Cerpen

Suatu hari, Ketika Ada Peri Penebar Tawa


Peri-peri pemetik airmata kewalahan. Gua tempat tinggal mereka kini penuh dengan suara tangisan yang keluar dari kristal-kristal airmata. Setiap hari peri-peri itu telah hilir mudik ke dunia manusia. Memetik airmata dengan cawan-cawan kecil mereka. Airmata itu akan mengkristal di dalam cawan, dan mereka membawanya pulang ke gua. Tapi kini tak pernah usai airmata mengalir dari dua sudut mata manusia.

Setiap hari manusia menangis. Ada yang merintih, terisak-isak, hingga yang melolong, dan menjerit-jerit. Suara tangisan mereka selalu terdengar pilu, menyayat hati, mencabik-cabik nurani. Apalagi kini kejahatan menjadi warna semesta. Bencana menimpa dimana-mana. Kadangkala ada lautan bergulung-gulung menghantam pesisir. Memporak-porandakan segala yang ada. Atau dari langit, tercurah panah-panah perak dengan dahsyatnya hingga akar-akar pohon yang tak seberapa itu tak sanggup menahannya. Pun di satu tempat lain, batu-batu dari perut bumi berlomba-lomba menunjukkan kuasanya.

Peri pemetik airmata pun sepakat. Mereka harus mencari peri penebar tawa. Gua mereka sudah nyaris tak sanggup meredam tangisan-tangisan yang keluar dari butir-butir kristal airmata.

“Tapi, dimana kita bisa menemukan peri penebar tawa? Bukankah ketika Tuhan menurunkan manusia dari surga tak menurunkan serta peri penebar tawa?”

Ya, peri-peri itu ingat, dulu Tuhan menurunkan manusia bersama peri pemetik airmata, tapi tidak bersama peri penebar tawa.

“Kita harus pergi ke surga. Kita harus menemukan peri penebar tawa. Kita minta Tuhan untuk menurunkan peri penebar tawa.”

Maka, keesokan harinya tiga peri pemetik airmata terbang ke surga. Surga itu sangat jauh. Sehari semalam mereka terbang menuju surga. Di surga, mereka melihat peri-peri penebar tawa berayun-ayun dari satu pohon ke pohon lain sambil bercanda. Beberapa peri bermain-main di tepi kolam besar yang penuh bunga teratai. Tawa mereka terdengar begitu riang gembira.

Peri-peri penebar tawa, sama seperti peri pemetik airmata, tingginya tak sampai satu meter. Mereka mahkluk-mahkluk kerdil seperti kurcaci. Kedua sayapnya seperti sayap capung, berwarna transparan. Mereka mengenakan mahkota-mahkota kecil dari bunga-bunga di atas kepalanya. Tapi, berbeda dengan peri-peri pemetik airmata, mereka mengenakan pakaian beraneka warna. Sepatunya gemerincing seperti lonceng dan tawa mereka riang gembira.

“Peri-peri penebar tawa, alangkah gembiranya kalian. Kalian harus turun ke dunia. Lihatlah di dunia, airmata manusia tak henti mengalir. Gua-gua kami penuh dengan tangisan menyayat hati dari kristal airmata mereka. Turunlah ke dunia, tebarkan tawa kalian di dunia…”, ucap peri-peri pemetik airmata.

“Katakanlah pada Tuhan, kami hanya mengikuti perintah Tuhan.”

Peri-peri pemetik airmata pun meminta pada malaikat agar dapat bertemu dengan Tuhan.

“Tuhan, turunkanlah peri penebar tawa. Tidakkah Engkau tahu, dunia kini telah penuh dengan airmata, suara tangisan yang menyayat setiap hari terdengar dimana-mana. Gua kmai nyaris tak mampu meredam tangisan mereka. Setiap hari kami hilir mudik memetik airmata mereka, namun mereka tak pernah usai meneteskan airmata. Turunkanlah peri penebar tawa, Tuhan…”

Tuhan diam. Hening. Peri-peri pemetik airmata gelisah.

“Belum tiba saatnya untuk manusia bertemu dengan peri penebar tawa.”, jawab Tuhan kemudian.

“Lantas kapankah akan tiba saatnya kau turunkan mereka, Tuhan?”

“Tidak ada, tidak ada saatnya peri penebar tawa diturunkan. Manusia akan menemukan sendiri peri penebar tawa di surga.”

“Di surga?”

“Ya, di surga.”

 

*kisah selengkapnya tentang peri pemetik airmata dapat dibaca di cerpen Pemetik Airmata karya Agus Noor dalam buku Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2009.

One thought on “Suatu hari, Ketika Ada Peri Penebar Tawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s