Catatan

ANTARA SESUAP NASI ATAU KONSERVASI LINGKUNGAN



Tak jauh dari rumah saya, sekitar satu kilometer, terbentang sebuah sungai sepanjang 140 km yang memanjang dari hulunya di lereng gunung Sindoro hingga bermuara ke Laut Selatan. Sungai itulah yang banyak dikenal orang dengan sebutan sungai Progo atau Kali Progo, salah satu sungai terbesar di Yogayakarta selain kali Code dan Kali Opak. Sungai Progo melintasi provinsi DIY dan Jawa Tengah, meliputi kabupaten Temanggung, Magelang, Sleman, Kulon Progo, dan Bantul. Sungai ini sekaligus menjadi batas alami antara kabupaten Kulon Progo dengan kabupaten Bantul dan Sleman.
Sungai Progo memiliki daerah aliran (DAS) seluas 2380 km2 yang terbagi menjadi beberapa sub DAS, yaitu Kali Krasak (35 km2), Kali Tangsi (164 km2), Kali Tingal (47 km2), Kali Elo (383 km2), dan Kali Bedog (120 km2). Tujuh puluh lima persen daerah aliran sungai ini terdapat di provinsi DIY. Selain berasal dari hulu utamanya di lereng gunung Sindoro bagian tenggara, sungai ini juga bersumber dari gunung Merapi, Menoreh, Merbabu, dan Sumbing. Di bagian hulu, sungai ini kerap dimanfaatkan untuk olahraga white water rafting sedangkan di bagian bawah dimanfaatkan untuk arung jeram dan kayak.
Namun, pemanfaatan yang paling utama dari sungai ini adalah untuk pertanian. Sungai ini menjadi salah satu sumber pengairan lahan pertanian atau irigasi yang utama bagi masyarakat di daerah sepanjang alirannya. Dengan curah hujan rata-rata 2300 mm/tahun, pengairan yang paling diusahakan melalui sungai ini adalah pengairan sawah, khususnya untuk bertanam padi. Sungai Progo juga kaya akan bahan tambang, khususnya pasir, yang berasal dari muntahan lahar dingin gunung Merapi. Hal ini menyebabkan penambangan pasir di sungai Progo menjadi salah satu aktivitas yang tidak dapat dielakkan.
Selama berpuluh-puluh tahun, sungai ini menjadi tempat mengadu nasib bagi masyarakat di sekitarnya, termasuk masyarakat desa kami. Masyarakat desa di sekitar kami, yang hampir semuanya adalah rakyat menengah ke bawah memeras keringat dengan menambang pasir di Kali Progo. Pekerjaan itu telah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun, secara turun-temurun. Setiap dua atau tiga hari sekali mereka bisa mendapatkan satu rit (ukuran muatan pasir) yang berarti sekitar 4 kubik. Setiap satu rit pasir biasanya seharga 140.000 hingga 160.000 rupiah.

Penambangan pasir di sungai ini telah menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, penambangan pasir telah menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat di sekitar sungai. Sungai Progo berikut pasir yang dibawanya adalah berkah Yang Maha Kuasa. Sungai ini begitu hidup. Setiap hari belasan truk mengangkut pasir dari sungai ini. Setiap hari pula, berpuluh-puluh lelaki dan perempuan mengayunkan sekop dan cangkul mereka di tanah berpasir. Air sungai merendam tubuh mereka hingga ke pinggul sementara matahari bersinar terik menghujam.
Sungai ini pun telah menghadirkan berupa-rupa pekerjaan. Penambang pasir, pemecah batu, sopir truk pasir, makelar pasir, penjaga retribusi truk pasir, penjaja makanan, dan beraneka pekerjaan lainnya. Dengan kata lain, aktivitas penambangan pasir di sungai ini telah menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari orang tua hingga anak-anak usia sekolah. Apabila seorang ayah menjadi penambang pasir, bukan hal yang aneh bila kemudian istrinya menjadi penjaja makanan atau anak sulungnya menjadi makelar pasir. Aktivitas penambangan pasir di sungai inilah yang telah menghidupi berpuluh-puluh kepala keluarga secara turun-temurun sejak dulu.
