Filsafat / Jurnalistik

Philosophie et Journalism



Philosophie et journalism bisa diartikan sebagai filsafat dan jurnalisme. Philosophie et journalism merupakan sebuah judul editorial yang ditulis oleh Alexandre Lacroix pada majalahnya yang bernama Philosophie Magazine. Alexander Lacroix ini memiliki sebuah pemikiran untuk memadukan antara filsafat dan jurnalisme. Ia beranggapan bahwa antara filsafat dan jurnalisme memiliki keterkaitan yang erat. Tapi, apakah filsafat itu? Apakah yang dimaksud dengan jurnalisme? Bagaimanakah keterkaitan diantara keduanya?
Sebelumnya, marilah kita membicarakan terlebih dahulu tentang pengertian filsafat. Filsafat merupakan bentuk kata dari falsafat, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Secara etimologis, philosophia terdiri atas dua kata, yaitu philos atau philein yang berarti suka, cinta, mencintai dan sophia yang berarti kebijaksanaan atau hikmah. Jadi, philosophia berarti cinta pada kebijaksanaan.
Ada beberapa ahli yang mencoba merumuskan tentang definisi filsafat. Plato merumuskan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Filsafat merupakan pengetahuan tentang segala yang ada. Adapun menurut Notonegoro, filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah atau disebut hakekat.
Sementara itu, jurnalisme adalah bidang disiplin dalam mengumpulkan, memastikan, melaporkan, dan menganalisis informasi yang dikumpulkan mengenai kejadian sekarang termasuk tren, masalah, dan tokoh (http://wikipedia.co.id/jurnalisme). Dari definisi tersebut, apabila kita perhatikan, di dalam jurnalisme terdapat tiga aktivitas penting, yaitu mengumpulkan data atau fakta, mengolah data tersebut kemudian melaporkannya kepada orang lain.
Di dalam jurnalisme dan filsafat terdapat sebuah persamaan, yaitu baik jurnalisme maupun filsafat sama-sama berbicara mengenai masalah kebenaran. Filsafat sendiri mengandung arti alam berfikir atau dengan kata lain berfilsafat berarti berfikir untuk mencari kebenaran atas sesuatu hal. Hanya saja, jurnalisme biasanya merupakan kerja kolektif sedangkan filsafat merupakan kerja individual.
Descartes pernah mengatakan, “Aku berfikir maka aku ada”. Berfikir sendiri pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Seperti yang digambarkan dalam masterpiece Auguste Rodin, manusia adalah homo sapiens, makhluk yang berfikir. Hal itu karena setidaknya dengan berfikir, manusia bisa memanusiawikan dirinya, makhluk petualang yang paling unggul. Meskipun berfikir itu sendiri dapat merupakan aktivitas yang berbahaya, tapi manusia memiliki kebutuhan untuk terus berfikir.
Berfikir menjadi aktivitas yang berbahaya, apalagi ketika manusia berfikir tentang kebenaran, seperti para jurnalis misalnya. Dalam satu dasawarsa (1994-2004) telah ditemukan sebanyak 327 orang jurnalis di dunia yang meninggal akibat tekanan rezim. Di Indonesia, untuk hal serupa dapat diambil contoh kasus penyanderaan Meutia Hafidz ketika terjadi pemberontakan GAM di Aceh.
Filsafat sangat berkaitan dengan jurnalisme. Tapi, bukan berarti jurnalisme semakin filosofis atau untuk menjadikan jurnalisme sebagai filsuf. Tidak! Yang dimaksud adalah bagaimana menjadikan filsafat sebagai inspirasi atau sebagai spirit dalam melakukan kegiatan-kegiatan jurnalistik.
Kaitan antara jurnalisme dan filsafat juga menimbulkan efek ambiguitas. Filsafat pernah menggunakan jurnalisme sebagai alat untuk mempopulerkan dirinya. Misalnya pada zaman Voltaire. Voltaire berbicara tentang hal-hal yang sangat serius mengenai tuhan, kebebasan, manusia, dan semacamnya melalui bahasa jurnalisme agar dapat dipahami oleh banyak orang. Voltaire adalah seorang filsuf yang sangat berpengaruh di Perancis. Revolusi Perancis sendiri juga tidak dapat dipisahkan dari kontribusi Voltaire dengan slogannya freternite, egalite, dan libertie. Filsuf yang sekaligus seorang jurnalis pun ada misalnya Jean Paul Sartre.
