Cerpen

S.O.S.


Angin pantai sore hari berhembus pelan. Laut tampak begitu tenang. Daun – daun pohon kelapa tak henti – hentinya melambai. Selamat tinggal hutan, pohon – pohon, monyet, kakak tua, buaya, teman – teman semua dan selamat tinggal juga bapak – bapak pemburu! Selamat tinggal Indonesia! kapal bergerak makin cepat. Deru motor mesinnya memekakkan telinga. Pantai telah nampak sebagai titik hijau semata.
Aku tak tahu sampai berapa lama aku akan berada di tengah lautan ini. Lelaki berjenggot itu masih duduk didepan mesin motor kapalnya. Wajahnya terlihat begitu angker. Mulutnya terus mengepul asap rokok.
“ Nere, kau tahu kita akan dibawa kemana ?” tanya lulu padaku. Wajahnya terlihat sangat sedih.
“ Tidak, tapi kurasa kita akan dijual”.
“ Tentu saja kita akan dijual. Buat apa lagi kita kalau tidak dijual “. Ujar Dido, satu – satunya burung peruh bengkok yang ada disini.
“ Mama… tolong aku, mama! Aku mau pulang, aku tidak mau dijual, mama”, Sera berteriak, teriak sedari tadi. Teman kecilku ini terus berteriak sejak kapal mulai berangkat.
“ Diam …!” bentak Dido keras. Sera hampir menangis.
“ Nera, apa aku akan bertemu mama lagi ? aku akan minta maaf pada mama, Nere. Aku menyesal sudah marah – marah dan kabur dari mama. Tapi aku tidak ingin menjadi seperti ini. Aku tidak ingin dijual. Aku masih ingin bertemu mama. Nere, kau bisa bantu aku agar bertemu mama lagi kan ? ayolah Nere. Aku ingin keluar dari sini ! Sera menangis sambil berteriak – teriak tak terkendali. Ia terus berusaha mengepak – epak kan sayapnya agar bisa terbang dikandang besi sempit ini.
“ Diam ! Dasar burung cerewet !” teriak lelaki itu dan Bukk … ia memukulkan tongkat kayunya kekandang besi kami. Sera berhenti menangis. Lulu terlihat ketakutan. Dido menatap tajam pemburu tua itu. Ah, andai dia tahu apa yang kami katakan, andai ia mendengar tangisan Sera, mungkin dia tak kan setega itu pada kami.
Sekelilingku air laut terlihat hitam gelap. Hari telah hampir subuh. Berjuta bintang gemerlapan diatas sana. Kapal masih terus melaju di keluasan air laut. Dari depan kulihat setitik cahaya yang makin lama makin jelas. Sebuah kapal ! kapalku melaju makin mencang mendekati kapal itu. Hingga akhirnya kedua kapal bertemu ditengah laut. Dari dalam kapal asing itu muncul seorang lelaki botak yang tampak akrap berbincang – bincang dengan lelaki berjenggot yang membawaku.
Mereka tampak berbicara sebentar hingga akhirnya aku, Sera, lulu dan dido diserahkan lelaki berjenggot itu pada sang lelaki botak. Lelaki botak menyerahkan sejumlah uang sambil tertawa akrap. Ia kembali lagi kedepan kemudi kapal tatkala kapal lelaki berjenggot mulai bergerak menjauh. Dan kapal asing ini pun melaju kembali membawa kami yang masih dicekam ketakutan.
Hari hampir pagi saat kapal berlabuh disebuah pantai kecil. Lelaki botak itu mengeluarkan kami semua dari kapal. Sebuah jeep muncul dari depan dan berhenti didepan kami. Aku, Sera, Lulu dan Dido pun dimasukkan kedalam jeep. Lelaki botak masuk kedalam jeep dan duduk dibelakang kemudi. Ia menginjak pedal gas kuat – kuat membuat jeep berlari begitu kencang. Didalam jeep lelaki botak itu berbicara serius dengan seorang anak muda yang menjemput kami tadi.
Dan taulah aku ada dimana saat ini, aku ada di Filipina.