Namun, di sisi lain, penambangan pasir membawa dampak negatif yang tak dapat diabaikan. Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa jadi kekayaan sumber daya alam yang harusnya anugerah justru menjadi kutukan seperti yang dikatakan Ikal dalam Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata. Penambangan pasir telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup serius di sekitar sungai. Lubang-lubang bekas galian pasir menjadi pemandangan yang lazim dijumpai di setiap tempat penambangan pasir. Lubang-lubang itu pula yang telah mengancam keselamatan para penambang. Tak jarang, mereka tertimbun oleh lubang galian pasir mereka sendiri ketika tengah menambang pasir.

Namun, yang harus menjadi catatan adalah bahwa ada penambangan pasir tradisional yang biasanya ilegal dan adapula penambangan pasir yang menggunakan ijin pemerintah setempat. Penambangan pasir tradisional dilakukan oleh masyarakat setempat dengan alat-alat seadanya, seperti yang dilakukan oleh masyarakat desa sekitar kami. Penambangan pasir dengan cara ini biasanya dilakukan dengan berpindah-pindah. Apabila satu tempat telah mulai berkurang pasirnya, mereka lantas mencari tempat lain yang masih kaya akan sumber daya pasir. Penambangan pasir yang berpindah-pindah ini menyebabkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan merata di hampir sepanjang aliran sungai.
Adapun penambangan pasir yang dilakukan dengan ijin pemerintah biasanya dikelola oleh perusahaan tertentu. Lokasi penambangan mereka terpadu di satu tempat. Alat-alat yang mereka gunakan untuk menambang pasir juga peralatan modern yang dengan sekali keruk bisa menghasilkan berkubik-kubik pasir. Pada dasarnya, penambangan pasir dengan cara ini juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang seringkali jauh lebih parah, hanya saja kerusakan lingkungan yang terjadi juga terpadu di satu tempat.
Penambangan pasir di sungai berada di bawah wewenang Dinas Pertambangan DIY yang menangani masalah energi dan sumber daya mineral, Badan Lingkungan Hidup, serta Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak. Oleh karena itu, untuk penanganan masalah ini diperlukan penanganan lintas instansi pemerintah. Dinas Pertambangan perlu bekerja sama terutama dengan Badan Lingkungan Hidup untuk mengkondisikan penambangan pasir yang ramah lingkungan. Mungkin akan sangat sulit untuk menciptakan aktivitas penambangan pasir yang sama sekali tidak merusak lingkungan, tapi setidaknya kerusakan lingkungan yang terjadi dapat diminimalkan.
Selain itu, salah satu upaya untuk meminimalisir dampak penambangan pasir adalah dengan pemilihan tempat penambangan yang sesuai. Meskipun dampak kerusakan lingkungan sulit dihindari, tapi setidaknya dengan pemilihan lokasi yang tepat tidak menimbulkan dampak lain seperti mengganggu keselamatan umum. Misalnya, pelarangan penambangan pasir di bawah jembatan-jembatan umum. Di beberapa tempat, hal ini masih terjadi. Penambangan pasir di bawah jembatan yang dilakukan secara terus-menerus dapat mengganggu stabilitas konstruksi bangunan jembatan sehingga mudah roboh. Hal ini akan membahayakan keselamatan umum.
Di tempat penambangan pasir tradisional sendiri, setiap hari dapat diperkirakan sekitar 10-15 truk keluar masuk sungai untuk mengangkut pasir. Apabila setiap truk mengangkut satu rit pasir, dalam sehari kira-kira sudah 15 rit atau 60 kubik pasir yang diangkut dari sungai Progo. Itu baru dari satu tempat penambangan, belum dari puluhan tempat penambangan pasir tradisional lain yang menjamur di sepanjang aliran sungai Progo. Dengan cara seperti itu, kita juga dapat membuat perkiraan seberapa parah kerusakan lingkungan yang terjadi. Di samping juga, seberapa banyak lubang-lubang bekas galian pasir yang sewaktu-waktu dapat menjadi boomerang bagi para penambang itu sendiri. Lubang-lubang bekas galian pasir tersebut merata di setiap tempat penambangan.
