Cahaya

MATA


“Mbak, dia itu ikhwan yang ngliatin aku pas kajian.” ucapnya padaku begitu kami keluar dari ruangan.

“Ikhwan yang mana?”

“Itu, yang tadi bicara sama mbak.” terang adik angkatan 2010 itu. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Aku masih ingat bener, waktu kajian ahad itu kan aku sama mbakku ke sini, terus aku liat dia, ikhwannya itu. Terus setengah ngetes gitu kan, mbak, aku liatin dia. Biasanya kalau ikhwan kalau diliatin kan malah nunduk. Dia itu nggak, aku liatin malah dia ganti liatin gitu. Aku kan jadi aneh, lho ini gimana…”, kisahnya. Aku tak mampu menahan tawa. Ah, ini adik gokil juga… Dasar, ada-ada aja…

Mendengar kisah adik itu, rasanya aku teringat diriku satu semester yang lalu. Awal-awal aku ikut bergabung di sebuah lembaga dakwah kampus. Sebagai orang yang tidak akrab dengan lingkungan semacam itu, rasanya menjadi agak aneh saja mengalami itu semua. Seolah-olah menginjakkan kaki di sebuah dunia baru yang penuh pesona. Ada beberapa culture shocking yang kurasakan; tentang hijab –termasuk pandangan mata-, tata cara pergaulan, kebiasaan-kebiasaan yang ada, serta bahasa -akhi, ukhti, antum- yang digunakan.

Bagiku, dunia ikhwan-akhwat selalu mempesona. Memberiku berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kadang jawabnya beraneka ragam. Meski bisa dimengerti sebenarnya, itu masalah sosial, bisa dipandang dari berbagai macam perspektif yang berbeda. Apalagi itu adalah sesuatu yang ‘hidup’, yang terus berkembang, sesuatu yang dinamis. Multiinterpretable. Dan tak jarang, berbagai bidang studi jadi ikut terlibat dalam diskusi tanpa pretensi.

Meski jujur, betapa damai dan menentramkan rasanya melihat ikhwan-ikhwan yang menundukkan pandangan atas lawan jenisnya. Terasa lebih menghargai, setidaknya menurutku…^^

***

Meyaksikan atau mengalami kejadian-kejadian semacam itu, barangkali adik-adik itu lantas jadi bertanya-tanya, ‘Mengapa dia tidak menundukkan pandangan sementara ikhwan-ikhwan lain menundukkan pandangan? Kapan boleh tidak menundukkan pandangan? Seberapa sih batasan-batasan itu semua?’ atau mungkin juga berbagai pertanyaan lainnya. Dulu tatkala masih awal-awal, sering kulontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil lalu. Meski kini pun masih sering, terdorong oleh rasa penasaran dan keisengan. Apalagi bila kemudian mendapati jawaban-jawaban yang ‘berbeda’, segala sesuatu menjadi terasa makin menarik.

Aku tak ingin mengemukakan dalil-dalil, karena rasanya aku belum paham benar tentang dalil-dalil itu. Bahkan mungkin, anda jauh lebih paham. Yang aku ingat, hanya sebuah surat dalam Al-Qur’an, QS An-Nur:30-31. Silakan anda baca dan pahami sendiri.

Tapi kukira dua jawaban dari kawan ini dapat menjawab. Seorang kawan suatu hari menjawab, ‘Itu sih tergantung keperluan…kalau memang perlu memandang langsung ya memandang langsung aja, yang penting memandang itu nggak pakai syahwat.’ Dan seorang kawan lain menandaskan, ‘Intinya kita harus menjaga hijab dimanapun kita berada.’

Namun, bila semua itu tengah melintas di benak, selalu saja membuatku terpikir, ‘Ah, itu penting gak sih? Bukankah masih ada masalah lain yang jauh lebih besar yang perlu dipikirkan? Masih ada banyak hal yang harus kita lakukan untuk memperbaiki bangsa ini, misalnya. Dan itu kiranya jauh lebih penting daripada hanya soal mata. Jadi, buat apa?’ Dan -meski tak sepenuhnya benar- pertanyaan (retoris) itu pula yang akhirnya menghentikan setiap pembicaraan di otakku terkait ‘mata’ ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s