Akademika

Perkembangan novel pop Indonesia


Sejarah novel populer ternyata lebih tua daripada novel sastra serius, dan tidak selayaknya dikesampingkan dari pembicaraan mengenai SSI. Novel-novel populer, dengan caranya sendiri, meneruskan tradisi roman picisan pada zaman dahulu. Perjalanan novel ini dimulai dari timbulnya novel-novel Melayu Cina sekitar tahun 1885. Novel bahasa Melayu pertama ditulis oleh Lie Kim Hok (Sobat Anak-Anak) dalam bahasa Melayu Cina pada tahun 1884. Masyarakat Tionghoa-lah yang banyak merintis tumbuhnya novel genre ini. Sekitar tahun 1890, terbit pula roman-roman Lie Kim Hok yang berjudul Tjit Liap Seng, Graff de Monte Christo; F. Wiggers dengan Nyai Isa; dan H.F.R Kommer dengan Nona Leonie.
Novel-novel Melayu-Cina mencapai puncak ketenarannya setelah tahun 1925 dengan terbitnya seri bulanan. Penerbitan roman seri bulanan berkembang subur di Sumatra, khususnya Medan. Salah satu novel populer yang timbul di Medan tersebut adalah novel populer bergenre cerita detektif dengan penulisnya yang terkenal Jusuf Souyb (serial Elang Emas) dan Matu Mona (Pacar Merah). Di Surabaya, usaha penulisan novel detektif yang telah dirintis oleh Jusuf Souyb dan Matu Mona ini dilanjutkan oleh Grandy’s cs lewat majalah Terang Bulan. Namun, di samping cerita detektif, cerita silat juga sempat muncul dan digemari pada pertengahan tahun 1950-an hingga awal tahun 1960-an. Cerita-cerita silat yang banyak bernuansa Cina itu sekaligus juga menghentikan orientasi novel populer terhadap kultur Barat.
Perjalanan novel genre ini pada dasarnya tidak pernah mengalami semacam ‘krisis sastra’ meski mengalami kemunduran selama pendudukan Jepang dan masa revolusi. Hingga akhirnya, situasi kemandegan novel populer tersebut terhenti dengan munculnya novel-novel Motinggo Busye pada tahun 1967, yang banyak mengisahkan tentang kehidupan golongan menengah atas dan golongan elite di Jakarta. Motinggo Busye, yang oleh Teeuw disebut sebagai ‘sang gembong tanpa mahkota’ dan D.Suradji, adalah beberapa pengarang novel populer yang terkenal pada masa itu. Antara tahun 1967 sampai 1970, berkembanglah novel-novel saku yang mengepigoni novel Motinggo Busye.
Tetapi sekitar tahun 1972, sebuah gebrakan baru muncul dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, khususnya dalam genre novel populer. Pada tahun-tahun itu muncul novel Marga T. berjudul Karmila (1973) yang pada awalnya dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas. Memang, ada hubungan kuat antara dunia media massa -khususnya surat kabar dan majalah- dengan novel populer, mengingat banyaknya novel populer yang pada awalnya terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar. Novel Marga T. yang kemudian antara lain Badai Pasti Berlalu (1974) dan Gema Sebuah Hati (1976).
Selain itu, muncul pula Ashadi Siregar dengan novel-novelnya tentang dunia mahasiswa seperti Cintaku di Kampus Biru (1974), Kugapai Cintamu (1974), dan Terminal Cinta Terakhir (1975). Marga T. bersama Ashadi Siregar telah membuka babak baru dalam penulisan novel populer Indonesia, baik dalam hal bentuk maupun isi. Novel-novel populer bertema kisah cinta pada masa itu cenderung dangkal isinya, pendek isinya, men-generalisasi, dan menonjolkan unsur pornografis. Sementara novel-novel Marga T. dan Ashadi sudah lebih utuh dan cukup panjang sebagai novel, menggunakan bahasa yang baik, serta digarap dengan pandangan yang lebih terpelajar (Kratz, 2000:686).
Ada aspek sosiologis yang menarik terkait latar belakang timbulnya karya sastra ini. Lahirnya bacaan populer merupakan salah satu cara untuk menanggupi perubahan masyarakat yang dinamis akibat pengaruh kebudayaan asing. Di satu pihak, masyarakat khususnya kelompok remaja, memerlukan bacaan lain di samping cerita-cerita lama yang dianggap sudah membosankan. Masyarakat memerlukan jenis sastra yang berbeda dengan sastra serius seperti karya-karya Balai Pustaka yang dianggap terlalu sulit dipahami. Selain itu, ada sejumlah indikasi yang memicu perkembangan novel populer, diantaranya
a. Kondisi sosio-ekonomi yang sudah membaik, terutama sebagai rehabilitasi mental yang dialami selama tahun 1960-an.
b. Meningkatnya kesadaran intelektual yang dengan sendirinya meningkatkan kebutuhan akan bacaan-bacaan, seperti bacaan yang bersifat lebih banyak menghibur.