Tapi di sisi lain, para filsuf memiliki kecurigaan terhadap para jurnalis. Nietzsche mengatakan bahwa keinginan untuk populer adalah mentalitas budak. Hal ini karena para filsuf menganggap jurnalisme bukan sebagai media yang memadai untuk berbicara mengenai kebenaran. Media populer hanya berisi doksa atau opini publik bukan sesuatu yang dipikirkan secara serius. Selain itu, ada kecemasan para filsuf terhadap tulisan. Tulisan dianggap sebagai pembakuan ide, sementara bagi para filsuf aktivitas berfikir adalah sebuah proses yang terus menerus, yang tidak mengenal ujung. Pada intinyanya, sebagian filsuf menghendaki buah pikiran mereka untuk tidak dituliskan, tidak banyak filsuf yang menuliskan buah pikirannya sendiri. Namun, apabila kemudian ada yang menuliskan pikiran mereka, itu lebih dikarenakan akibat adanya orang-orang yang menganggap bahwa buah pikiran para filsuf tersebut memang harus dituliskan agar dapat diketahui oleh banyak orang. Jadi, kalau boleh dikatakan, disinilah letak ambiguitasnya, antara filsafat dan jurnalisme keduanya saling memanfaatkan dan dimanfaatkan.
Lalu, apakah yang bisa diberikan filsafat kepada jurnalisme? Sejak abad ke-18, jurnalisme terasa begitu bermanfaat untuk menjembatani keimpangan pengetahuan atau arus informasi dari satu pihak ke pihak lain. Jurnalisme bisa mengambil filsafat sebagai inspirasi untuk melakukan autorefleksi terhadap hasil kerjanya sendiri. Filsafat juga dapat mengajak jurnalistik untuk melakukan autokritik terhadap eksistensinya.
Musuh kebenaran yang sesungguhnya adalah ketersembunyian atau sesuatu yang disembunyikan, dilupakan, atau ditutup-tutupi. Oleh karena itu, Heidegger berpendapat bahwa jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang melakukan penyingkapan kebenaran (refilasi) dari sesuatu yang tidak diketahui. Jurnalis harus bisa menegaskan secara terus-menerus apa yang tersembunyi agar bisa diangkat sampai ke permukaan.
Untuk dapat mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya, dibutuhkan adanya kebebasan dalam jurnalisme (freedom of pers). Jurnalisme membutuhkan suatu bentuk kebebasan yang bertanggung jawab sosial. Dengan adanya kebebasan tersebut, jurnalisme tidak akan kehilangan taringnya ketika mengungkap suatu kebenaran. Di sisi lain, kebebasan tersebut juga harus tetap merupakan suatu kebebasan yang bertanggung jawab agar tidak mengganggu hak-hak orang lain. Kebebasan tersebut juga harus meliputi freedom for dan freedom from. Hal itu karena kebenaran tidak akan bisa dibicarakan tanpa kebebasan atau konsep hakikat dari kebenaran itu sendiri, the essence of truth.
Contohnya, bila suatu media massa atau pers ditunggangi oleh sebuah kelompok kepentingan tertentu, maka berita-berita yang keluar pun sebisa mungkin akan memihak terhadap kepentingan kelompok tersebut. Meskipun dalam realitanya fakta yang ada tidak sesuai, tapi karena tidak adanya kebebasan di dalam pers maka pers pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Pada abad ke-21 ini, manusia hidup dalam arus informasi yang sangat deras. Informasi seakan telah menjadi konsumsi, terkait dengan hasrat manusia yang selalu ingin tahu. Hal itu memicu munculnya istilah junk journalism atau jurnalisme sampah. Junk journalism mengungkapkan halyang telah diketahui oleh masyarakat secara terus menerus hingga terjadi repetisi-repetisi yang membosankan. Bahkan, terkadang membuat para pembaca menjadi lupa pada esensi permasalahan yang sesungguhnya. Fenomena inilah yang nampak pada beberapa saluran berita atau infotainment kita, terutama apabila media melihat adanya sebuah peristiwa yang menghebohkan atau kontroversial. Lantas, dimana-mana semua saluran berita maupun infotainment menyajikan hal yang sama, diulang-ulang, dan tak jarang ditambah-tambahi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Masyarakat terus dijejali dengan informasi serupa yang diulang setiap harinya. Bila sudah demikian, mau tidak mau, yang harus selektif adalah para penerima informasi itu sendiri.
*sebuah tulisan dari kuliah umum calon awak Balairung 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s