Melihat kenyataan ini, pemerintah telah mulai menaruh perhatian. Papan peringatan berwarna putih dengan tulisan besar hitam tegas “DILARANG MENAMBANG TANPA IZIN” telah terpancang di setiap tempat penambangan pasir ilegal sejak tahun 2008. Pemerintah Daerah, khususnya Pemda Kulon Progo, juga telah menyosialisasikan larangan penambangan pasir melalui papan-papan yang ditanam di beberapa tempat tertentu. Peraturan tersebut dapat dibaca sebagai berikut. Pasal 24 Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo nomor 6 tahun 2002 diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 5000.000,00 (lima juta rupiah) APBD Provinsi DIY TA 2008 Dinas Trantib Provinsi DIY.
Pada awal masa diberlakukannya peraturan ini, para penambang pasir tidak serta merta menerima. Terjadi kericuhan di beberapa lokasi penambangan hingga polisi harus ikut turun tangan. Beberapa kali pula diadakan patroli polisi di sekitar daerah penambangan yang mengakibatkan ditangkapnya sejumlah penambang pasir tradisional. Beberapa truk pasir disita. Sejak saat itu, sebagian besar lokasi penambangan pasir dikosongkan. Namun, hal ini ternyata tidak menyurutkan para penambang pasir ilegal di beberapa tempat lain.
Yang juga harus diingat adalah kenyataan bahwa sebagian besar penambang pasir tradisional adalah masyarakat menengah ke bawah. Kesadaran akan kerusakan lingkungan tidak serta merta dapat menghentikan aktivitas para penambang ketika mereka dihadapkan pada kebutuhan hidup. Apabila aktivitas penambangan pasir dihentikan, akan terdapat sekian ratus usia produktif yang kehilangan mata pencaharian. Hal itu juga berarti ada berpuluh-puluh kepala keluarga yang kehilangan sandaran hidup. Pada akhirnya, kenyataan itu akan berimbas pada naiknya angka-angka kemiskinan. Apabila tidak segera disikapi, banyak dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh terhentinya aktivitas penambangan pasir. Kemiskinan selalu membawa seseorang dalam lingkaran setan yang sulit tertembus. Kemiskinan, pengangguran, kriminalitas. Para pemuda pergi dari desa mereka, mengadu nasib ke kota untuk kemudian hanya menjadi pekerja-pekerja kasar. Upaya untuk mengkonservasi lingkungan juga perlu diikuti dengan kebijakan yang relevan terkait masalah ini sehingga tidak ada aspek kehidupan lain yang diabaikan. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu memberikan solusi perekonomian untuk mengatasinya.
Aktivitas penambangan pasir sebagai sumber daya yang unrenewable harus diganti dengan aktivitas yang renewable. Namun, kontur tanah yang tidak rata sebagai akibat dari aktivitas penambangan telah menyebabkan daerah di sekitar aliran sungai tidak dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Oleh karena itu, salah satu alternatif yang dapat dilakukan misalnya dengan memanfaatkan daerah di sekitar aliran sungai untuk budidaya perikanan air tawar. Alternatif tersebut telah dilakukan di desa Babakan, Poncosari, Srandakan, Bantul dengan usaha budidaya perikanan air tawar dan pemancingan Mina Makmur.
Dengan alternatif ini, lubang-lubang bekas galian pasir dapat dimanfaatkan. Kerusakan lingkungan yang terjadi tidak disikapi dengan cara negatif tetapi dapat dimanfaatkan sehingga menghasilkan mata pencaharian baru bagi masyarakat. Selain alternatif tersebut, tentu saja masih ada kemungkinan terbukanya alternatif-alternatif lain yang dapat dikembangkan untuk menangani kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas penambangan pasir. Terkait hal itu dibutuhkan pemikiran dan kerja keras pemerintah, akademisi, serta masyarakat pada umumnya untuk mengembangkan alternatif-alternatif baru yang lebih solutif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s