Cerpen

KREA


Beri kepercayaan kepada mereka, dan mereka akan mempercayaimu; perlakukan mereka dengan baik, dan mereka akan memperlihatkan kebaikannya.

-Ralph Waldo Emerson-

Dalam sebuah ruangan wakasek di sebuah SMA terkemuka di satu sudut kota Yogyakarta, dua orang wanita duduk berhadapan. Seorang yang berseragam dinas tampak marah dan putus asa. Di depannya duduk tenang seorang wanita dengan make up sedemikian tebal dan cincin menghiasi jari-jarinya. Terlalu glamour, dan tak cantik.

“Maaf Bu, kami pihak sekolah benar-benar sudah tidak tahu lagi bagaimana harus memperlakukan anak ibu. Dia benar-benar aneh. Semua guru BP disini tak ada yang bisa membuatnya buka mulut. Tiga hari yang lalu dia mengunci tiga orang temannya di UKS sampai bel pulang sekolah. Itu pun kalau tidak ada saya yang kebetulan akan mengambil kotak P3K, mereka nyaris terkunci seharian. Kami merasa kalau tindakan anak Ibu bisa membahayakan siswa di sini. Dia sangat tertutup, Bu. Di kelas dia duduk sendirian, setiap jam istirahat dia selalu menyendiri di pojok perpustakaan. Tindakannya seringkali spontan dan tak terduga.”, terang sang wanita berseragam dinas panjang lebar.

“Sebenarnya dia anak yang cerdas, namun… Yah, Ibu tahu sendiri. Dia aneh. Saya rasa ada baiknya kalau ibu bawa dia ke psikiater.”, lanjutnya.

Wanita di hadapannya diam. Menatap mata sang wakasek begitu lama sebelum akhirnya beranjak pergi setelah berjabat tangan dan berkata singkat, terima kasih.

Lima belas tahun yang lalu, dalam sebuah senja yang merah, wanita itu pernah meletakkan sebuah kardus mie di depan pintu TPA bersama pacarnya, seorang mahasiswa teknik semester V. Keduanya menatap lama kardus itu sendu. Wanita itu pun terisak-isak dan menghambur ke dalam pelukan pacarnya. Semua ini terjadi karena sebuah kesalahan kecil mereka malam itu, awal November sembilan bulan yang lalu.

Setelah wanita itu menikah dengan pacarnya tiga tahun kemudian, ia teringat kembali akan anak dalam bungkusan kardus mie yang dibuangnya beberapa tahun silam. Maka, disuruhnya beberapa orang untuk mencari. Dan baru 10 tahun kemudian, seorang anak bernama Krea ditemukan oleh orang-orangnya di sebuah kompleks pelacuran. Setelah menjalani berbagai macam tes, diketahuinya bahwa Krea, anak sang pelacur bernama Lusi itu adalah anak mereka. Sungguh tak dinyana.

“Mam.!” Wanita itu terlonjak kaget dari sofa. Tangannya mendekap dada. Krea terkikik.

“Krea! Diam!”, teriak wanita itu. Meradang.

“Cepat masuk kamar dan ganti baju. Darimana saja kamu ini jam segini baru pulang?!”, telunjuknya mengarah ke pintu. Krea memandangnya sengit.

Cuihh.! Krea meludah. Tersenyum sinis. Lalu pergi. Wanita itu menekan dada. Mukanya merah marah. Menyesal rasanya mengapa ia dulu harus susah payah mencari anaknya yang ternyata kurang ajar itu.

Mobil itu masih terus melaju dengan kecepatan tinggi. Empat buah cincin yang bertengger di jemarinya berkilauan tertimpa cahaya matahari yang menyusup lewat jendela kaca. Krea menatap keluar lewat jendela yang terbuka. Kerutan di dahinya makin bertambah. Matanya membaca tiap papan nama toko dan jalan yang menghiasi tepi jalan. Berlari-lari mengikuti laju mobil.

“Mam, kita mau kemana lagi sih?”, tanya Krea. Wanita itu diam.

“Mam ?’, ulang Krea. Wanita itu diam tak bergeming.

“Mama !!”, bentak Krea keras. Sengit. Wanita itu memandangnya sekilas.

“Psikiater.”, kata Mama singkat tanpa memandang Krea. Wajah Krea merah. Marah.

“Apa ?! Psikiater ??”