c. Kurangnya penerbitan novel serius, yang sudah dialami sejak surutnya penerbitan Balai Pustaka
Penerbitan novel populer pada hakekatnya adalah usaha memperdagangkan cerita tertulis. Unsur cerita menjadi tumpuan utama sastra jenis ini, dengan mengorbankan unsur tema, perwatakan, eksplorasi kehidupan, bahasa, dan sebagainya. Daya tarik novel populer sangat kuat. Salah satu daya tariknya ialah lika-liku jalan ceritanya yang penuh suspense. Jalan cerita novel populer biasanya menarik, sederhana, dan mudah diikuti, tetapi penuh penundaan yang mengundang ketegangan. Usaha untuk memikat pembaca terlihat pada usaha mengekspos unsur kriminal dan seks dalam setiap jalan ceritanya. Rata-rata novel populer sering dangkal isi dan penggarapannya lantaran para pengarangnya diburu oleh penerbit. Karena novel populer merupakan produk dagang, unsur selera massa-lah yang menjadi ukuran, akibatnya tidak ada tradisi yang langgeng dan kontinyu dalam novel populer.
Ciri lain dari novel populer adalah keterikatannya pada aktualitas zaman, terutama yang berhubungan dengan kehidupan mutakhir kota-kota besar. Sebagai produk budaya kota besar, novel populer pun rata-rata memang mengambil setting di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan sekitarnya. Ciri novel populer yang sedemikian itu lantas diramu dengan daya tarik covernya yang eksotis, menonjol, dan terkesan mewah. Judul-judulnya sensasional dan romantik. Ilustrasinya naturalis sehingga mudah ditangkap oleh pembaca. Pada tahun 1967, tampak sekali gejala untuk menonjolkan unsur seks dan kekerasan melalui sampul buku.
Sebagai bacaan massa di kota-kota besar, novel populer dapat digunakan sebagai barometer tingkat kebudayaan penduduk kota pada umumnya. Hal itu membuat novel populer tidak selayaknya dipinggirkan dalam pembicaraan mengenai dunia kesusasteraan Indonesia. Apalagi, jumlah novel genre ini mungkin merupakan bagian terbesar dari jumlah karya sastra secara keseluruhan. Garis pembatas novel populer dengan novel serius juga sama sekali tidak tajam, seperti dalam novel-novel karangan Ahmad Djan. Selain itu, novel populer telah banyak berjasa dalam menggalakkan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia dan penggunaan bahasa novel ini pun lebih mendekati realita bahasa dalam masyarakat.
Apabila novel serius lebih mementingkan isi, novel populer terlalu mementingkan bentuk. Fiksi serius mengandung kesukaran sekaligus menantang sehingga memerlukan pembacaan dan pembacaan kembali. Ia mengandung ajaran-ajaran yang berguna sehingga dianggap lebih baik. Oleh karena itu, fiksi serius dapat dinikmati oleh berbagai generasi karena mampu bercerita. Secara singkat, perbedaan novel populer dengan novel serius menurut Jakob Sumardjo dalam Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik antara lain,
1. Tema
Fiksi populer hanya menceritakan kisah asmara belaka, tanpa masalah lain yang lebih serius. Fiksi serius tidak hanya berputar-putar dalam masalah cinta, tetapi membuka diri terhadap semua masalah yang penting untuk penyempurnaan hidup manusia.
2. Plot
Fiksi populer terlalu menekankan pada plot, dengan mengabaikan karakterisasi, problem kehidupan, dan unsur-unsur novel lainnya. Tokoh-tokoh dalam novel populer cenderung stereotipe, sedangkan dalam novel serius cenderung tipikal. Dalam fiksi serius plot memang penting, tetapi bukan merupakan daya tarik utama. Cerita diimbangi dengan bobot lain seperti karakterisasi, setting, tema, dsb.
3. Teknik Penceritaan
Dalam novel populer cerita disampaikan dengan gaya emosionil, hanya mengungkapkan permukaan kehidupan, dangkal, tanpa pendalaman. Sementara novel serius tidak berhenti pada permukaan saja, tetapi selalu mencoba memahami sesuatu secara mendalam dan mendasar atas suatu masalah.
4. Isi
Dalam novel populer, masalah yang dibahas kadang-kadang cenderung artifisial, hanya mungkin terjadi dalam cerita itu sendiri. Adapun novel serius, genre ini membicarakan hal-hal yang universal dan nyata, dapat dialami oleh manusia kapan pun dan di mana pun.
5. Unsur Inovasi
Pengarang novel populer rata-rata tunduk pada hukum cerita konvensional karena cerita ditulis untuk konsumsi massa. Akibatnya, jarang dijumpai usaha pembaharuan dalam novel genre ini. Berbeda dengan novel populer, novel serius tidak mau berhenti pada konvensionalisme. Novel serius selalu menuntut pembaharuan, penuh inovasi.
6. Bahasa
Bahasa yang dipakai dalam novel populer adalah bahasa yang aktuil, yang hidup di kalangan pergaulan remaja masa kini. Dalam novel serius, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang standar, bukan slang atau mode sesaat.
