Cahaya

SKI EKSKLUSIF: HIPERREALITAS


Ketika saya mengikuti TKJS 1 bulan April 2010, saya sudah sangat terlambat. Saya baru datang pada hari kedua sekitar jam sepuluh pagi. Lantas, saya ditempatkan di sebuah kelompok yang kala itu tengah mengadakan FGD. Tema FGD tersebut adalah problematika umat, khususnya problematika yang dihadapi oleh SKI. Dalam FGD inilah untuk pertama kalinya saya dihadapkan pada sebuah opini: SKI eksklusif. Saya, yang notabene masih sebagai ‘orang luar’, merasakan adanya suatu keganjilan dengan opini tersebut. Benarkah SKI eksklusif? Opini itu tampaknya sudah sangat mendarah daging dalam setiap anggota SKI maupun LDK, terbukti dengan argumen-argumen mereka. SKI eksklusif, buktinya lihat saja mushola-mushola, lihat saja acara-acara yang diselenggarakan oleh SKI, semuanya sepi. Itu menandakan bahwa SKI eksklusif, bahwa SKI belum bisa membaur dengan mahasiswa pada umumnya.
Mendengar itu yang saya ingat adalah…. Saya dan teman-teman non SKI juga sering ke mushola, selain untuk sholat kadang-kadang juga untuk ‘ngadem’ atau untuk membahas tugas di sana. Saya pun suatu hari ketika diberitahu ada kajian rutin SKI oleh seorang teman anak SKI, mengajak teman-teman saya dan hampir semua mau ikut meski mereka bukan anak SKI. Meski saya ketika mengajak tidak mengatakan ‘kajian’ tetapi ‘nonton film’ karena memang kajiannya adalah bedah film. Just bending the rules…^^
“Tapi, kalau menurut saya, tidak juga kalau SKI eksklusif,” ucap saya ketika mendapat kesempatan bicara. “Kalau berdasarkan apa yang teman-teman tadi katakan, saya belum bisa menarik kesimpulan kalau SKI eksklusif. Sepanjang yang saya lihat, mushola bukan hanya milik anak SKI kok. Misalnya, di mushola fakultas saya, ketika waktu sholat tiba, banyak mahasiswa non SKI yang juga masuk ke mushola dan sholat di mushola. Demikian juga ketika SKI mengadakan acara, selain anak SKI ada juga mahasiswa non SKI mau yang mengikuti acara tersebut.”
Perkataan saya langsung dimentahkan oleh seorang ikhwan, “Tapi coba anti lihat, mereka ke mushola hanya pada jam-jam sholat kan. Selain itu, mungkin ada anak non SKI yang mengikuti acara yang diadakan oleh SKI, tapi coba lihat, berapa banyak anak non SKI yang mau ikut?”
Saya diam, meski dengan hati yang bertanya-tanya. Oh ya?
Selanjutnya, ketika saya mengikuti LK 1 SKI fakultas, saya kembali dijejali hal serupa. SKI eksklusif. SKI eksklusif. SKI eksklusif. Tapi, bedanya kali ini saya tidak coba membantah ataupun mempertanyakan. Opini tersebut terus saya dengar, seolah menggema di udara yang melingkupi anak-anak SKI. Ketika mereka mengatakan SKI eksklusif, mereka seolah tidak perlu berfikir dua kali, tidak perlu berfikir ulang, bahkan mungkin tidak perlu berfikir, karena SKI eksklusif seolah sudah merupakan opini universal yang dapat diterima mentah-mentah tanpa perlu lagi dipertanyakan. Bahkan, hingga LK 3 SKI fakultas, ketika kami menyusun renstra, kalimat SKI eksklusif itu masih terus muncul dalam analisis SWOT. Hingga setelah kami presentasi, seorang mantan ketua SKI fakultas yang diminta mengomentari berucap, “SKI masih eksklusif to? Itu isu yang sudah ada dari sejak saya masuk KMIB empat tahun lalu.”
Demikianlah, hingga saya pun sampai pada sebuah pemikiran: SKI eksklusif adalah sebuah hiperrealitas.
Hiperrealitas adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Jean Baudrillard, seorang filsuf postmodern dari Prancis. Dalam dunia ketika dominasi media massa begitu merasuk, menjadi sulit untuk membedakan antara fakta dengan fiksi. Hiperrealitas adalah realitas yang diciptakan oleh media massa. Dalam konteks SKI, media massa tersebut adalah orang-orang SKI itu sendiri, pembicaraan mereka, opini mereka, yang telah menyebar secara menyeluruh ke dalam anggota SKI secara turun temurun. Media massa telah menjadi begitu berkuasa dalam menyebarkan pesan-pesan dan nilai-nilai. Fakta dan peristiwa ditentukan oleh cara pemberitaan media massa. Terkait hiperrealitas ini, Baurillard sampai pernah mengatakan pada tahun 1991: “Perang Teluk sesungguhnya tidak pernah terjadi, cuma peristiwa dalam liputan media.”