“Ya, kamu harus ke psikiater, Krea. Kemarin Mama dipanggil ke sekolah gara-gara ulah kamu yang aneh itu. Kamu harus bisa berubah. Mama malu kalau kamu terus bertingkah gila seperti itu!”

“Ini pasti pengaruh perempuan berbisa, wakil kepala sekolah gila itu kan ?!”

“Ini bukan pengaruh siapapun ,Krea.”

“Huh, bullshit!! Semua orang bilang Krea aneh, Krea aneh, Krea aneh dan terus saja seperti itu… Tapi mereka yang aneh, Mam! Mereka itu orang-orang kaya yang…gila. Mereka tak pernah menganggap Krea ini ada. Mereka sesuka hati menghina Krea. Mereka tak pernah peduli pada Krea. Mereka…” Krea diam sejenak.

“Mama tahu, kemarin Krea bantuin mereka piket kelas. Krea bantu Ana dan Lia nyapu lantai. Tapi Ana sinting itu bilang sama teman-teman, teriak di depan kelas, ‘Kapan mau selesai kalau yang nyapu cuma dua orang. Bantuin dong.!’ Terus mereka pikir Krea ini apa ?! Ngapain ?! Apa itu tidak aneh ? Mereka buta !!” Krea membuang muka ke arah jendela, menatap kosong pada deretan toko-toko. Matanya berkaca-kaca.

“Ok, Krea. Mama tahu. Tapi kamu tetap harus ke psikiater! Mama nggak mau kalau orang-orang pada ngomongin keanehan kamu itu lagi. Mama malu mendengarnya, Krea. Mama malu!”

“Kalau Mama malu sama Krea, mendingan Krea balik ke rumah Mama Lusi. Mama Lusi nggak pernah malu punya anak seperti Krea! Lagian Mama pikir Krea senang apa tinggal di sini sama Mama ?! Sama sekali nggak! Krea nggak butuh sekolah di tempat mahal, punya rumah mewah, punya mobil… Krea nggak butuh!!”

“Sudah Krea !! Diiaaamm.!” Wanita itu meradang. Krea memberengut kesal.
Kecemburuan, kegetiran, dan kebencian penuh menyesaki dadanya.

Jujur saja, Krea lebih suka tinggal di rumah Mama Lusi. Biarpun orang bilang itu tempat yang hina, tapi Krea justru merasa bahagia di sana. Ia tak akan bertemu dengan orang-orang yang selalu menganggapnya aneh. Setidaknya orang-orang itu lebih bisa menerima Krea.

Hawa dingin AC langsung meruap tatkala Krea masuk ke ruangan konsultasi sang psikiater. Sementara di luar, wanita itu menunggu bersama seorang pria paruh baya yang selalu terlihat gelisah. Matanya tak lepas menatap punggung anaknya masuk hingga ke ruang sang psikiater dengan lega.

Seraut wajah tampan yang begitu mempesona menabrak pandang mata kemarahan Krea. Mata itu begitu tenang, tapi menyala hangat serupa pendar api lilin. Segaris kumis tipis melintang di atas bibirnya yang merekahkan senyum simpati. Krea terpukau sesaat. Lalu tersenyum sinis. Sayang, laki-laki seganteng ini kok jadi psikiater. Kalau jadi model atau artis sepertinya akan lebih pantas. Bah, tapi seganteng apapun dia, dia tetap tak akan bisa memaksaku melakukan apapun. Juga berkata apapun.

Krea menyeret kursi ke belakang. Duduk dengan memperlihatkan sikap manusia terhormat. Mukanya menatap dinding samping ruangan konsultasi sang psikiater. Dingin. Lelaki di depannya tersenyum.

“Halo Krea. Kenalkan, saya Ebin.”, ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Krea menatapnya dengan senyum sinis seolah berkata, Siapapun kamu, apa peduliku!

“Ehm, saya senang bisa ngobrol sama Krea… Yah, terserah Krea… Krea ingin cerita apa saja, saya pasti akan dengarkan kok. Oh ya, Krea bisa panggil saya Ebin, pak Ebin, mas Ebin, Om Ebin, atau…terserah Krea… Asal jangan Opa Ebin saja…hahaha… Soalnya saya…”

“Diam!!”

Krea membentak dingin. Memotong ucapan sang psikiater yang mencoba bersahabat. Kalimat sang psikiater terputus. Usahanya untuk bercanda tak berarti.