Hari ketiga kami disini segalanya tak ada yang berubah. Sera masih tetap sering menangis dan berteriak – teriak memanggil mamanya. Ia tak lagi mau makan. Wajahnya sangat sayu. Dan Dido menjadi lebih sering marah – marah tanpa alasan. Seorang anak muda datang memberi kami makanan. Dido segera mendekati makanan dan makan tanpa mempedulikan kami. Aku menatap Sera tapi Sera tak peduli sedikitpun.
“ Ayo makan, Sera !” ajak lulu menghampirinya. “ kau bisa sakit dan tak akan bisa bertemu mamamu lagi kalau kau sakit.
“Aku memang sudah tak akan bisa bertemu Mama lagi meskipun aku sehat,” ucap Sera tanpa harapan. Air matanya mengalir deras. Sekarang Sera tak pernah lagi berteriak-teriak dan mengepak-epakkan sayapnya membenturi jeruji besi itu. Tapi wajahnya makin sayu dan air matanya selalu mengalir. Sera menjadi sangat lemah. Tak ada yang pernah dikatakannya, ia selalu diam sambil menerawang jauh dengan air mata yang terus mengalir.
Hari makin beranjak siang. Dan Sera makin lemah. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali terbaring tak berdaya di dalam jeruji ini. Aku dan lulu menjaga Sera disampingnya.
“Sera!” seru aku dan Lulu girang tatkala kulihat Sera membuka matanya.
“Kau baik-baik saja kan Sera?” tanyaku cemas. Jantungnya sudah berdetak kian lemah dan matanya terus terpejam.
“Nere….,” bisiknya lemah nyaris tak terdengar. “Kalau nanti aku mati dan kau bisa kembali ke hutan….katakan pada Mama kalau aku sangat menyesal sudah meninggalkannya dan aku sangat sayang pada Mama….Aku ingin minta maaf telah sering membuat Mama marah dan aku juga sering menyusahkan Mama….serta kalian. Maafkan aku Nere, Lulu…..”
Tidak Sera! Kau tak menyusahkan kami, pekikku dalam hati. Tapi aku tak mampu berkata apa-apa, hatiku terlampau sesak menahan gejolak perasaanku. Sera memejamkan matanya…dan kali ini untuk selamanya. Mataku berkaca-kaca, semua yang ada di depanku terasa berputar-putar dan tak jelas. Sera terkulai di dalam jeruji besi Lulu terisak-isak makin keras.
“Hai…..tak ada gunanya kau menangis. Sekeras apapun kau menangis Sera tak mungkin hidup lagi. Dia toh sudah mati!” ujar Dido sambil membuang muka.
“Kalau kau yang mati, aku takkan pernah perduli, Dido!!” teriak Lulu penuh kebencian. Matanya menyala-nyala. Dido tersenyum sinis. Ingin rasanya aku membunuhnya saat itu juga. Dia benar-benar tidak setiakawan! Tidak tahu diri!!.
“Lihat…ada yang mati!” Tiba-tiba kudengar sebuah suara dari arah dalam. Anak muda yang memberi kami makan tadi pagi membuka kandang besi dan mengambil bangkai Sera.
“Wah, padahal ini yang paling bagus malah mati” lanjutnya kecewa.
“Tidak masalah. Nanti masih bisa dibuat opsetan”, kata seorang lelaki yang tengah membetulkan sebuah kandang besi tak jauh dari tempatku. Oh….Tuhan, bahkan disaat Sera sudah matipun ia masih juga akan dibuat opsetan. Apakah saat manusia-manusia itu mati nanti mereka juga mau dibuat opsetan?
Suara-suara tawa keras dari dalam memecahkan kesedihanku. Suara itu terdengar makin dekat hingga kilihat 2 orang lelaki berjas datang bersama lelaki botak dan mengamatamati kami. Yang seorang bertubuh gempal dan berkulit sawo matang. Wajahnya tampak sadis dengan alis tebal dan mata lebar. Yang seorang lagi memakai dasi berwarna hitam bergaris-garis putih, tinggi, menenteng sebuah tas kulit dan berwajah tirus. Sedari tadi ia berkacak pinggang sambil memperhatikan Lulu.
