Sastra

Perempuan, Agama, dan Kebudayaan dalam Kerangka Novel


Ketika saya membaca buku Maman S. Mahayana Ekstrensikalitas Karya Sastra, saya tidak bisa tidak teringat pada satu kalimat ini.
“Agama dan kebudayaan dibangun sedemikian rupa untuk memposisikan perempuan sebagai makhluk yang paling teraniaya”
Terinspirasi akan kalimat itu, saya lantas terpikir, apakah itu berlaku juga dalam karya sastra ? Bagaimana dengan novel ? Saya pun kemudian mencoba untuk membaca beberapa karya sastra yang relevan. Dua karya sastra yang saya pilih adalah Geni Jora karangan Abidah El Khalieqy dan sebuah novel karangan pengarang Mesir Nawal el Saadawi, Perempuan di Titik Nol.
Novel pertama, Geni Jora, adalah sebuah novel yang berkisah tentang seorang perempuan bernama Kejora. Seorang perempuan yang tegas, berprinsip, pedas, dan cerdas. Kejora hidup di sebuah keluarga yang kental akan nilai-nilai agama, tapi justru di sanalah untuk pertama kali ia mendapati sebuah paradigma bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, yang terbatas ruang geraknya, dan yang harus selalu mengalah demi kepentingan laki-laki. Mereka hidup seperti di dalam puri, dengan tembok setinggi tiga meter memagari rumah besar tersebut sehingga tidak banyak interaksi dengan tetangga terjadi.
Ia pun mempertanyakan keberadaannya sebagai seorang perempuan dengan kalimat
Siapakah perempuan itu? Barisan kedua yang menyimpan aroma melati kelas satu ? –hal. 60
Ketidakadilan-ketidakadilan mulai ia rasakan di keluarga ini, sebuah keluarga yang notabene kental akan nilai-nilai Islam. Tapi seringkali justru nilai-nilai Islam yang agung itulah yang digunakan sebagai alat pembenaran, alat legitimasi atas semua ketidakadilan terhadap perempuan. Nenek Kejora adalah orang yang sangat mempengaruhi pemikiran Kejora, mengilhami pemberntakan-pemberontakannya. Bukan karena Nenek berpikiran sama dengan Kejora, tapi justru karena Nenek-lah yang suka mengekangnya hingga menghidupkan daya kritis dan jiwa pemberontak seorang Jora.
Prahara, adik laki-lakinya, adalah cucu kesayangan Nenek. Prahara yang selalu dianggap benar, dianggap menang, dan dianggap juara karena ia seorang laki-laki. Ia boleh membuka pagar pintu besar setiap saat kapan pun ia mau dan bermain bersama anak-anak tetangga atau melihat pertunjukan topeng monyet sementara Jora dan Lola tak boleh melakukannya. Ia pun tak pernah dimarahi meski pulang dari lapangan bola dengan baju penuh lumpur, Nenek hanya akan menggiringnya untuk mandi sambil tersenyum-senyum maklum. Selalu ada kata ‘tidak’ untuk Jora dan Lola ketika Prahara mendapatkan kata ‘ya’.
Nenek berpendapat bahwa perempuan harus selalu mengalah. Tidak ada laki-laki yang mau mengalah. Laki-laki selalu ingin menang dan menguasai kemenangan. Sebab itu perempuan harus selalu me-nga-lah. Itulah yang kemudia ditolak oleh Jora. Pantas saja, Nenek tak pernah diperhitungkan, demikian kata Jora ketika Nenek menyuarakan pendapatnya.
Sebab Nenek telah mematok harga mati, dan harga mati Nenek adalah kekalahan. Siapakah yang mau memperhitungkan pihak yang kalah? -hal. 61
Sebuah peristiwa lain yang membuat Jora semakin menentang Nenek adalah ketika Jora mendapatkan ranking pertama tapi Nenek tidak mengakuinya.
Nilaiku ranking pertama tetapi (sekali lagi tetapi), jenis kelaminku adalah perempuan. Bagaimana bisa perempuan ranking pertama ? –hal. 60
“Ini kan raport sekolahan, Cucu. Berapa pun nilai Prahara di sekolahan, sebagai laki-laki, ia tetap ranking pertama di dunia kenyataan. Sebaliknya kau. Berapapun rankingmu kau adalah perempuan dan akan tetap sebagai perempuan. –hal. 62