Agaknya sangat menarik untuk mengamati perkembangan novel populer belakangan ini. Penulis novel populer yang terkemudian ini antara lain, Eddy D. Iskandar, Masheri Mansyur, Remy Silado, Ali Topan, Yudhistira Ardi Nugraha. Mereka menawarkan novel-novel remaja yang lebih khas, diliputi banyak dialog dalam bahasa-bahasa remaja yang paling kontemporer. Namun, di era 2000-an, ada fenomena menarik di dunia kesusastraan Indonesia dalam kaitannya dengan novel populer, yaitu terkait fenomena teenlit dan chicklit. Disinilah, novel populer seakan menemukan bentuk transformasinya dalam teenlit dan chicklit.
Fenomena novel bergenre teenlit atau teen literature mulai merebak sekitar tahun 2000-an. Pada dasarnya, novel-novel ini berakar dari novel-novel Barat bergenre sama yang sudah terlebih dahulu mendulang kesuksesan di Indonesia, misalnya Bridget Jones` Diary (diterjemahkan menjadi Buku Harian Bridget Jones). Pangsa pasar teenlit berkisar di lingkungan remaja putri, dapat dikatakan bersaing dengan genre yang sedikit lebih dewasa, chicklit, atau chick literature. Perkembangannya pun boleh dikata hampir beriringan. Chicklit lebih mengarah pada sosok wanita muda protagonis yang mandiri, lajang, bergaya hidup kosmopolit, dengan berbagai problematika percintaan, sedangkan teenlit cenderung mengarah pada kaum remaja putri, kehidupan sekolahan, masa-masa sweet seventeen, dan juga percintaan. Satu genre lagi, tapi mungkin tidak terlalu booming sebagaimana teenlit dan chicklit, adalah momlit. Sesuai dengan namanya, momlit atau mom literature mengarah tentang kisah mengenai kehidupan ibu-ibu, khususnya ibu-ibu di perkotaan dengan segala macam problematikanya.
Karya fiksi tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari penggemarnya. Karya-karya fiksi yang biasanya dilabeli dengan kata ‘teenlit’ di bagian bawah sampul depan ini sampai mengalami cetak ulang berkali-kali. Sebut saja Cintapuccino yang dalam sebulan sudah harus dicetak tiga kali dan terjual 11.000 eksemplar sejak diluncurkan; Dealova karangan Dyan Nuranindya sejumlah 10.000 eksemplar, juga sebulan setelah dirilis; dan Fairish yang sampai 2005 sudah terjual 29.000 eksemplar. Dealova dan Cintapuccino bahkan telah diangkat ke layar lebar.
Chicklit dan teenlit memperlihatkan kecenderungan baru dalam dunia sastra. Para penulis novel ini rata-rata adalah para remaja. Keberhasilan para penulis muda ini mampu mendorong remaja-remaja lainnya untuk menulis novel dengan genre yang sama. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kemudian bertaburan mana-nama penulis muda di bidang ini. Apalagi ditambah dengan keseriusan beberapa penerbit dalam menggarap penerbitan teenlit dan chicklit. Sebut saja penerbit Gramedia, yang bahkan tiap tahun menggelar Lomba Penulisan Teenlit.
Apa yang diceritakan dalam novel-novel ini merepresentasikan kehidupan para remaja, khususnya remaja perkotaan. Membaca teenlit seolah membuat kita dihadapkan pada kenyataan tentang budaya para remaja masa kini. Teenlit dan chicklit sebagaimana novel populer, alur ceritanya tidak terlalu rumit, bahasa yang digunakan adalah bahasa remaja kontemporer, dan isinya juga khas remaja.
Teenlit dan chicklit juga bukan tanpa pro-kontra. Meski mendapat sambutan yang luar biasa, teenlit dan chicklit dianggap tidak mengangkat masalah yang krusial dalam masyarakat. Teenlit dan chicklit diyakini tidak akan mampu bertahan lama, yang setidaknya memang telah cukup terbukti akhir-akhir ini. Dunia kesusasteraan Indonesia belakangan ini terlihat tidak begitu ramai lagi oleh kedua genre novel populer tersebut. Gaya bahasanya yang sangat ‘gaul’ dianggap dapat merusak bahasa Indonesia. Novel-novel genre ini, yang biasanya banyak mengeksplorasi kehidupan ala Barat, dianggap bersikap permisif terhadap nilai-nilai pergaulan dan gaya hidup Barat yang dapat merusak nilai-nilai ketimuran, seperti berciuman, seks, dan pesta. Pro-kontra ini sedikit banyak mengingatkan saya pada pro kontra terhadap roman picisan di Medan beberapa dekade yang lampau. Demikianlah, ada kecenderungan bahwa novel populer tidak akan pernah mati, novel populer selalu mengalami evolusi pada setiap zamannya.
Daftar Pustaka
Khuta Ratna, Nyoman. 2007. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kratz, E. Ulrich. 2000. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sumardjo, Jakob. 1982. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik. Yogyakarta: C.V. Nur Cahaya.
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta:Pustaka Jaya.
http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/…/chicklit-dan-teenlit-relativitas.html diakses pada tanggal 27 Desember 2010 pukul 17. 04.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s