“Sepertinya dia akan membeliku, Nere….” Kata Lulu cemas. Bola matanya berputar-putar ketakutan. Lelaki botak itu mulai berpromosi. Dan tampaknya pria berwajah tirus itu makin tertarik. Ia menyuruh lelaki botak mengeluarkan Lulu dari kandang dan mulai menawar Lulu mengepak-epakkan sayap mencoba terbang. Lelaki botak itu menyambar sebuah kandang lain dan memasukkan Lulu kedalamnya. Pria berwajah tirus mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tas kulitnya. Lelaki botak tertawa renyah dan menyerahkan Lulu pada pria itu. Lulu menatapku tanpa harapan.
“Jangan sedih, Lulu. Kau pasti akan baik-baik saja,” ucapku saat pria itu membawa pergi Lulu. Aku ingin menangis melihat sinar matanya yang begitu kelam.
Dido manatapku. “Sekarang tinggal kau atau aku yang lebih dulu pergi dari tempat terkutuk ini.” Katanya penuh amarah. Tapi tampaknya Dido yang lebih dulu pergi, karena lelaki botak itu mengambil Dido dari kandangnya.
Ups…oh Tuhan! Aku tak yakin ini bisa terjadi! Lelaki botak mengambil sebuah kandang dan saat ia akan memasukkan Dido kedalamnya…Dido terlepas!, lelaki botak dan pria bertubuh gempal itu berteriak-teriak penuh amarah. Dido berputar-putar sebentar diatas sebelum akhirnya melesat terbang jauh keselatan.
“Dido…Dido! Tolong akuuu, Didooo,” teriakku sekeras mungkin sambil menerjang-nerjang besi. Namun aku harus tertunduk lemas melihat Dido tak mempedulikanku. Alangkah beruntungnya kau..Dido..
Sinar matahari pagi menembus rimbunnya daun-daun hutan Kalimantan. Embun mulai menguap dari atas daun-daun. Aku mengepakkan sayapku yang indah perlahan-lahan. Mataku terus mencari-cari sesuatu untuk sarapan pagi ini. Ini hari yang indah dan tak ada yang bisa merusaknya, pikirku. Tapi, oh coba dengar….suara…seperti teriakan minta tolong! Aku terbang mencari sumber suara. Teriakan-teriakan itu terdengar makin jelas.
“Sera!” pekikku. Kudapati seekor burung paruh bengkok kecil terjerat getah. Aku terbang menukikturun. Sera menjerit-jerit.
“Nere…tolong aku! Nere, aku terkena getah lengket,” teriaknya.
“Kenapa kau bisa pergi sejauh ini dari sarangmu, Sera? Apa kau tak bersama Mamamu?”
Sera adalah burung paruh bengkok yang cantik dan manja. Ia tak pernah terlalu jauh dari sarangnya. Mama Sera tak pernah mengizinkannya untuk pergi bermain terlalu jauh dari sarang.
“Aku kabur, Nere! Aku ingin melihat tempat-tempat lain dihutan ini. Aku bosan disekitar Sarang terus. Sejak pagi Mama marah-marah padaku. Tapi aku malah terperangkap disini. Tolong aku, Nere! Cepatlah!” ujar Sera hampir menangis. Aku terbang mendekati Sera dan berusaha melepaskannya dari getah lengket itu. Ini pasti ulah pemburu, tak salah lagi.
Namun, oh…akupun terperangkap! Kakiku tak bisa terlepas, aku berusaha sekuat tenaga, tapi tetap tak bisa lepas! Sera berteriak-teriak kebingungan. Akupun merasa sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi. Sekian lama aku dan Sera terperangkap, hingga akhirnya datang 2 orang lelaki bertopi lebar dan bersepatu bot. sera berteriak girang melihat mereka, mengira mereka akan menyelamatkan kami. Tapi hatiku justru berkata lain, kita dalam behaya besar Sera!.
Dan bahaya besar yang kutakutkan itu kini benar-benar terjadi. Setelah Sera mati, Lulu dijual, Dido melepaskan diri kini tinggal aku sendiri. Mungkin aku akan dijual seperti Lulu atau mati seperti Sera.
Tapi aku berharap aku bisa melepaskan diri seperti Dido. Aku kembali ada di dalam perahu motor saat ini. Pria botak yang membeliku tiga hari lalu itu membawaku pergi lagi. Lagi-lagi aku tak tahu akan dibawa kemana. Setelah aku lahir di hutan Kalimantan. Indonesia lalu dijual ke Filipina dan sekarang….mungkin ke Malaysia atau India. Tapi aku berharap aku tak dibawa ke Swedia atau Finlandia karena aku takut mati beku disana.