Dengan menggambarkan tokoh protagonis dari pemikiran Jora sebagai seorang Nenek, Abidah seolah ingin mengatakan bahwa golongan tua sebagai golongan kolot dan konvensional.
Di keluarga itu pula ia untuk pertama kalinya melihat dan merasakan usaha pelecehan seksual yang dilakukan oleh kedua pamannya. Paman Hasan dan paman Khalil adalah dua orang kepercayaan ayahnya. Suatu ketika mereka berusaha untuk memperkosa Bianglala (Lola), kakak Kejora dan itu tak hanya sekali. Malangnya, hanya Kejora yang tahu dan mereka tak berani mengatakannya pada siapa pun.
Tentang ibunya sendiri, Jora merasa kalau ibunya adalah seorang perempuan istri kedua yang tertekan, meski ibunya mengelak.
“Siapa ibumu Jora”
Ibuku adalah seorang perempuan sederhana yang mengelola rumahnya menjadi sebuah kastil indah bagi anak-anak dan suaminya. Ia tidak pernah kemana-mana. Ia melangkahi pintu besar hanya di waktu takziah, pesta pernikahan atau menjadi imam shalat Jum’at di langgar (mushola) yang khusus untuk perempuan. –hal. 79
Seperti inikah perempuan yang benar-benar dikehendaki oleh agama dan adat kita? Seseorang yang –seperti sering dikatakan dalam budaya Jawa- hanya mengenal dapur, sumur, kasur ?
Novel selanjutnya yang saya baca, Perempuan di Titik Nol, mengisahkan tentang kehidupan Firdaus. Firdaus, adalah seorang narapidana yang dihukum dengan tuduhan pembunuhan. Seperti halnya tokoh Jora, Firdaus pun mengalami berbagai kegetiran dan ketidakadilan dari laki-laki. Mulai dari ayah, paman, suaminya, hingga laki-laki lain yang ia temui di sepanjang perjalanan hidupnya sebagai seorang pelacur.
Saya tidak ingin banyak bercerita tentang novel yang sudah sangat terkenal ini. Sebuah novel yang sangat pedas dan keras. Saya hanya ingin mengemukakan satu peristiwa yang mungkin relevan dengan apa yang ingin saya temukan dari novel ini. Suatu ketika, Firdaus ‘dijual’ oleh pamannya kepada seorang laki-laki duda kaya yang sudah tua bernama Syekh Mahmoud. Seperti yang bisa diperkirakan, suaminya ini bukanlah seseorang yang bisa menghargai perempuan sebagaimana mestinya. Setiap kali Firdaus berbuat kesalahan, ia selalu memarahi dan memukulnya. Suatu hari, ketika Syekh Mahmoud memukulinya, Firdaus pulang ke rumah paman dan mengadukannya. Tapi, apa yang Firdaus temukan dari pamannya.
Dia menjawab, bahwa justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul istrinya. Aturan agama mengizinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna. –hal. 64
Yang lebih membuat Firdaus tak mengerti, bibinya pun membenarkan perkataan pamannya.
Di sini, terasa benar bahwa agama dan kebudayaan saling bersekongkol untuk menjadikan perempuan sebagai mahkluk yang lemah. Ironisnya lagi, kebudayaan yang tampak dalam kedua novel tersebut justru sebuah kebudayaan yang banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur keagamaan. Geni Jora yang bersetting di sebuah keluarga Islam dan pesantren, dan Perempuan di Titik Nol yang bersetting di Mesir, sebuah negara pusat ilmu pengetahuan Islam. Padahal, benarkah Islam yang agung mendudukkan perempuan sedemikian rupa seperti halnya dalam novel-novel tersebut? Kiranya, ini adalah sebuah contoh penafsiran agama yang tidak pada tempatnya, yang dilakukan hanya untuk menguntungkan satu pihak, laki-laki.
Seorang perempuan tidak terlahir ‘sebagai’ perempuan, tetapi ‘menjadi’ perempuan.

-Sentolo, 12 Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s