“Nggak usah kenalan saya juga sudah tahu kalau nama kamu Ebin! Kamu pikir saya nggak bisa baca apa?! Nama kamu itu sudah ditulis besar di papan depan rumah kamu ini, tahu ?! Dan saya juga bukan anak kecil yang tidak tahu bagaimana cara memanggil orang!”

dr. Epin kaget. Sejenak terkesima. Ada gurat ketakutan dalam matanya yang hitam tenang itu. Jarang ada pasienyang sedemikian berani membentaknya bahkan saat konsultasi belum lagi berjalan. Biasanya mereka justru ketakutan, atau kalaupun marah, mereka memang sudah marah-marah dari awal. Tapi anak ini lain, ia tenang, diam, dingin, dan tiba-tiba ‘menerkam’.

Mulut dr. Ebin membuka hendak mengatakan sesuatu. Tapi Krea buru-buru melanjutkan perkataannya. “Dokter, saya akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini. Saya rasa anda bisa kan pergi sebentar bersama saya dan saya akan ceritakan semua masalah saya ?” Tatapan Krea menembus mata jernih sang psikiater. Antara sadar dan tidak sadar, dr. Ebin mengangguk. Begitu cepatnya Krea berhasil menguasai alam pikiran psikiater muda itu. Senyum Krea mengembang.

Mobil Mama masih terus melaju membelah keramaian. Mama terheran-heran tadi mendengar keinginan Krea. Tapi tak urung, ia mengangguk-anggukkan kepala. Entah sudah berapa kilometer Krea menjalankan mobilnya. Di kanan kirinya kini muncul berderet-deret pohon salak. Krea masih terus mengurai berjuta pikiran di benaknya. Setelah ke sini, apa yang akan kulakukan ? dr. Ebin pun tak kalah gelisah. Sesekali dipandanginya Krea yang tak mengalihakn matanya dari kemudi. Pohon-pohon salak kini berganti dengan tanah-tanah kosong padang ilalang. Beberapa jenis tanaman menyembul di antara lahan-lahan kosong. Semak-semak rimbun tak teratur di sana sini.

“Kita mau kemana, Krea?” dr. Ebin tak sanggup lagi menahan pertanyaan yang terus menggelisahkannya. Krea diam tak bergeming.

Mobil akhirnya berhenti di sebuah lahan kosong. Di kanan kirinya jurang terjal menganga. Puncak Merapi begitu tampak kokoh berdiri. dr. Ebin memandang bergidik, sekaligus takjub. Krea menggerakkan tangannya, memberi isyarat dr. Ebin untuk mengikutinya. Di samping tumbuhan perdu dalam naungan lebat mahoni, Krea berhenti. Meluruskan kaki, bersandar pada batang mahoni.

“Untuk apa ke sini, Krea ?”

Krea menangkap getar ketakutan dalam suaranya. dr. Ebin berdiri memandang jurang yang curam itu getir. Nyalinya menciut, ngeri. Krea berdiri, melangkah mendekati. Berdiri dengan kedua tangan tersembunyi dalam saku jeansnya. Memandang sekilas mata sang psikiater. dr. Ebin menatapnya bingung.

“Apa yang akan Krea ceritakan di sini, Sayang ?”

“Aku akan bercerita tentaanngg …”

“Kematiiaaann..!!!” pekik Krea. Tepat saat itu, sebilah belati keluar dari saku Krea, menembus jantung sang psikiater. Darah segar mengucur. dr. Ebin meraung panjang. Matanya membeliak lebar.

“Krr…Kkrr…Krreee…”, ucapannya tak mampu terselesaikan. Tangannya berusaha meraih Krea, sebelum akhirnya tergeletak tak berdaya di atas rumput kering.

“Sayang sekali dokter yang tampan, andai kau tak jadi psikiater, usiamu mungkin tak akan sependek ini. Para manusia pengusik harus dienyahkan. Aku benci orang-orang yang suka ikut campur seperti kau !”

Krea menendang tubuh tak berdaya itu. Jasadnya terguling, jatuh menggelinding ke tebing terjal. Lalu hilang tak tampak di jangkauan matanya, jatuh dalam dasar ngarai yang tak terukur kedalamannya.

Hilang.

Krea tersenyum puas. Dipandanginya mulut tebing yang telah menelan satu nyawa di hari sepanas itu, dalam waktu sesingkat itu.

Terlintas dalam benaknya, kalau Mama nanti bertanya kemana dr. Ebin pergi, Krea akan menjawabnya dengan: dr. Ebin sudah beristirahat dengan tenang di rumah-Nya.

*sebuah cerpen dari masa SMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s