Catatan

Nyanyian Kesunyian: Sebuah catatan tour de Plampang II Kalirejo, Kokap


Apalah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apalah artinya berfikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

W.S. Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong

Tanjakan dan turunan tak henti-henti. Abu merapi masih menutup dedaunan, menyelimuti batang-batang serta tanah dan jalanan. Satu tanjakan habis, susul menyusul tanjakan lain di depan. Yang dapat kami lihat hanya deretan pegunungan Menoreh yang membujur panjang berbaris dari utara ke selatan. Pohon-pohon pinus di kanan kiri jalan. Pohon jati selang menyelang. Tanah yang putih kelabu serupa Eropa di musim salju. Tapi bukan salju, abu. Negatif tidak!, simpul kami tanpa perlu diskusi.

Kami meneruskan perjalanan sementara pikiran kami telah melayang pulang. 5 km lagi menuju Kalirejo. 8 km lagi menuju Plampang II. Dan entah berapa kilometer lagi sampai Jogja. Padahal, kami telah melalui berpuluh-puluh kilometer, dengan tanjakan dan turunan yang tak henti-henti. Alam masih begitu perawan. Batu-batu besar satu dua terlihat di kanan kiri jalan. Tebing-tebing yang tak terlihat curam sebab tertutup pepohonan. Kondisi geografis yang menawan.

Lantas terpikir olehku, andai ada seorang jenius terlahir di tempat ini, dan dunia sampai tahu akan kejeniusannya, tentu ialah jenius luar biasa. Pejuang hidup: jenius sejati sekaligus survival handal. Sebab, begitu banyak jenius negeri ini yang layu sebelum sebelum sempat mekar, yang mati sebelum sempat berbuah. Dan itu juga tak jarang karena faktor lingkungan, karena kondisi geografis.

Ketika akhirnya kami sampai di desa sunyi itu, sang bapak dukuh telah menanti kami di pertigaan pertama desa. Lelaki itu, lelaki berkuncir bernama Lono, menyambut kami dengan ramah. Ia mengajak kami menuju masjid desa, memperkenalkan kami pada realita. Penduduk desa itu ada sekitar 160 KK, dan 154 diantaranya adalah penerima raskin dan BLT. Secara keseluruhan, 600 lebih jiwa hidup di desa itu, dan beberapa merantau. Jalan menuju masjid desa pun tak kalah menakjubkannya: tanjakan ekstrim, turunan curam serta jalan rusak.

lambaian-lambaian sunyi

langit kelabu abadi

adalah kehidupan hari ini

Linus Suryadi dalam Lambaian-Lambaian Sunyi

Masjid itu baru berdiri. Belum lagi rampung proses pembangunannya. Belum ada tempat wudhu, belum ada kamar mandi, dan masih terlihat berdiri seadanya. Tatkala kami tiba, abu merapi begitu penuh menutup lantainya. Pertanda masjid ini tak dipakai sholat fardhu, yang dibenarkan oleh sang dukuh. Jangankan sholat fardhu, ketika kami tiba di sana, waktu asar, tak kami dapati ada orang adzan di sana.

Atas inisiasi sang dukuh, tahun 2004, pembangunan masjid mulai menjadi wacana. Kemudian tahun 2009 lalu, masjid itu mendapatkan dana cukup lumayan dari para caleg hingga pembangunan dapat berjalan. Sang Bupati, melakukan peletakan batu pertama kala itu. Kemudian, pembangunan terhenti karena dana pula. Hutang atas material-material membengkak. Beruntung beberapa donatur tak urung menyisihkan rupiahnya. Pun pak camat dan para takmir masjid se-Kokap ikut serta. Kini, masjid telah berdiri seadanya, meski tanpa sarana prasarana yang memadai.

Ketika masjid berdiri pun, yang tak kalah berat tentu saja mengumpulkan jama’ah. Gotong royong yang kuat antar warga, rupanya belum terjadi dalam bidang agama. Jama’ah sholat Jum’at paling banyak 30 orang, atau 3 shaf. Kami melihat papan pengumuman, dan terbaca oleh kami tulisan dengan kapur putih ‘Jumat Pahing, Rp 11.000’. Menyakitkan.

Mengingat itu semua, rasanya menjadi begitu nikmat merasakan sholat di mushola fakultas yang sempit dan kadang harus antre. Pun menjadi tak cukup lagi alasan untuk mempermasalahkan kran yang kadang rusak. Atau bila mengingat berapa banyak jumlah shaf sholat di maskam, mengingat berapa banyak uang infaq yang terkumpul setiap sholat Jum’at. Dan tidak bisa tidak, kami menelan ucapan kami. Simpul kami yang tadinya ‘Negatif, tidak.!’ untuk qurban Idul Adha di tempat ini berubah menjadi ‘Positif, ya.!’

Tapi, semoga saja kita bukan hanya sekedar manusia perasa yang lekas terharu seperti kata Subagio Sastrowardoyo dalam Keharuan. Karena, sekedar rasa kasihan hanyalah sebentuk kemewahan…

Rahmat ini berderai-derai

Tuhan, Tuhanku

Besar benar kemurahan-Mu…!

Aoh Kartahadimadja, Panca Raya

*Terima kasih untuk rekan-rekan KMIB FIB UGM, mbak Rima Amalia, Rei, pak Iwan, dan pak Aji yang telah bersama-sama menempuh perjalanan mengesankan ini. Juga bapak dukuh desa Plampang II, Kalirejo, Kokap Kulon Progo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s