Saya membaca...

SAKSIKAN BAHWA AKU SEORANG MUSLIM


:EMAIL UNTUK SEORANG KAWAN

Assalamu’alaikum…

Apa kabar kawand? ^^

Ketika tengah membuka yahoomail, hari ini tiba-tiba saya teringat akan janji saya, ‘besok saya tanya via email aja ya…’, demikian kurang lebihnya. Maka, tulisan ini sedianya pun ingin saya kirim ke email anda. Namun, sejenak melintas di benak saya, rasanya akan lebih berarti bila saya bisa meng-share-kan tulisan ini pada semua orang, siapapun juga. Dan jadilah tulisan ini tergurat di blog sederhana saya.

(tapi) Apa yang harus saya tanyakan ?

Saking banyaknya pertanyaan yang melesak-lesak di benak saya, saya justru bingung apa yang harus saya tanyakan terlebih dahulu…

***

Sejak membuka-buka daftar isi, terlihat benar bahwa buku ini tampaknya memang dibuat secara sistematis. Diawali dengan membahas masalah-masalah aqidah, individu-individu, lantas bertambah menjadi bahasan mengenai keluarga, masyarakat, dan akhirnya negara serta khilafah. Atau yang dalam konsep maraatibul ‘amal-nya Hasan Al Banna dimulai dari apa itu yang disebut ishlahun nafs (perbaikan diri) hingga kepada ustadziyatul ‘alaam (guru semesta), seperti yang diungkapkan sendiri oleh Salim A. Fillah dalam epilog.

Membaca buku ini, setidaknya ada tiga hal yang saya rasakan, yaitu

1. Saya merasa bukan apa-apa, belum apa-apa.! Betapa banyak yang tidak saya tahu…entah berapa kali saja saya bilang, “Oh, jadi gitu…” Tapi itu semakin membuat saya merasa, ‘Wah, saya benar-benar harus belajar lebih banyak hal lagi nih…’

2. Buku ini dalam beberapa hal benar-benar menohok! Menohok dengan cara yang sangat manis dan elegan…membuat saya merenungkan kembali apa-apa yang telah saya lakukan, dan juga saya pikirkan…sepertinya banyak yang harus saya koreksi… Lantas saya jadi teringat kata Franz Kafka, pengarang asal Ceko, “Kalau buku yang kita baca itu tidak menyadarkan kita, seolah-olah kita ditampar di muka, guna apa kita membacanya?” Sepakat banget dengan Franz Kafka, saya kali ini…

3. (jangan tertawa ya…janji!) Membaca bagian keempat buku ini, Menenun Jalinan Cinta, membuat saya mau tak mau memikirkan satu hal. Yupz, pernikahan. (ini beneran…jangan ketawa.!) Satu hal yang selama ini saya sisihkan dengan berbagai macam alasan. Saya kan masih 18 tahun, saya kan masih kuliah, saya kan belum siap, dan bla bla bla… Saya pikir, mau tidak mau, toh akhirnya kita juga harus memikirkan hal itu…mengapa harus sok-sokan sekarang menolak memikirkannya sih?

Banyak hal yang saya amini dari pendapat-pendapat Salim A. Fillah, tapi dalam beberapa hal ada pula yang saya masih kurang bisa sepakat. Mungkin karena saya belum paham kali ya…

Salah satunya pendapat yang ia kemukakan pada halaman 38 berikut ini.

“…Jadi ingat judul buku SGA, Ketika Pres Dibungkam, Sastra Harus Bicara.

Tetapi apa yang dibicarakan sastra? Jika pornografi adalah seni, zina adalah pembuktian cinta, khamr adalah obat, dan negara tak berhak mengatur moral warganya, maka seperti ADL, ini hanya akan menjadi kuasa wacana sang tiran pada sisi tumpu lain.”

Melihat penggalan di atas, saya menangkap kesan bahwa Salim menganggap sastra sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh kurang baik. Meski memang, banyak sastra yang berkisah tentang sesuatu yang secara vulgar, banyak menampilkan sisi-sisi kehidupan yang kelam, atau bahkan juga menimbulkan kontroversi moral di antara masyarakat. Tapi, rasanya juga tak kalah banyak sastra yang berbicara tentang sesuatu yang bernuansa islami dan mencerahkan.

Padahal, Salim sendiri menyatakan betapa besarnya sumbangan kebudayaan dan sastra terhadap dunia ilmu pengetahuan. Paradigma yang ada di Indonesia sebenarnya memang cenderung memisahkan seni dan budaya dari ilmu pengetahuan pada umumnya. Namun, tentu saja keduanya mesti saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Pada halaman 331, Salim mengatakan, “Ternyata, untuk menjadi sebuah peradaban, setiap proyek pemikiran harus disupport oleh proyek budaya.”

Beliau pun memberi contoh-contoh pada halaman-halaman selanjutnya, misalnya ia mencontohkan bagaimana lagu Aisyah Adinda Kita dari Bimbo dan Lautan Jilbab-nya Emha Ainun Najib menjadi penyulut semangat jilbab.  Dan juga mengapa pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah tidak populer padahal begitu cerdas. Salim juga menyitir kata Ustadz Musyaffa ‘Abdurrahim dalam Membangun Ruh Baru, “Karena Ibnu Taimiyah tidak didukung oleh para penyiar!” Juga tentang kasus Omar Al Khayyam sang ahli matematika dan astronom brilian namun justru terkenal dengan Ruba’iyyat, kumpulan puisi empatan.

Sudah lelahkah? Sabar, kawand… Saya tidak akan terlalu panjang lebar kok…

Seorang teman saya pernah berkomentar ketika membaca buku-buku Salim, katanya,”Salim tu jatuh cinta tiap hari kali ya… kata-katanya puitis banget.!” Dan saya sepakat, Salim memiliki gaya bahasa yang indah, kata-katanya meliuk-liuk, menari-nari, mencipta harmoni. Meski Struktur bahasanya –menurut standar struktur bahasa Indonesia- harus saya katakan dengan terpaksa, kacau.! Tapi, kekacauannya itu justru memberi keluwesan dan kelincahan, memperkuat unsur kepuitisannya.

Oya, teman saya, seorang Nasrani, penasaran melihat saya membaca buku ini. Maka, saya pun izinkan saja dia coba membaca. Ia baru menyelesaikan beberapa bab pertama ketika mengembalikan buku itu pada saya. Apa komentarnya ? “Stereotipe!”, katanya tandas. “Kok stereotipe, maksudnya?”, tanya saya. “Iya, tentang Yahudi-Yahudi…stereotipe, kayak buku-buku Islam yang lain,” katanya seraya mengalihkan topik pembicaraan pada tugas kuliah.

Tapi saya maklum, karena ia baru menyelesaikan beberapa bab pertama…

Wow…tanpa saya sadari email ini sudah terlampau panjang ternyata…padahal rasanya masih begitu banyak yang berdesakan di otak saya…tapi kiranya memang tak semua harus dikatakan, harus dipertanyakan, harus diceritakan… Semoga menit-menit yang telah tersita ini tak sia-sia ya…

Ini sekedar share aja sih…terimakasih atas rekomendasi bukunya, enlightening.!

Ada buku lain yang ingin anda rekomendasikan ? Saya tunggu…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s