Aku tak hanya sendiri disini. Ada seekor burung rangkong dan beberapa ekor paruh bengkok sepertiku. Di sebelah kandang burung rangkong ada 2 ekor kakaktua kecil jambul kuning. Lalu ada seekor burung betet kepala punggung biru dari Sumatra dan seekor burung Nuri Irian kepala hitam, bernama Tirena. Burung nuru Irian itu tak lelah-lelahnya bernyanyi riang sejak aku mulai bertemu dengan nya tadi.
“apa kau tak bisa diam, Tirena!!! Bentak burtung rangkokg penuh wibawa. Tirena tersenyum sinis namun tak berkata apa-apa. Ia mendekati burung Bete I sebelahnya.
“Apa kau tak bisa mengangkat kepalamu itu sedikit saja, temanku? Kau terlihat sangat jelek!” ledek Tirena, betet itu tetap tak bergeming.
“Tirena, aku sangat heran melihatmu. Apa kau sama sekali tak merasa sedih? Atau hanya belum tahu? Kita dibawa bukan untuk…..”
“Oh…oh…oh,” potong Tirena dengan nada makin keras. “aku tahu kita akan dijual teanku, Betet yang cantik. Tapi kenapa kita harus sedih? Toh, kita memang diciptakan untuk manusia. Kita ini ada untuk memeberikan kemudahan hidup manusia.”
Tirena menghela nafas sejenak.
“Dan dengan kita dijual,” lanjutnya. “Kita akan menghasilkan uang untuk mereka. Dsan orang-orang juga akan bisa mengangumi keindahan kita, benarkan perkataanku? Jadi kenapa kita harus sedih?” Tirena menggoyang-goyangkan ekornya dengan angkuh.
“tapi, Tirena…..” selaku. “Kita memang diciptakan untuk menusia tapi tidak seharusnya mereka berbuat sekehendak hati mereka. Mereka tidak boleh seenaknya menangkap kemudian menjual kita. Kau tahu, berapa banyak saja teman-teman kita yang mati? Sudah begitu banyak, Tirena. Dan karena itu jumlah kita sekarang sudah semakin sedikit. Sustu saat nanti mungkin 10 atau 15 tahun lagi kita bisa benar-benar punah. Apa yang kau inginkan?”
“Nere….Nere, kau terlalu melebih-lebihkan persoalan,” ucap Tirena tak peduli.
“Tidak., Tirena. Kurasa Nere Benar, kita bisa punah suatu nanti kalau manusia terus berbuat seperti ini. Di pulau Sumatra tempatku berasal. Harimau Sumatra yang dulu begitu banyak kini telah tak pernah aku lihat lagi. Mereka telah punah dan nasib kitapun bisa seperti mere…..”
Perkataan Betet terhenti oleh guncangan kapal secara tiba-tiba. Kapal oleng kesana-kemari terkena terjangan ombak. Air mulai masuk ke dalam kapal. Burung Rangkong berteriak-teriak keras memekakkan telinga. Kedua kakaktua kecil itu tampak panik. Kapal makin oleng dan air telah memenuhi lantai geladak kapal. Rangkong melengkingkan teriakan nyaring yang panjang tatkala ombak besar menerjang haluan kapal.
Kapal terbalik dan tenggelam masuk ke dalam air. Kandang besiku yang berat membuatku ikut tenggelam ke dasar. Kejadian demi kejadian melintas dibenakku. Maafkan aku Sera, aku tak bisa menyampaikan permintaan maafmu. Lulu, semoga kau tidak bernasib sepertiku. Samar-samar kudengar teriakan Tirena dari jauh tatkala kandang besi membawaku terdampar ke dasar.
“Tooooooolooooooong! Tolooooooonggg aku……!!”
Dan semuanya terasa gelap bagiku.
*sebuah cerpen dari blog saya yang terdahulu, sengaja saya pindahkan karena saya ingin agar tulisan saya tidak tercecer di blog lain.. blog saya yang terdahulu adalah meonmydreamworld.blogspot.com / antara aku pada dunia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s