Sastra

Aliran Modernisme dan Postmodernisme dalam SSI


300px-Mauer-betlehem
Karya-karya sastra Indonesia mengalami perkembangan yang luar biasa dengan munculnya pengaruh modernisme dan post modernisme. Definisi modernisme sendiri secara pasti sulit untuk ditemukan, dalam beberapa sumber hanya dikatakan bahwa modernisme ialah konsep yang berhubungan dengan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya di zaman modern (http://id.wikipedia.org/wiki/Modernisme). Setiap gerakan atau aliran pemikiran pada dasarnya adalah reaksi terhadap aliran sebelumnya. Demikian pula postmodernisme, postmodernisme dapat dikatakan sebagai bentuk kontinuitas, penyempurnaan dari bentuk pemikiran sebelumnya, yaitu modernisme.
Modernisme di Indonesia sendiri bermula dari kaum pergerakan atau awal mula pergerakan nasional. Dalam kaitannya dengan sastra Indonesia, perkembangan sastra modern diawali dengan terbitnya lewat novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Karya-karya awal yang mengandung unsur modernisme juga dapat kita lihat misalnya dalam Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana dan Belenggu karangan Armijn Pane.
Novel pertama berbicara tentang emansipasi perempuan dengan tokohnya Tuti, Maria, dan Yusuf, sedangkan novel kedua mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga Tono, Tini, dan Yah dengan segala problematikanya. Layar Terkembang mengangkat tentang berbagai masalah wanita Indonesia, perlunya kesadaran wanita dalam memperjuangkan kesetaraan gender, serta banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang perbenturan kebudayaan barat dan kebudayaan timur. Meski, ada kecenderungan bahwa ajakan modernitas STA dalam Layar Terkembang cenderung bersifat slogan, sedangkan konsep modernisme Armijn Pane dalam Belenggu lebih merupakan pemaknaan.
Sutan Takdir Alisjahbana adalah tokoh modernisme terpenting pada masa Pujangga Baru. Modernisme, Universalisme, serta Humanisme memang menjadi mainstream pemikiran saat itu, hingga kemudian dimulailah proyek modernisme di Indonesia baik oleh para pemimpin bangsa maupun para sastrawan Indonesia. Bagi STA, modernisme adalah tujuan utama yang harus direalisasikan dalam karya sastra untuk kemajuan zaman. Sastra harusnya menyuarakan semangat zaman dan melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan semangat modernisme. Novel semacam Belenggu hanya akan meruntuhkan modernisme yang hendak dibangun karena hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Baginya, novel semacam Layar Terkembang yang akan menjadi agen perubahan bagi masyarakatnya, akan mempercepat terjadinya modernisme di Indonesia. Lebih jauh lagi STA bahkan berpendapat bahwa perjuangan untuk memenangkan modernisme dalam sastra jauh lebih penting daripada nilai sastranya sendiri.
Pemahaman para sastrawan Indonesia mengenai modernisme ini sendiri telah memunculkan dua buah mazhab sastra yakni sastra universalisme, dengan tokoh-tokohnya STA, Chairil Anwar dan Armiyn Pane, dan sastra yang bersumber dari tradisi, dengan tokohnya Ajip Rosidi dan WS Rendra. Meski, dalam satu mahzab itu pun sebenarnya para tokohnya juga tidak memiliki pemahaman yang sepenuhnya sama, misal antara STA dan Armiyn Pane, juga Ajip Rosidi dan WS Rendra. Namun, yang sering tidak terbaca oleh sejarah kesusastraan Indonesia adalah sebuah aliran lain, kutub yang ketiga dalam sastra Indonesia. Kutub inilah yang merupakan awal mula pelopor realisme sosial seperti yang terlihat dalam esai-esai A.S. Dharta.
Ciri umum modernisme adalah berfikir secara positivistik atau absolut, mengutamakan universalitas nilai, memandang kebenaran bersifat tunggal, semua dipandang dengan oposisi biner, -ada benar salah-, serta pemaknaan terhadap sesuatu yang cenderung merupakan dalil baku. Dalam sastra Indonesia, karya sastra yang bercorak modern biasanya bersifat universal, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Hal ini erat kaitannya dengan asas Pujangga Baru, yaitu humanisme universal. Persoalan yang diangkat dalam karya sastra adalah persoalan semua orang kapanpun dan dimanapun. Selain itu, karya sastra bercorak modern juga memiliki ciri-ciri antara lain dapat melepaskan diri dari konteksnya, menghadirkan realisme sederhana, serta menggambarkan realitas dengan jelas dan terukur.
Postmodernisme sebagai bentuk reaksi atas modernisme berfikir secara lebih bebas. Postmodernisme mengutamakan pluralisme, menghargai pemaknaan yang bersifat multitafsir dan menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang relatif. Karya sastra bercorak modernisme merujuk kembali pada pola-pola berfikir pramodern, misalnya kebijaksanaan kuno, metafisika dunia timur, dan semacamnya. Ia merupakan bentuk koreksi terhadap tesis-tesis modernisme, salah satunya terkait penyangkalan terhadap kebenaran mutlak.
Corak postmodern di Indonesia muncul setelah berakhirnya angkatan Chairil Anwar atau angkatan ’45. Kemunculannya berkaitan dengan depolitisasi karya sastra yang terjadi pada masa Orde Baru. Depolitisasi sastra tersebut telah menyebabkan pengebirian terhadap karya sastra, karya sastra yang muncul menjadi tidak sesuai dengan realitas sosial politik yang tengah berlangsung. Adanya depolitisasi tersebut membuat para sastrawan lantas mencari bentuk penceritaan yang berbeda, tidak lagi menggunakan realisme sederhana seperti dalam karya sastra bercorak modernisme tetapi menggunakan berbagai simbol yang kompleks. Para pengarang mengangkat masalah-masalah daerah untuk menggambarkan keadaan yang terjadi di pusat. Misalnya, peristiwa yang menimpa Srinthil di desa Paruk seperti yang digambarkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari pada dasarnya adalah penggambaran terhadap realitas yang terjadi di pusat pasca G 30 S/PKI.
Salah satu pengaruh aliran postmodern adalah timbulnya aspek lokalitas yang kental dalam karya sastra. Hal itu terlihat dalam karya-karya Umar Kayam, Linus Suryadi, Y.B. Mangunwijaya, Ahmad Tohari, Ajip Rosidi, dan Korrie Layun Rampan. Selain itu, postmodernisme juga mempengaruhi munculnya karya-karya yang bersifat antireal, realitas yang digambarkan pun nisbi dan imajiner seperti dalam karya-karya Putu Wijaya, dan Danarto. Sekedar menyebut beberapa karya bercorak postmodern ini antara lain, Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Merahnya Merah dan Ziarah (Iwan Simatupang), Durga Umayi (Y. B. Mangunwijaya), Kalatidha dan Sepotong Senja untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma), dan Godlob (Danarto).
Daftar Pustaka
Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastra:dari Strukturalisme Genetik sampai Post Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta:Pustaka Jaya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Modernisme diakses pada tanggal 3 Januari 2011 pukul 13. 38.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s