannya dan meminta ampun lalu mereka akan dihukum atas kekurangajarannya. Kejadian-kejadian itulah yang terus-menerus terjadi. Setiap kali pengaduan semacam itu muncul, Havelaar mengalami dilema. Haruskah ia membicarakannya lagi dengan residen untuk melihat komedi yang sama dipentaskan? Dan bagaimana nasib pengadu-pengadu itu? Maka, tak heran bila banyak orang-orang Lebak yang lari ke Lampung dan di sana bergabung dengan para pemberontak.
Kejadian-kejadian semacam itu terus berlangsung. Hingga suatu hari, terdengar kabar tentang kedatangan bupati Cianjur. Kabar kedatangan bupati Cianjur telah membuat bupati Lebak mengerahkan sejumlah besar rakyatnya untuk bekerja tanpa upah di jalan-jalan dan pekarangan miliknya. Bagi Havelaar, ini adalah salah satu bentuk kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh para pejabat bumiputera yang tidak boleh dibiarkan. Havelaar kemudian menulis surat kepada residen untuk memberikannya izin mengusut masalah ini serta mencegah kedatangan bupati Cianjur. Tidak mendapat izin dari residen, Havelaar kemudian menulis surat kepada gubernur jenderal. Ia pun berkali-kali berusaha untuk menemui gubernur jenderal. Namun, semua usaha ini sia-sia. Setelah kegagalannya yang bertubi-tubi itu, Havelaar pun mengundurkan diri sebagai asisten residen Lebak Banten. Ia jauh lebih memilih mengundurkan diri daripada melihat kesewenang-wenangan terjadi di depan matanya, di bawah kekuasaannya.
Bagi saya tiap waktu terlalu panjang jika waktu itu ditandai oleh pemerasan dan penindasan, dan berat bagi saya tiap detik dimana orang menderita sengsara karena kelalaian saya, karena semangat saya, “semangat plin-plan”.
Kisah Saijah dan Adinda adalah penggambaran secara langsung bagaimana bentuk kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang menimpa rakyat pribumi. Hingga saat ini, setiap kali saya mengingat kisah yang romantis tragis ini, masih jelas dalam benak saya terbayang adegan demi adegan. Bagaimana keakraban Saijah dengan kerbau-kerbaunya serta kenyataan pahit yang harus diterimanya setiap kali kerbaunya dirampas oleh Demang Parangkujang. Bagaimana perasaan Saijah ketika ia harus mengembara ke Betawi karena kampung sudah tidak lagi memberinya penghidupan, meninggalkan Adinda dengan janji-janji manis. Bagaimana seorang Adinda menunggu Saijah dengan membuat garis-garis di lesungnya selama 32 bulan. Bagaimana resahnya hati Saijah ketika ia tidak menemukan Adinda di bawah pohon ketapang seperti yang mereka sepakati dulu sementara dalam hatinya telah dipenuhi berjuta rencana indah untuk kehidupannya bersama Adinda. Bagaimana remuknya hati Saijah ketika menghadapi kenyataan bahwa Adinda dan keluarganya telah pergi dari desa, rumahnya pun nyaris roboh dan tak berbekas, hingga ia berlari seperti orang gila. Lalu bagaimana kuatnya tekad Saijah menyusul ke Lampung hanya demi mencari Adinda dan keluarganya. Bagaimana pedihnya hati Saijah melihat Adinda telah mati di tangan penjajah Belanda dalam keadaan yang mengenaskan. Juga bagaimana Saijah akhirnya menyongsong bayonet tentara Belanda untuk menjemput ajalnya. Menakjubkan.
Dalam buku ini, Multatuli juga memperlihatkan kedalaman pandangan-pandangannya terkait berbagai hal. Misalnya, tentang sistem feodal Jawa, tanam paksa, serta penderitaan rakyat Hindia Belanda. Seorang bupati adalah lambang unsur Jawa yang dianggap bisa berbicara atas nama sekian ribu rakyatnya, jauh lebih penting di mata gubernemen daripada pegawai Eropa biasa. Kemarahan seorang bupati jauh lebih dahsyat daripada kemarahan pegawai Eropa karena kemarahan bupati dapat menimbulkan huru-hara. Seorang pejabat Eropa yang tidak disukai dapat dengan mudah digantikan oleh pejabat Eropa lainnya, tetapi tidak demikian dengan bupati. Pejabat bumiputera seperti bupati adalah ‘saudara muda’ bagi pejabat Eropa. Analog dengan kehidupan dalam keluarga, seorang saudara muda haruslah disayangi dan diperlakukan dengan sabar. Ketika saudara muda itu melakukan kesalahan, biasanya kepada saudara tua pulalah kesalahan ditimpakan, karena dianggap tidak mampu menjaga saudara mudanya. Hal itu pula yang terjadi dalam pemerintahan Belanda.
Kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh bupati juga sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap mental orang Jawa. Orang Jawa dengan sifat pemurahnya, senantiasa ingin menunjukkan kasihnya kepada junjungannya. Akan sangat mustahil dan luar biasa jika orang itu tidak mau menyerahkan ketika seorang bupati menghendaki kerbau, kuda, anak gadis, atau bahkan istrinya sendiri pun. Bagi bupati, soalnya bukanlah bagaimana supaya ia bisa hidup, tetapi dia harus hidup sebagaimana rakyat biasa melihatnya dalam kedudukannya sebagai bangsawan.
Secara pribadi, buku ini menjadikan saya tidak hitam putih dalam memandang penjajah Belanda. Pada dasarnya, meski penjajah Belanda adalah seorang kolonial, tetapi mereka juga memberikan perhatian terhadap rakyat pribumi. Tidak hanya melakukan penindasan, memonopoli perdagangan rempah-rempah, dan semacamnya, tetapi mereka juga menyelenggarakan sebuah pemerintahan. Sebuah pemerintahan yang barangkali juga hampir sama dengan sekarang, hanya saja sekarang yang memerintah dan yang diperintah adalah orang sebangsa. Seperti yang terlihat dalam Max Havelaar, kesewenang-wenangan kadang justru dilakukan oleh pejabat bumiputera itu sendiri. Pejabat Eropa dibuat tidak mampu untuk memutus ketidakadilan itu, dengan segala kultur pemerintahan yang ada. Dalam sebuah tulisan Pramoedya Ananta Toer, saya mendapati juga bahwa ternyata di masa penjajahan Belanda ada sebuah undang-undang yang mengatur perlindungan terhadap pribumi. Hal itu diatur dalam Fatsal 108 dari Regeeerings Reglements buat Tanah Olanda yang intinya bahwa penduduk Hindia Olanda dilindungi harta benda dan badannya.
Dari segi bentuk, Max Havelaar yang ditulis pada tahun 1860 ini sebenarnya cukup inovatif. Dibandingkan dengan novel-novel pertama dalam sejarah sastra Indonesia, Max Havelaar sudah jauh berada di depan. Max Havelaar berbentuk semacam cerita berbingkai. Di awal buku ini, kita akan diperkenalkan pada tokoh Droogstoppel, si kersang hati, seorang makelar kopi Last & Co. Lauriergracht no. 37. Suatu ketika, ia bertemu dengan temannya, Sjaalman, yang kemudian menitipkan sebuah bungkusan berisi beraneka macam tulisan. Dari tulisan-tulisan itulah, Droogstoppel tergerak hatinya untuk membuat sebuah buku. Lantas, Droogstoppel menyuruh Stern untuk membuat sebuah buku mengenai lelang dagang maskapai kopi -itulah mengapa anak judul buku ini adalah Atau Lelang Dagang Maskapai Kopi- dengan sumber tulisan-tulisan Sjaalman yang diberikan padanya. Akhirnya, yang kita baca tentang Havelaar, Saijah dan Adinda, serta kehidupan di Hindia tersebut adalah tulisan dari Stern. Meski demikian, Droogstoppel tetap memberikan sisipan atau perbaikan di sana sini untuk menciptakan kesolidan cerita. Kemudian secara mendadak, di akhir cerita, Multatuli menghentikan cerita Stern dengan kalimat. Cukuplah, Stern yang baik. Aku, Multatuli, mengangkat pena.
Hampir seluruh tokoh-tokoh yang ada dalam buku ini adalah tokoh-tokoh historis. Meski demikian, tokoh-tokoh tersebut tidak dinamai sesuai dengan nama aslinya, melainkan dengan nama lain. Penamaan tokoh dalam buku ini juga cukup unik, yaitu menyesuaikan dengan sifat atau karakteristik tokoh yang bersangkutan. Batavus Droogstoppel misalnya. Droogstoppel sesuai dengan sifatnya, berarti si kersang hati, sedangkan tokoh Sjaalman berarti orang yang memakai syal karena ia selalu terlihat memakai syal.
Akhirnya, sebagaimana yang tertulis dalam kata pengantar buku ini; Kejadian di Lebak sudah jauh di belakang kita, tapi pertemuan dengan Havelaar masih tetap aktuil: individu yang mempunyai perasaan kemanusiaan berjuang melawan kepentingan diri kolektivitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s