Dalam KBBI, kata eksklusif /éksklusif/ dapat dimaknai a 1 bersifat mengasingkan diri (tt orang); 2 tidak bersedia menerima atau mengizinkan masuknya anggota baru (tt kelompok atau perkumpulan); 3 tidak termasuk. Selain itu, adapula yang berarti eksklusif /éksklusif/ a terpisah; khusus. Merujuk pada konteks SKI, tampaknya eksklusif dalam hal ini menggunakan arti yang pertama, yaitu bersifat mengasingkan diri.
Mushola pada saat ini umumnya memang hanya ramai pada jam-jam sholat. Mungkin kita memang sulit untuk bisa menjadikan mushola seperti kantin misalnya, yang tetap ramai dikunjungi meski bukan jam makan. Tapi, harus dilihat pula bahwa tingkat religiusitas mahasiswa pada umumnya memang belum cukup tinggi hingga mereka mau menjadikan mushola sebagai basecamp-nya. Dengan demikian, justru keadaan itulah yang harus diperbaiki oleh SKI, SKI harus berupaya agar tingkat religiusitas mahasiswa semakin tinggi, dengan kata lain agar Islam semakin membumi. Namun, realita itu rasanya bukan alasan yang tepat untuk mencap bahwa SKI eksklusif.
Selain itu, ketika memang mahasiswa non SKI tidak mau mengikuti acara-acara yang diselenggarakan oleh SKI, yang harus dipersalahkan bukan karena SKI eksklusif. Tapi, harus ada evaluasi terhadap acara yang diselenggarakan tersebut. Bagaimana dengan konsep acaranya? Apakah sudah tepat membidik pada sasarannya? Apakah sudah efektif marketing-nya? Lebih dari itu, acara yang kurang diminati juga bukan hanya terjadi pada SKI. Tapi, apa lantas organisasi tersebut menganggap dirinya eksklusif karena hal itu? Rasanya tidak.
Saya menyadari, selain karena alasan-alasan tersebut mungkin ada beberapa sebab lain yang membuat anak-anak SKI berfikir bahwa SKI eksklusif. Saya lebih suka menyebut kalau anak-anak SKI-lah yang berfikiran seperti itu karena pada kenyataannya ketika saya bertanya pada teman-teman non SKI, mereka tidak merasa demikian. Kalaupun eksklusif, beberapa mengatakan bahwa pada dasarnya yang membuat SKI eksklusif itu bukanlah SKI-nya sendiri tapi beberapa individu di dalamnya. Opini mereka yang telah turun menurun dengan mengatakan bahwa SKI eksklusif-lah yang membuat SKI eksklusif. Kedua kata itu seolah sengaja digemakan di langit-langit SKI. Mengadaptasi kata Baudrillard, bolehlah saya mengatakan: SKI eksklusif sesungguhnya tidak pernah terjadi, cuma peristiwa yang terus-menerus meneror dalam benak mereka.
Oleh karena itu, yang harus dilakukan bukanlah kemudian menganggap bahwa SKI eksklusif. Mahasiswa SKI harus mengubah cara berfikir mereka yang mengatakan bahwa SKI eksklusif, karena tidakkah pikiran yang menciptakan realita? Lagipula, secara pribadi saya merasa hal itu tidak akan memberikan apa-apa dalam kemajuan dakwah. Introspeksi diri memang penting, tapi ketika hal itu sudah menjadi berlebihan, sehingga opini semacam itu justru mengungkungi SKI, tidakkah hal semacam itu yang justru perlu diintrospeksi?
Akan lebih baik bila yang dilakukan oleh mahasiswa SKI adalah memperbaiki strategi dakwahnya. Mahasiswa SKI hendaknya mengubah pendekatan mereka, memberikan pendekatan secara personal terhadap orang-orang yang mungkin terlihat ‘anti SKI’, mengikuti acara-acara yang mereka selenggarakan, mengikutsertakan mereka ke dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh SKI, dan tidak bersikap diskriminatif terhadap mereka. Karena, tanpa disadari, seringkali dengan sikap mahasiswa SKI yang cenderung tertutup atau hanya bergaul dengan mahasiswa yang ‘segolongan’ telah membuat diskriminasi.
Tentu saja, ini hanyalah pendapat saya pribadi… Tapi, betapa indahnya ketika kita bisa membuang kata eksklusif, dan mengubahnya dari weakness menjadi strengh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s