Catatan

Balok-Balok Kesuksesan Yang Terlupakan


Pernah mencoba permainan sungai buaya? Beberapa hari yang lalu saya mencobanya, dan menemukan sebuah pemaknaan tentangnya. Mungkin pemaknaan ini bisa berbeda-beda, tapi terlepas dari itu semua kiranya memang cukup menarik untuk kita renungkan bersama. Dalam permainan itu, kami diminta untuk menyeberang dari suatu garis start ke garis finish di seberang. Dalam menyeberang, kami harus menggunakan balok-balok kayu.

Namun, kami harus berhati-hati karena balok-balok kayu itu apabila tidak tersentuh oleh anggota badan kami, akan diambil oleh sang buaya. Kami pun menyeberang kelompok demi kelompok. Nah, apa yang terjadi ketika kami telah berhasil menyeberang semua ke garis finish? Tentu saja wajar, bahwa kami berteriak, ‘horre…!!’ataupun ‘kita berhasil…!!’ sambil berlari-lari atau melompat-lompat.

Tapi kami melupakan satu hal: balok-balok kayu.

Anggaplah –dengan penyederhanaan- apabila keberhasilan kami menyeberang ini adalah sebuah kesuksesan. Lantas, siapa yang berperan dalam kesuksesan kami? Tentu saja tak lepas dari balok-balok kayu itu. Tapi apa yang terjadi dengan balok-balok itu? Tragis, menyedihkan. Ditinggalkan begitu saja.

Maka, pernahkah kita suatu saat berpikir, apakah makna kesuksesan bagi kita? Terkadang, kita memaknai sukses terlalu individualistis, merasa bahwa kesuksesan yang kita raih adalah murni karena kerja keras kita. Padahal, apa yang kita dapatkan tentu bukan mutlak milik kita. Sebagaimana harta yang didalamnya tidak bisa lepas dari hak orang-orang miskin, kesuksesan kita pun tak mungkin bisa lepas dari peran serta orang-orang lain, baik secara langsung atau tidak langsung. Ingat siapa yang memasakkan kita sarapan setiap hari, mengirimi kita uang setiap bulan, para dosen yang mungkin tak kenal ampun memberi tugas, para pegawai perpustakaan, penjual makanan di kantin, sahabat-sahabat kita, serta sekian banyak orang lain yang lalu lalang dalam kehidupan kita.

Mungkin, hari ini, ketika kita tengah meniti jalan kesuksesan ini, kita bisa berkata, ‘janji, aku tak akan melupakan semua kebaikanmu’ atau ‘kesuksesan ini kesuksesan kita bersama’. Tapi manusia seringkali lupa ketika telah berada di atas, bukan? Yah, semoga kita bisa menjadi orang yang tidak seperti itu.

Sahabat, akankah besok ketika kita telah sukses, kita masih tetap akan mengingat mereka, balok-balok kesuksesan itu?

Maka, hari ini, mari kita ucapkan terimakasih pada semesta, pada alam raya, pada dunia… Mungkin kita ingin mengucapkan terimakasih pada Allah, pada ayah bunda, para dosen, sahabat-sahabat kita, juga pada mereka yang sering terlupakan: pada fotokopian, pada rentalan, pada petugas perpustakaan, pada tukang parkir, pada penjual makanan di kantin yang memadamkan kelaparan kita, atau pada siapapun juga… Ucapkanlah… Siapa tahu, esok kita sudah tak sempat mengucapkannya…

 

Terima kasih, dunia….!!! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s